Malang, Jatim (27/02)--- Menko PMK, Puan Maharani, pagi ini menghadiri dan memberikan orasi ilmiah pada Sidang Senat Terbuka Wisuda ke-79 Periode I Tahun 2016 Universitas Muhammadiyah Malang di Gedung Dome UMM, Jl. Raya Telogo Mas No.246, Kota Malang, Jatim.
Kehadiran Menko PMK juga diketahui merupakan bentuk ikhtiar tradisi UMM yang menjadikan kehadiran tokoh nasional setiap kali menggelar acara wisuda. "Beliau (Menko PM---red) punya keterikatan historis yang sangat kuat dengan UMM karena sebagai Keluarga Proklamator, Bung Karno memiliki Bintang Kehormatan Muhammadiyah atas jasa-jasanya mengembangkan nilai-nilai ke-Muhammadiyah-an di tengah masyarakat Indonesia. Begitu juga dengan Ayah Menko PMK, Alm. Taufik Kiemas, juga telah dianugerahkan UMM Award sebagai Penggerak dan Tokoh Pemuda Muhammadiyah asal Bengkulu pada tahun 2014 lalu dan diterima langsung oleh Ibu Megawati," ungkap Rektor UMM, Fauzan.
Menko PMK dalam orasi ilmiahnya pertama mengucapkan selamat kepada para wisudawan/ti yang berjumlah sekitar 1.002 orang mulai dari lulusan D3 hingga pascasarjana. Pesan kunci dari orasi itu antara lain para lulusan sarjana dan generasi muda bangsa pada umumnya diminta untuk siap menghadapi dunia kerja, terlebih kini Indonesia sudah resmi memberlakukan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Selain itu, perguruan tinggi diminta menghasilkan banyak lulusan sarjana bidang teknik untuk mendukung program pemerintah untuk memajukan inovasi dan teknologi.
"Ada beberapa faktor kelemahan kita dalam bersaing di pasar global yakni rendahnya kemampuan inovasi; kesiapan teknologi, riset, dan pendidikan tinggi; dan kurangnya infrastruktur. Perguruan tinggi sebagai ujung tombak pendidikan tinggi, sangat strategis perannya dalam memperbaiki faktor-faktor tersebut untuk mendorong daya saing nasional,” papar Menko PMK lagi. “Kita menginginkan pendidikan tinggi betul-betul menjadi ajang untuk menempa mentalitas, keterampilan, dan keahlian, serta menghasilkan generasi penerus bangsa yang berintegritas, beretos kerja, dan berkepribadian yang berlandaskan gotong royong.”
Menko PMK juga kembali menekankan “Revolusi Mental” sebagai gaya hidup baru generasi muda bangsa di tengah kampus. Namun, jalannya Revolusi Mental ini, tentu membutuhkan kepeloporan dan keteladanan. Dengan begitu, dari perguruan tinggi dapat tercipta para agen perubahan yang dapat mendorong pada perubahan pikiran, sikap, dan orientasi pada semangat untuk maju yang akhirnya membuat Indonesia siap untuk berkompetisi di kancah dunia.
Bila perguruan tinggi telah melaksanakan Revolusi Mental, pastilah perguruan tinggi itu akan menghasilkan calon-calon pemimpin bangsa yang berkarakter sekaligus memiliki keahlian dan keterampilan, memiliki produktivitas, dan berdaya saing tinggi. (IN/Ole)
Kategori:
