Jakarta (13/03)--- Pemerintahan Jokowi - Jusuf Kalla pada Desember 2015 lalu telah berkomitmen untuk membangun pabrikatau perusahaan yang khusus mempekerjakan penyandang disabilitas. Jika komitmen itu terwujud dan sudah berkembang, para penyandang disabilitas diharapkan siap terjun ke dalam dunia kerja dan mereka diharapkan dapat mencapai kemandirian ekonomi. Negara di dunia yang sudah sukses menjalankan bengkel kerja untuk para penyandang disabilitas sejauh ini antara lain Jerman, Thailand, dan Filipina.
Untuk mendorong upaya percepatan realisasi komitmen pemerintah dalam pembangunan pabrik/ perusahaan disabilitas dan dukungan sumber pendanaannya, hari ini Keasdepan bidang Pemberdayaan Disabilitas dan Lansia pada Kedeputian bidang Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan dan Perlindungan Sosial Kemenko PMK, menggelar rakor yang membahas tindak lanjut implementasi pemenuhan hak-hak penyandang disabilitas melalui perusahaan disabilitas di ruang rapat lt.4 gedung Kemenko PMK, Jakarta. Rakor ini juga membahas konsep alternatif yang dapat dielaborasi dengan program ekonomi produktif (ekotif) yang diusulkan Kemsos. Rakor dibuka oleh Deputi bidang Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan dan Perlindungan Sosial Kemenko PMK, Tb Achmad Choesni dan selanjutnya rakor dipimpin oleh Asdep bidang Pemberdayaan Disabilitas dan Lansia, Ade Rustama.
Pembentukan perusahaan disabilitas sebenarnya sudah dimulai dengan upaya pelatihan kerja para penyandang disabilitas seperti yang dilakukan oleh Yayasan Sampaguita. Dalam rakor hari ini juga diketengahkan berbagi pengalaman dari Sampaguita Foundation – Disabilitas Rungu mengenai pembinaan pelatihan dan produktivitas serta pemberdayaan disabilitas rungu.
Sesuai dengan visinya, Yayasan Sampaguita yang diketuai oleh Putri Sampaghita Trisnawinny Santoso ini, yaitu bertekad menjadikan kaum disabilitas Indonesia mandiri secara ekonomi, tangguh secara pribadi, dan berkarakter kuat. Sementara misi Yayasan ini salah satunya menciptakan peluang usaha bagi kaum disabilitas. Upaya yang terwujud dalam berbagai pelatihan kerja itu diakui memang tidak banyak membutuhkan banyak modal dan sepenuhnya sesuai kemampuan yayasan. Namun, dengan kondisi yang seperti ini, Yayasan Sampaguita mengakui kalau pelatihan kerja yang mereka berikan jadi kurang beragam dan jangakuannya kurang luas, hingga kemudian berujung pada keberlanjutan program ini di waktu mendatang.
“Kalau saja sudah beragam programnya, dana yang kuat dan keterlibatan kaum disabilitas lebih banyak lagi, Yayasan Sampaguita mungkin dapat berbuat lebih banyak. Demikian pula dengan melibatkan banyak komunitas sehingga banyak diketahui luas melalui media dan akhirnya kita semua sekamin dikenal,” papar Putri lagi. “Memang masih belum banyak juga dunia usaha yang mau terlibat atas apa yang kami coba usahakan ini. Banyak kalangan yang cenderung melihat usaha kami sebagai amal saja dan biasanya hanya sekali memberikan pelatihan kerja. Akibatnya, banyak disabilitas rungu yang belum benar-benar terampil dalam bekerja.” (sumber: Kedep II Kemenko PMK)
Kategori: