Error message

Deprecated function: The each() function is deprecated. This message will be suppressed on further calls in menu_set_active_trail() (line 2394 of /var/www/arsip.kemenkopmk.go.id/includes/menu.inc).
Oleh humaspmk on October 14, 2014

Jakarta, 14 Oktober  - Aktivitas penerbangan pesawat di Bandar Udara Sultan Thaha, Jambi sejak Minggu hingga Senin (13/10/2014) lumpuh akibat jarak pandang pilot tergangggu kabut asap kebakaran hutan dan lahan.

"Tidak ada satupun pesawat komersial dari Garuda, Srwijaya, Lion dan lain-lain yang mendarat sejak kemarin," kata Kepala Bandara Sultan Thaha Jambi, Dorma Manalu, di Jambi, Senin (13/10/2014).

Kendati pada Minggu (12/10/2014) sama sekali tidak ada penerbangan, bandara tersebut tidak ditutup sejak jarak pandang pilot setiap jam berubah- ubah.

"Pagi ini jarak pandang sekitar 800 meter, memang pesawat tidak bisa berangkat, tapi jarak pandang itu akan berubah setiap jam. Kami tidak menutup bandara. Karena tidak ada yang masuk, maka tidak ada pesawat yang berangkat," ujarnya.

Mengenai penumpang, kata dia, banyak yang membatalkan keberangkatan dan menarik uang kembali, tetapi tidak sedikit juga tetap menggunakan maskapai yang mengalihan jadwal penerbangan.

Kabut asap di Jambi sejak Jumat (10/10/2014) tebal dan pekat. Berdasarkan rilis BMKG Jambi, pukul 07.45 WIB Senin pagi, indeks standar pencemaran udara (ISPU) di Jambi mencapai 101,83 dengan kategori tidak sehat.

Kabut asap tidak hanya menyelimuti Kota Jambi, tetapi juga seluruh kabupaten provinsi tersebut.

Sejak seminggu terakhir aktivitas penerbangan dan pelayaran di daerah itu terganggu.

Gubernur Jambi, Hasan Basri Agus seperti dilansir laman Kompas.Com., sudah mengintruksikan agar Dinas Pendidikan menutup sementara aktivitas belajar-mengajar. Selain itu, warga diimbau menggunakan masker jika beraktivitas di luar ruangan untuk mengantisipasi penyakit insfeksu saluran pernafasan atas.

Sumbar Dikepung Asap dari Sumsel dan Kalimantan

Sementara itu, Kompas.com juga melansir bahwa asap kebakaran lahan dari Sumatera Selatan dan Kalimantan mengepung Sumatera Barat pada Senin (13/10/2014) seiring dengan angin yang bergerak dari timur dan selatan.

"Sumber asap dari selatan tetap berpengaruh utama di Sumbar, dan diperparah angin dari timur yang membawa asap dari Kalimantan," kata Kepala Seksi Observasi BMKG Ketaping, Budi Samiaji, Senin (13/10/2014) di Padang.

Sumbar, kata Budi, dikepung asap dari dua arah dan diperkirakan hingga empat hari ke depan.

Budi mengatakan, sejumlah kabupaten dan kota seperti Bukittinggi, Tanah Datar, Agam, Payakumbuh, Padangpanjang, Sawahlunto, Pessel, Sijunjung dan Dharmasraya, terkena dampak terparah akibat kabut asap tersebut.

"Di Bukittinggi, kemarin jarak pandang sekitar 800-1.000 meter, tapi kini sudah membaik," katanya.

Namun demikian, di Padang justru kondisinya memburuk sejak Senin pagi (13/10/2014).

Ia menambahkan, solusi jangka pendek mengatasi asap kiriman tersebut adalah terjadinya hujan lebat terutama di sumbernya.

Potensi hujan lebat, kata Budi, diperkirakan terkonsentrasi di Mentawai dan Sumbar bagian timur.

Sedangkan untuk daerah pesisir seperti Padang dan Pariaman, potensi hujan masih tinggi dengan intensitas ringan hingga sedang berdurasi singkat.

Sementara itu, seorang warga Padang, Ilham (28) mengaku merasakan asap yang sudah menyelimuti kota itu sejak dua hari terakhir.

"Sejak hari Minggu memang tidak ada hujan, karena itu asap masih ada di Padang, sore ini matahari pun sudah hilang karena asap," katanya.

Meskipun begitu, Ilham mengaku belum menggunakan masker karena belum berbahaya dan tidak ada imbauan dari pihak terkait.

Berdasarkan data Stasiun Pemantau Atmosfer Global (GAW) Bukit Kototabang pada Senin sore (13/10/2014), kualitas udara kategori sedang dengan PM10 sebesar 84 mikrogram per meter kubik.(Kc/Gs).