Depok, (19/2) - Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Puan Maharani, menjadi pembicara kunci dalam Seminar Revolusi Mental yang diselenggarakan di Auditorium Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia (UI), Depok, Jawa Barat. Turut hadir mendampingi Menko PMK, Plt. Sesmenko PMK, Agus Sartono, Deputi Menko PMK Bidang Kebudayaan, Haswan Yunaz, dan Tenaga Ahli Menko PMK, Arief Budimanta.
Seminar dan Talk Show tersebut yang mengusung tema "Revolusi Mental Sebagai Intervensi Sosial" menghadirkan pembicara Guru Besra Psikologi UI, Prof. Hamdi Muluk, Bupati Batang Yoyok Riyo Sudibyo, Bupati Bantaeng, Nurdin Abdullah, dan Bupati Wakatobi Hugua.
Dalam sambutannya Menko PMK memberikan apresiasi kepada para narasumber yang telah hadir menjadi pembicara dalam seminar tersebut. Menko PMK juga memberikan apresiasi terhadap para mahasiswa yang sangat antusias dalam mengikuti seminar tersebut serta apresiasi kepada para civitas akademika UI,khususnya fakultas Psikologi.
"Kegiatan ini sangat penting dalam rangka sosialisasi Gerakan Revolusi Mental (GRM) yang telah dicanangkan pemerintah. Sebagai kampus yang menyandang nama Indonesia, Universitas Indonesia sudah selayaknya menjadi pelopor dalam mensukseskan Gerakan Nasional Revolusi Mental," harap Menko PMK.
Menurut Menko PMK, tantanga yang saat ini dihadapi bangsa Indonesia adalah telah resmi diberlakukannya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), itu artinya kawasan Indonesia tidak lagi hanya milik rakyat Indonesia saja, persainagn perdagangan, produksi dan tenaga kerja terbuka lebar bagi siapa saja. Untul itu, lanjut Menko PMK, perhatian pemerintah tidak hanya pada peningkatan infrastruktur tetapi juga pada peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia.
"Kedepan kita menghadapi jumlah ratio ketergantungan (depedency ratio) mencapai posisi yang rendah. Puncak terendah terjadi pada periode 2020-2035 dan kita akan mendapatkan bonus demografis atau malah menjadi bencana demografis," tukas Menko PMK.
Menko PMK mengatakan, keuntungan jumlah angkatan produksi yang besar, tidak lantas menjadikan Indonesia sebagai negara produkttif. Kita akan mengalami bencana jika kualitas pendidikan, keterampilan dan etos kerja mereka rendah. Untuk itu kita perlu melaksanakan gerakan revolusi mental. Akan tetapi, lanjut Menko PMK, Revolusi Mental bukanlah pekerjaan satu-dua hari, melainkan sebuah program nasional jangka panjang dan terus menerus. Revolusi Mental harus menjadi gerakan segenap rakyat dan bangsa Indonesia.
Menurut Menko PMK, Revolusi Mental melalui gerakan hidup baru akan menghidupkan kembali dan menggelorakan idealisme sebagai sebuah bangsa, menggelorakan kembali rasa keikhlasan dan gotong royong sesama anak bangsa, menjaga gelora api cita-cita proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 dalam setiap jiwa dan kalbu rakyat Indonesia.
"Sekali lagi saya tegaskan bahwa untuk melaksanakan Revolusi Mental diperlukan keteladanan dan kepeloporan . Untuk itu, saya menginginkan saudara-saudara yang hadir pada hari ini, yang merupakan kaum intelektual dan calon pemimpin bangsa, dapat menjadi pelopor gerakan revolusi mental dengan melakukan perubahan cara berpikit, cara kerja, dan cara berperilaku yang dapat memperkuat kedaulatan, peningkatan daya saing dan persatuan nasional dalam lkebhinekaan Indonesia."
Menko PMK mengatakan, apabila kita dapat menjalankan gerakan Revolusi Mental sepenuh hati, maka bangsa kita akan menjadi bangsa yang berkarakter. Dengan demikian dalam waktu yang tidak terlalu lama kemajuan dan daya saing bangsa kita akan dapat mengejar kemajuan yang telah dicapai bangsa-bangsa lain.
"kita akan bisa seperti Jerman, Norwegia yangdikenal dengan welfare state, maupun Jepang dan Korea Selatan di Asia dengan kemajuan teknologi dan etos kerjanya," harap Menko PMK. (humas)
Kategori: