Error message

Deprecated function: The each() function is deprecated. This message will be suppressed on further calls in menu_set_active_trail() (line 2394 of /var/www/arsip.kemenkopmk.go.id/includes/menu.inc).
Oleh humaspmk on May 03, 2017

Jakarta (03/05)--- Menko PMK, Puan Maharani, pagi tadi menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan Ketua PBNU, Said Agil Siraj, di Auditorium Utama gedung PBNU, Jakarta Pusat. MoU berthemakan pembangunan karakter bangsa ini sejatinya adalah ajakan pemerintah kepada PBNU untuk mendukung upaya pembangunan karakter bangsa melalui Gerakan Nasional Revolusi Mental. PBNU diajak karena selain merupakan organisasi keagamaan yang besar dan kepengurusannya mulai dari tingkat Pusat, Provinsi, Kabupaten/Kota, Kecamatan, dan sampai Desa, juga adanya kesamaan persepsi antara PBNU dengan Kemenko PMK dalam menghadapi dan menyikapi dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara yaitu bertujuan untuk menciptakan kemaslahatan masyarakat, kemajuan bangsa dan negara.

“Oleh karena itu, saya menyampaikan apresiasi kepada berbagai pihak yang telah berkontribusi bagi terselenggaranya penandatanganan nota kesepahaman ini. Dan saya mengajak seluruh komponen umat beragama untuk terus merajut persaudaraan, persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia serta bersama-sama membangun bangsa tercinta ini. .Khusus bagi Nahdhatul Ulama, melalui gerakan ini mari sama-sama kita wujudkan Islam yang sejati. Islam yang Rahmatan Lil Alamin, yang menjadi rahmat bagi seluruh manusia dan alam semesta. Semoga Nota Kesepahaman dapat mendorong kita semua untuk dapat bangkit menjadi lebih baik dan semoga Allah SWT melindungi kita semua,” papar Menko PMK dalam sambutannya. 

Sementara menurut Ketua PBNU, ajakan Pemerintah melalui Kemenko PMK dalam upaya membangun karakter bangsa melalui Gerakan Nasional Revolusi Mental, sudah tepat. Di dalam tubuh NU, lanjut Said Agil, sesungguhnya sudah dimulai upaya membangun karakter bangsa itu lewat peran para kyai yang tersebar di berbagai kampung. “Dari mereka para kyai kita bisa lihat sudah banyak mencetak anak-anak bangsa atau santri yang berbudi luhur, berakhlak mulia karena mereka dibesarkan di lingkungan pesantren yang mandiri, sederhana  dan tulus. Di sanalah sebenarnya juga makna jihad diresapi dan secara tidak langsung dilaksanakan,” ujar Siaid Agil. “Para kyai hadir untuk bawa kedamaian, memelihara keutuhan umat, memelihara Indonesia dengan Islam Nusantara-nya. Insya Alloh  kader NU tetap setia menjaga NKRI dan jadi garda terdepannya. Kami tidak terpengaruh akan efek negatif apapun dari budaya masa kini terutama kemajuan teknologi.”

Baik Menko PMK maupun Ketua PBNU, kedua sepakat bahwa Islam Nusantara dan keutuhan NKRI memang harus tetap dijaga. “MoU ini akhirnya terwujud setelah saya meminta secara pribadi kepada Pak Said agar PBNU mendukung program pemerintah khususnya tentang Revolusi Mental yang sedang dilaksanakan. Kami akan tetap minta masukan, bahkan kritik dari seluruh masyarakat agar program pemerintahan dapat berjalan lebih baik lagi,” kata Menko PMK. “Masih banyak tugas pemerintah yang harus dilaksanakan dan kami perlu kerjasama semacam ini terutama dalam melestarikan Islam Nusantara. Upaya ini pun dapat tetap terjaga jika kita juga terus menjalin silaturahmi yang memang sudah dijalin sejak lama.” 

Penandatanganan MoU antara Kemenko PMK dengan PBNU dilakukan oleh Menko PMK  dengan Ketua PBNU, Said Agil Siraj yang kemudian dilanjutkan dengan saling bertukar cenderamata. Acara ini dihadiri pula oleh Deputi bidang Koordinasi Pendidikan dan Agama Kemenko PMK, Agus Sartono; Ketua Pokja Revolusi Mental, Arif Budimanta; Anggota DPR dari Fraksi PDIP, Erwin Singaruju; perwakilan dari seluruh organisasi Banom (Badan Otonom) NU; para kader NU; dan media massa. (IN)

Kategori: