Error message

Deprecated function: The each() function is deprecated. This message will be suppressed on further calls in menu_set_active_trail() (line 2394 of /var/www/arsip.kemenkopmk.go.id/includes/menu.inc).
Oleh humaspmk on October 21, 2014

Jakarta, 21 Oktober - Rektor Universitas Muhammadiyah Profesor Doktor Buya Hamka (Uhamka) Soeyatno memandang perlu makna sumpah pemuda direvitalisasi dan tidak sekadar formalitas saja.

"Peringatan Sumpah Pemuda harus dijadikan momen pembenahan diri, yang maknanya harus direvitalisasi," ujar Prof. Soeyatno, Sabtu (18/10/2014)  di Jakarta.

Terkait peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-86 pada 28 Oktober 2014, Seperti dilansir laman Antaranews.com., Rektor mengatakan, kegagalan dalam memaknai Sumpah Pemuda membuat Indonesia rentan dalam menghadapi sejumlah persoalan besar, seperti kemiskinan, terorisme, korupsi, dan kekerasaan atas nama agama.

Pemuda, kata dia, harus mengambil peran dalam upaya menghadapi masalah-masalah yang dihadapi bangsa.

"Ingat saat Bung Karno berpidato dulu. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncang dunia," kata dia yang juga Sekjen Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (Aptisi).

Menurut dia, visi Indonesia Emas 2045 harus diperjuangkan semua elemen masyarakat.

"Bagaimanapun, NKRI yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945 merupakan konsensus nasional yang mengikat seluruh komponen bangsa sekaligus bukti sebagai kekuatan perekat, pemersatu, dan pembangun bangsa," tambah dia.

Dosen UIN Syarif Hidayatullah Dr. H. Abdul Muti, M.Ed. menekankan, "Demi kedaulatan bangsa, makna Sumpah Pemuda perlu direvitalisasi."

Maknanya bukan hanya sumpah mereka yang berusia muda, melainkan sumpah mereka yang senantiasa merasa muda dan bersemangat muda.

"Revitalisasi sumpah pemuda adalah ikrar para pemuda yang senantiasa merasa muda dan bersemangat muda," kata Abdul Muti yang juga Sekjen PP Muhammadiyah.

Hakikatnya Sumpah Pemuda bukanlah sumpah kelompok individu yang berusia muda semata, melainkan sumpah setiap warga negara Indonesia yang senantiasa merasa muda dan bersemangat seperti layaknya seorang pemuda.
 

Pendidikan karakter di Indonesia banyak hambatan

Sementara itu, hingga kini masih banyak hambatan dalam merealisasikan nilai-nilai pendidikan karakter di sekolah di Indonesia, kata Ketua Konsorsium Nasional Pengembangan Sekolah Karakter Susanto.

"Capaian realisasi pendidikan karakter di Indonesia masih minim," kata Susanto, Sabtu (18/10/2014)  di Jakarta.

Dia mengungkapkan hasil pantauan Konsorsium Nasional Pengembangan Sekolah Karakter 2014 menunjukkan masih banyak hambatan dalam merealisasikan nilai-nilai karakter di sekolah.

Beberapa hambatan itu di antaranya kompetensi tenaga pendidik terkait pendidikan karakter masih rendah, sedikit sekolah yang memiliki rencana aksi pendidikan karakter, muatan karakter belum sepenuhnya terejawantahkan dalam aktivitas pembelajaran.

Kemudian buku bacaan guru yang bermuatan karakter sangat terbatas, banyak sekolah yang belum memilikinya, ketersediaan perpustakaan siswa yang bermuatan karakter minim, dan banyak guru yang belum mendapatkan pelatihan pendidikan karakter.

"Kondisi ini tentu akan berakibat pada minimnya capaian pendidikan karakter di sekolah," kata ketua Divisi Sosialisasi dan Komisioner Bidang Pendidikan Komisi Perlindungan Anak Indonesia itu.

Dia mengatakan pendidikan karakter belum memiliki dampak kepada murid. "Maraknya tawuran pelajar, bullying di sekolah, narkoba, kejahatan seksual di sekolah dan siswa sebagai perokok aktif mengonfirmasi betapa pendidikan karakter di Indonesia sejak tahun 2010, belum memiliki dampak optimal bagi generasi," kata dia.

Menurut dia, Indonesia membutuhkan langkah dan strategi yang besar untuk melakukan transformasi besar-besaran pada institusi sekolah sebagai tangga menuju bangsa yang berkarakter.

"Jika pola manajemen masih menggunakan menu lama, sementara kesiapan SDM masih lemah, saya tidak yakin semangat membangun generasi berkarakter akan tercapai dengan baik," katanya. (Ant/Gs)