Yogyakarta (19/05) -- Plt. Deputi bidang Koordinasi Peningkatan Kesehatan, Agus Sartono, pagi ini memberikan arahan sekaligus membuka Seminar Umum Pencegahan dan Penanggulangan Kesehatan Jiwa Dampak NAPZA Tahun 2016 di Auditorium Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Jl. Farmako Sekip Utara, Kec. Sleman, Yogyakarta.
Acara dihadiri oleh jajaran BNN, Kemenkes, Kemensos, Rektorat UGM, serta Perwakilan Rumah Sakit dan Puskesmas se-Yogyakarta. Kegiatan ini merupakan inisiasi dari Keasdepan Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit pada Deputi bidang Koordinasi Peningkatan Kesehatan Kemenko PMK bekerja sama dengan Kemenkes, BNN, Kemensos, dan UGM.
Seminar umum bertajuk “Peran Generasi Muda dalam Penanggulangan Narkoba” digelar berdasarkan arahan Menko PMK yang menindaklanjuti arahan presiden pada Rakornas BNN di 4 Februari 2015 lalu di hadapan menteri, gubernur, dan bupati seluruh Indonesia yang menyatakan perlunya penajaman sektor masing-masing instansi pemerintah dalam mendukung upaya pencegahan di lingkungan masing-masing. Selain itu, dalam Ratas tertanggal 24 Februari 2016 lalu presiden menginstruksikan “Gelorakan perang melawan narkoba.. Aksi kali ini harus lebih gencar lagi, gila lagi, lebih komprehensif dan dilakukan secara terpadu.”
Agus, dalam sambutannya di hadapan mahasiswa peserta seminar, berulang kali menekankan bahwa generasi muda bangsa harus diselamatkan dari bahaya narkoba. “Indonesia akan menghadapi bonus demografi, suatu momen penting bagi suatu bangsa di saat generasi muda saat ini Insya Alloh sudah menjadi para pemimpin bangsa dan berkarya untuk negara. Menyelamatkan generasi bangsa kita, berarti menyelamatkan calon pemimpin bangsa,” papar Agus lagi.
“Dua ancaman besar generasi muda bangsa Indonesia saat ini adalah ancaman ideologi dan narkoba. Jika cara merusak ideologi seperti cuci otak dan efek negatif media serta teknologi tidak berhasil, anak-anak muda Indonesia akan diserang dengan narkoba. Maka, sekali kenal narkoba, masa depan kalian (mahasiswa—red) akan terenggut. Ini Indonesia kita, jangan jadi hancur seperti Hong Kong akibat serangan narkoba. Ayo bentengi diri dari sekarang!”
Indonesia dinyatakan darurat narkoba oleh Presiden Jokowi di tahun 2014 lalu. Data Badan Narkotika Nasional (BNN) menunjukkan, selain jumlah pasokan berbagai jenis narkoba yang makin membesar jumlahnya, konsumen narkoba hingga tahun 2015 lalu sudah mencapai lima juta jiwa, dan jaringan pengendali bisnis haram ini tercatat berasal dari Afghanistan, Iran, China, dan sebagainya.
“Wilayah geografis kita terutama laut masih belum terjaga dengan baik karena keterbatasan yang kita miliki baik peralatan maupun personil. Jumlah penduduk yang besar juga kerap jadi sasaran empuk peredaran narkoba yang sekarang tidak hanya orang dewasa tetapi juga remaja bahkan anak-anak. Terutama sekali, Indonesia masih kekurangan fasilitas dan akses rehabilitasi narkoba dan baru berhasil menangani 1,5 juta pengguna narkoba. Untuk tanggulangi narkoba, kita butuh pendekatan yang tidak hanya lewat penegakan hukum tetapi juga aspek kesehatan,” kata Direktur Penguatan Rehab BNN, Ida Oetari Poernamasari.
Editor : Deni Adam Malik
Reporter/Fotografer : Siti Badriah
Kategori: