KESRA-- 25 JANUARI: Tokoh gerakan Organisasi Papua Merdeka (OPM) Nicolaas Jouwe siap dan mengajak bersama-sama dengan pemerintah dan rakyat Papua untuk meningkatkan pembangunan tanah Papua.
Nicolaas Jouwe yang telah menetap lebih dari 40 tahun di Belanda dan kembali ke tanah kelahirannya di Papua.
"Beliau kembali ke Papua dan menetap guna membantu pembangunan di sana," ujar Menko Kesra Agung Laksono saat menerima kedatangan Nicolaas dikantor Menko Kesra, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta, Senin (25/1).
Agung mengatakan, keberadaan Nicolaas di Belanda selama 40 tahun karena ada perbedaan pandangan dengan Pemerintah tentang Papua. Namun saat ini, NicolaAs menurut Agung, telah menyadari bahwa yang diperjuangkan selama ini berbeda terutama pembangunan di Papua.
"Perhatian pemerintah dan kondisi politik sudah berbeda terhadap Papua. Setelah melihat sendiri perkembangan tahap demi tahap, beliau kembali ke Papua," imbuhnya.
Dalam kesempatan itu, Nicolaas menyampaikan rencananya untuk mengirim surat kepada Presiden SBY terkait permohonan Nicolaas untuk Papua di masa yang akan datang.
"Saya berencana menyampaikan pikiran pribadi kepada Presiden SBY dalam surat permohonan kepada Presiden," katanya.
Dalam surat yang dibacakan oleh anggota Independent Group Supporting Special Autonomous Region for Papua within The Republic of Indonesia (IGSSARPRI), Frans Albert Joku, di depan Menko Kesra dan para wartawan, Nicolaas menyampaikan sembilan saran dan pendapat dalam pernyataan sebagai masukan yang berkaitan dengan isu permasalahan di tanah Papua.
Sembilan isi pernyatan dalam surat permohonan kepada presiden itu di antaranya membentuk badan pengawas otonomi khusus dan meminta Presiden untuk bertemu tokoh papua. "Kita siap bekerja dengan pemerintah menjadi mitra," imbuhnya.
Nicolaas juga menjawab pertanyaan wartawan terkait sering terjadinya penembakan kepada karyawan PT Freeport di Papua. Nicolaas mengaku menyesal atas terjadinya peristiwa tersebut.
"Berita serupa itu tentu tidak menyenangkan. Saya tidak bisa kasih jawaban lain selain menyesal," ujar pria berusia 85 tahun ini.
Nicolaas mengatakan, solusi untuk masalah itu adalah berusaha sedapat mungkin mendampingi dan selidiki seluk-beluk permasalahannya.
"Karena jika tidak ada sebab tidak akan terjadi penembakan itu. Itu perbuatan berlebihan yang tidak berprikemanusiaan," jelas Nicolaas yang menggunakan tongkat dalam berjalan ini.
Menentang sejarah
Tokoh inipun menegaskan, ''Saya akan kembali selama-lamanya di Papua. Sekali Indonesia merdeka, tetap merdeka.''
Pria 86 tahun ini mengatakan pertemuan dengan pimpinan dan institusi Indonesia yang dilakukan pada Maret 2009 lalu memberi manfaat yang sangat besar.Nicolaas memaparkan upaya yang dilakukan pemerintah selama belakangan ini bisa mendorong rakyat Papua lebih mandiri.
Nicolaas juga mengemukakan pandangannya saat ini bahwa upaya pemisahan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sangat bertentangan dengan sejarah.
Dimulai sejak 1928 Pemerintah Belanda telah menyerahkan Papua ke pangkuan Indonesia, New York Agreement Juli 1962 antara Soekarno dan John F Kennedy, pengesahan Perserikatan Bangsa-bangsa tentang hasil Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) 1969 sampai pada Otonomi Khusus 2001.
''Dunia tidak lagi melihat upaya pembebesan sebagai independensi tapi interdependensi,'' kata Franzalbert Joku yang membacakan aspirasi Nicolaas. (dorH)
Kategori:
