Error message

Deprecated function: The each() function is deprecated. This message will be suppressed on further calls in menu_set_active_trail() (line 2394 of /var/www/arsip.kemenkopmk.go.id/includes/menu.inc).
Oleh humaspmk on October 01, 2014

Jakarta, 1 Oktober  - Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin selaku Amirul Hajj (Ketua Misi Haji) Indonesia meminta petugas haji untuk memberikan yang terbaik bagi jamaah haji, menjelang wukuf (puncak haji) yang tinggal tiga hari lagi.

"Berikan yang terbaik dari yang dimiliki sesuai dengan bidang dan tanggung jawab kepada jamaah haji," kata Menag saat memberi sambutan pada acara Taaruf (perkenalan) Menteri Agama dengan petugas Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH), Selasa (30/9/2014) di Makkah.

Acara ini antara lain dihadiri Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umroh Kemenag Abdul Djamil, Dubes RI untuk Arab Saudi M Fachir‎, Irjen Kemenag M Yasin, Konjen RI di Jeddah Dharmakirti Syailendra, perwakilan DPD RI, KPHI, jajaran Kemenag, dan sekitar petugas haji Indonesia di Arab Saudi.

Menag mengatakan petugas haji merupakan orang-orang pilihan yang mendapat kepercayaan dan amanah. "Tidak semua orang mendapatkan kepercayaan ini," katanya.

Untuk itu, Menag meminta para petugas harus memaknai kepercayaan itu sebagai kehormatan dan melaksanakannya dengan baik. Petugas haji, katanya, harus memberikan perlindungan, pelayanan dan pembinaan ibadah haji.

Pada kesempatan itu, Menag juga meminta agar seluruh petugas haji, terutama pembimbing haji, memberikan pemahaman kepada jamaah bahwa hakekat haji adalah wukuf di Arafah. Wukuf akan dilaksanakan pada 3 Oktober dan jamaah haji sudah bergerak ke Padang Arafah sejak 2 Oktober.

Untuk itu, petugas memberikan pengertian agar jamaah benar-benar menyiapkan diri menghadapi wukuf yang cukup berat.  Pelaksanaan ibadah wukuf ini adalah dengan berdiam diri dan berdoa di padang luas di sebelah timur luar kota Makkah. Setelah wukuf, lebih dari dua juta umat Islam akan bermalam di Muzdalifah dan melempar jumrah di Mina.

Menag berharap jamaah mengurangi ibadah sunah yang bisa menguras tenaga. "Saya denga ada kelompok bimbingan ibadah yang melakukan umroh sampai tujuh kali," katanya.

Lukman Hakim tidak melarang seseorang melakukan ibadah. Namun, katanya, perlu pula dipikirkan kondisi fisik.

Tidak memfasilitasi jamaah haji tarwiyah

Dalam kesempatan tersebut,Mentei Agama Lukman Hakim Saifuddin juga mengatakan bahwa pemerintah tidak memfasilitasi jamaah haji yang akan melakukan tarwiyah atau bermalam di Mina sebelum melaksanakan wukuf (puncak haji) di Padang Arafah.

"Banyak pertimbangan, sistem penyelenggaraan haji pemerintah Indonesia secara resminya tidak memfasilitasi pelayanan terhadap amaliah tarwiyah ini," tegas Menag.  
Lukman mengakui bahwa melaksanakan tarwiyah adalah sunah Rasul, namun dalam sistem penyelenggaraan haji kegiatan ini tidak difasilitasi. "Tapi pemerintah tidak melarang," katanya.

Oleh sebab itu, lanjut Menag, jamaah boleh saja melaksanakan tarwiyah namun harus pula memikirkan dan menerima konsekwensinya. "Sehingga menjadi tanggungjawab masing-masing," katanya.

Beberapa hal yang perlu dikirkan oleh jamaah yang melaksanakan tarwiyah, kata Menag, adalah transportasi dari Makkah ke Mina, penginapan di Mina, transporasi dari Mina ke Arafah, dan makan selama melaksanakan tarwiyah.

Sementara itu dalam penyelenggaraan haji reguler, dalam melaksanakan wukuf, jamaah dari penginapan di Makkah langsung ke Arafah, tanpa menginap di Mina.

Ia juga mengingatkan, jika jamaah melaksanakan tarwiyah maka memerlukan pula fisik yang kuat. Oleh sebab itu, para pembimbing haji perlu memberikan pengertian kepada para jamaah, yakni agar mengutamakan yang wajib yakni melaksanakan wukuf di Padang Arafah.

"Tidak boleh melarang amaliyah yang sunnah, tapi perlu diingat jangan yang sunah bisa mengganggu yang wajib, yakni wukuf yang menjadi inti ibadah haji," kata Menag lagi.

Dalam penyelenggaan haji, pada 2 Oktober jamaah akan menuju Padang Arafah dan melaksanakan wukuf pada 3 Oktober. Selanjutnya setelah Magrib, jamaah bergerak ke Muzdalifah. Jamaah akan bermalam di Muzdalifah untuk selanjutnya bergerak menuju Mina guna melempar jumrah.

Namun jamaah tarwiyah, sebelum ke Arafah mereka bermalam dulu di Mina pada 2 Oktober, dan baru keesokan harinya berangkat ke Arafah. (Ant/Gs)