Bandung (21/02)--- RPJMN 2015-2019 telah mengamanahkan bahwa harus adanya Peningkatan pemenuhan hak dasar dan inklusivitas; skema perlindungan sosial bagi disabilitas dan lanjut usia harus diperkuat; dan harus sejalan dengan sasaran dan target Sustainable Development Goals (SDGs). Sementara itu, Lansia dan Penyandang Disabilitas di tanah air merupakan kelompok dalam siklus kehidupan yang memiliki kerentanan yang cukup tinggi. Maka, melalui koordinasi dan sinkronisasi program kerja dan kegiatan Pemerintah terhadap Lansia dan Penyandang Disabilitas terus menguatkan kedua upaya itu demi hadirnya negara bagi mereka yang termasuk dalam kelompok rentan di tengah kondisi masyarakat Indonesia saat ini. Upaya penguatan koordinasi dan sinkronisasi itu, kali ini berlangsung di Kota Bandung, Jawa Barat, Kamis pagi.
Asisten Deputi Pemberdayaan Disabilitas dan Lansia, Kemenko PMK, Ade Rustama, mewakili Deputi bidang Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan dan Perlindungan Sosial, membuka kegiatan yang turut dihadiri oleh Narasumber sekaligus perwakilan dari Kemensos, Kemendikbud, Jajaran SKPD pada Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat; dan jajaran K/L terkait lainnya. “Kegiatan semacam ini diperlukan untuk kita bersama menjawab segala masalah Lansia dan Penyandang Disabilitas. Ini adalah masalah kita bersama yang juga harus kita carikan solusinya secara bersama-sama. Demikian pula yang terjadi dengan Provinsi Jawa Barat, kami sangat mengapresiasi apa yang sudah dilakukan selama ini,” papar Ade saat membuka acara.
Ade dalam pembukaannya mengungkapkan bahwa secara demografis, untuk masalah Lansia, Indonesia secara perlahan tengah menuju menjadi negara yang menua. Saat ini, Indonesia memiliki lebih dari 20 juta penduduk lansia. Pada 2020, diperkirakan sekitar 10% penduduk Indonesia akan berusia 60 tahun ke atas dan bertambah menjadi sekitar 13 persen pada 2030. Pada 2050, kurang lebih 21.1%, atau sekitar 1 dari 5 orang penduduk Indonesia akan memasuki usia lanjut. Faktanya, tingkat kemiskinan bertambah secara signifikan seiring bertambahnya usia dan tingkat kemiskinan tertinggi ditemukan pada kelompok lansia tertua di Indonesa (sekitar usia 80 tahun ke atas).
Walaupun prevalensi disabiltas lebih banyak terjadi pada kelompok Lansia, disabilitas juga dapat ditemukan di seluruh kelompok usia. Hampir 9% Penduduk Indonesia mengalami disabilitas sedang atau berat dan disabilitas diakui erat kaitannya dengan kemiskinan. Sementara secara keseluruhan, perlindungan sosial bagi Lansia serta Penyandang Disabilitas yang ada sangatlah terbatas. “Maka kami mengajak para pemimpin daerah untuk dapat lebih memperhatikan Kaum Lansia dan Penyandang Disabilitas dalam melaksanakan program kerjanya,” imbau Ade lagi. (sumber: Kedep II Kemenko PMK)
Kategori:
