Jakarta, 5 Oktober - Dinas Pertanian Kota Semarang menemukan puluhan sapi yang menjadi hewan kurban di berbagai tempat penyembelihan di wilayah itu, terkena penyakit cacing hati.
"Dari laporan sementara yang sudah masuk, sapi yang terkena cacing hati sekitar 23 ekor, sementara kambing ada dua ekor," kata Kepala Dinas Peternakan Kota Semarang Rusdiana di Semarang, Minggu (5/10/2014).
Di sela memantau penyembelihan hewan kurban di Masjid Agung Semarang, seperti dilansir laman Antaranews.com., ia mengatakan sudah ada sekitar separuh dari total 16 kecamatan yang petugasnya melaporkan temuan hewan bercacing hati.
Ia menyebutkan tentang temuan itu, antara lain di Kecamatan Mijen, Gunungpati, Genuk, dan Pedurungan yang petugasnya melaporkan temuan cacing hati, yakni sapi dan kambing, sedangkan untuk kerbau semuanya sehat.
Pada penyembelihan hewan kurban yang dilaksanakan pada Minggu (5/10/2014), setidaknya 55 personel yang ditugaskan Distan Kota Semarang dan mereka disebar di 16 kecamatan.
"Tim pemantau kami akan tetap bekerja hingga tiga hari ke depan. Kan tiga hari setelah hari raya Idul Adha atau Hari Tasyrik masih diperbolehkan menyembelih hewan kurban," katanya.
Meski ada hewan kurban terkena cacing hati, ia mengatakan daging dan organ lain dari hewan kurban yang disembelih masih aman dikonsumsi sehingga masyarakat tidak perlu terlalu khawatir.
"Kalau organ hati yang terkena cacing hati hanya satu persen, hatinya tetap bisa dimakan setelah cacingnya dibuang. Tetapi, kalau terlalu banyak bagian organ yang kena ya harus dibuang," katanya.
Selain temuan cacing hati, ia mengatakan tim pemantau tempat penyembelihan hewan kurban juga menemukan hewan yang terkena pneumonia yang dicirikan dengan organ paru-paru yang berlubang.
"Penanganannya sama seperti cacing hati. Bedanya kalau cacing hati yang kena organ hati, kalau pneumonia organ paru-parunya. Organ paru-parunya dibuang, sementara lainnya aman dikonsumsi," katanya.
Ia menyebutkan ada dua kambing yang ditemukan terkena pneumonia di Masjid Agung Semarang, tetapi tim dari Distan Kota Semarang sudah memastikan organ paru-paru dua hewan itu dibuang.
Daging Kurban Diminta Jangan Dikemas Kantong Plastik Hitam
Sementara itu, Kepala Seksi Kesehatan Hewan Dinas Peternakan dan Perikanan Kota Samarinda, Kalimantan Timur, Jumiyanti meminta agar daging hewan kurban tidak dikemas dalam kantong plastik berwarna hitam.
"Kami meminta agar daging kurban nanti tidak dibungkus kantong plastik hitam sebab kemasan plastik dengan warna yang dimaksud tadi rentan terkontaminasi zat kimia," kata Jumiyanti di Samarinda, Selasa (30/9/2014).
Hal yang juga patut diperhatikan saat mendistribusikan daging kurban tersebut kata Jumiyanti yakni, kemasan daging kurban harus menggunakan kantong plastik putih serta tidak mencampur daging dengan organ dalam.
"Hal ini penting untuk menghindarkan agar tidak sampai tercemar. Jadi, kalau memang ada bagian organ dalam yang ikut didistribusikan, sebaiknya dipisahkan dalam kantong plastik lain," katanya.
Setelah dipotong, hewan kurban tersebut tambah Jumiyanti harus segera didistribusikan.
"Jangan sampai lewat empat jam sebab jika lewat dari masa tersebut, maka daging kurban sudah masuk dalam tahap proses pembusukan. Jadi, jika panitia kekurangan petugas khusus untuk membagikan hewan kurban sebaiknya penyembelihan dilakukan secara bertahap," katanya.
"Atau jika mungkin panitia bisa memanfaatkan atau menggunakan boks berisi es batu sebagai pendingin untuk menjaga keawetan dari daging kurban tersebut," ucapnya.
Dinas Peternakan dan Perikanan Kota Samarinda, tambah dia, telah melakukan pemantauan ke sejumlah lokasi penjualan untuk memastikan kesehatan dan kelayakan hewan kurban yang dijual tersebut.
"Pemantauan dan pengecekan ini untuk memastikan apakah ada indikasi serangan antrax terhadap hewan kurban yang ada di Kota Samarinda. Hasilnya memang nihil namun kami tetap mengimbau masyarakat jika ingin membeli hewan kurban agar bisa memilih penjual yang memiliki surat keterangan kesehatan hewan (SKKH)," ujarnya.
Dinas Peternakan dan Perikanan Kota Samarinda, lanjutnya, akan tetap memantau beberapa titik lokasi pemotongan pada hari "tasyrik" atau tiga hari setelah Idul Adha untuk melihat kondisi kesehatan hewan, khususnya pada bagian organ dalam.
"Tujuannya untuk memastikan kesehatan hewan kurban," kata Jumiyanti.(Bs/Ant/Gs).