Jakarta, 14 Oktober - Badan Lingkungan Hidup (BLH) Sumsel mengimbau kepada pemangku kepentingan pendidikan meliburkan siswa. Pasalnya, kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan semakin tebal sehingga membahayakan anak-anak.
Kepala BLH Sumsel, Lukita Riaty seperti dilansir laman Tribun News.com., mengatakan, pencemaran udara akibat kabut asap kemarin (Senin, 13/10/2014 – red) telah mencapai angka 834. Atau mencapai titik cemar tertinggi dari beberapa bulan kabut asap yang terjadi di Sumsel.
“Bila melihat kondisi kabut asap saat ini, kita menyarankan siswa diliburkan selama tiga hari. Saat ini kondisi pencemaran udara sangat berbahaya bagi kesehatan terutama anak-anak," ujarnya, Senin (13/10/2014).
BLH mengeluarkan rekomendasi penghentian kegiatan sekolah dalam rapat koordinasi penanggulangan kabut asap kemarin. Melihat kondisi yang ada, siswa diimbau untuk libur selama tiga hari hingga kabut asap mulai menipis.
"Kita sarankan tiga hari. Dapat pula lebih lama bila kondisi udara tak kunjung membaik. Tapi kita hanya bisa menyarankan, karena keputusan ada di Dinas Pendidikan dan sekolah masing-masing," ucapnya.
Di samping mengeluarkan imbauan libur sekolah, BLH juga memberi komendasi peningkatan status siaga asap menyusul semakin banyaknya jumlah titik api di Sumsel dalam beberapa hari belakangan. Dan meminta warga melakukan pencegahan.
"Kami mengimbau kepada warga agar mengurangi aktivitas di luar rumah karena tingginya tingkat pencemaran udara. Juga diminta menggunakan masker selama menjalankan aktivitasnya, atau mengenakan kaca mata saat berkendara," pintanya.
Terpisah, Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Sumsel, Widodo, masih enggan mengeluarkan aturan libur sekolah bagi para siswa. Kecuali, meminta pengunduran jadwal masuk sekolah lebih lama dari biasanya.
"Tidak ada libur. Terhadap kondisi asap saat ini, kita menganjurkan siswa gunakan masker. Atau meminta sekolah mengundur jam masuk. Bila mungkin jadwal belajar dipadatkan," katanya melalui pesan singkat elektronik, Senin (13/10/2014).
Selain itu, Disdik Sumsel berharap para guru mengajarkan kepada siswa agar pedulian terhadap lingkungan. Mengingatkan dampak kabut asap akibat ketidakpedulian oknum tertentu lewat membakar hutan dan lahan.
"Menjadikan kejadian ini sebagi tema pembelajaran bahwa berkebun dengan cara membakar lahan, hanya karena alasan murah, telah merusak tidak saja udara tapi juga ekosistem, serta kegiatan sosial dan ekonomi masyarakat," sebut Widodo.(Tn/Gs).