Bogor (07/08)--- Menko PMK, Puan Maharani, siang ini berkesempatan menghadiri sekaligus menyampaikan orasinya pada Dies Natalis ke-12 Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) Institut Pertanian Bogor (IPB) di Auditorium Andi Hakim Nasoetion, Komplek Kampus Dramaga IPB, Kab Bogor, Jawa Barat. Acara turut dihadiri oleh Walikota Bogor, Bima Arya S; Wakil KEIN, Arief Budimanta; Rektor IPB, Herry Suhardiyanto; Deputi bidang Koordinasi Pendidikan dan Agama Kemenko PMK, Agus Sartono; Dekan FEMA IPB, Arif Satria; Jajaran Rektorat, Dekan Fakultas, dan Dosen FEMA IPB; Mahasiswa dan media. Rektor IPB dalam sambutan selamat datangnya menyampaikan selamat datang dan selamat Hari Jadi ke-12 untuk FEMA IPB. “Semoga dengan Dies Natalis ini, FEMA IPB semakin membumi dan mendunia sesuai dengan motonya,” katanya lagi.
Menko PMK mengawali sambutannya dengan mengungkapkan bahwa IPB dapat memberinya banyak masukan dalam melakukan kerja koordinasi, sinkronisasi, dan pengendalian Kemenko PMK terhadap K/L di bawah koordinasinya dalam menjalankan agenda pembangunan dan permasalahan membangun manusia Indonesia semisal persoalan gizi, gaya hidup sehat, dan pembangunan karakter bangsa, dan sebagainya. “FEMA IPB ini punya solusi untuk pekerjaan kami di Kemenko PMK, semua produk inovasi dan hasil penelitiannya tentu sangat berguna bagi bangsa,” tuturnya lagi. “Karena walau bagaimana Pemerintah perlu banyak masukan terutama dari perguruan tinggi untuk jawab berbagai persoalan.”
Lebih lanjut, dalam orasinya, Menko PMK menyoroti kecenderungan pembangunan yang tidak terkendali yang saat ini terjadi di dunia. Selain berdampak pada kerusakan lingkungan, era pembangunan saat ini juga cenderung mendorong masyarakat dunia untuk menyepakati agenda global yang disebut Sustainable Development Goals (SDGs). Dalam konteks nasional, Menko PMK mengatakan bahwa Indonesia sejak 2012 hingga tahun 2042 berada dalam periode Bonus Demografi yang memiliki potensi untuk mengalami peningkatan kesejahteraan secara signifikan. Kesempatan emas dari bonus demografi, menurutnya, dapat dioptimalkan dengan empat syarat dan kalangan perguruan tinggi dapat berperan penting untuk mewujudkan keempat syarat itu, antara lain kualitas sumberdaya manusia yang tinggi; tersedianya lapangan pekerjaan yang layak; akumulasi tabungan nasional yang meningkat ; dan adanya kesetaraan gender dan non-diskriminatif di pasar kerja.
Selain itu, menurut Menko PMK, pembangunan berkelanjutan dapat diwujudkan jika dan hanya jika kita memiliki karakter bangsa yang kuat, dilandasi sikap mental positif. Sesuai Inpres No. 12 Tahun 2016, Presiden telah menginstruksikan implementasi Gerakan Nasional Revolusi Mental. “Sebagai salah satu nilai dalam Revolusi Mental, saya tidak akan pernah bosan untuk terus menyuarakan tentang gotong royong karena saya yakin bangsa ini tidak akan besar dan maju tanpa kerja bersama secara gotong royong,” tegasnya. “Jika IPB sudah laksanakan KKN tematik Revolusi Mental, saya harapkan IPB jadi pelopor gerakan ini sekaligus jadi agen perubahan yang mampu mengedukasi masyarakat dan berbuat nyata hingga masyarakat paham dan akhirnya mau berubah serta mengembalikan jatidiri bangsa sesungguhnya.” (IN)
Kategori: