Error message

Deprecated function: The each() function is deprecated. This message will be suppressed on further calls in menu_set_active_trail() (line 2394 of /var/www/arsip.kemenkopmk.go.id/includes/menu.inc).
Oleh humas on April 18, 2019

Foto : 

  • Deputi 2

Jakarta (18/04) – Secara global, dua orang memasuki usia 60 dalam satu detik. Ini berarti bahwa ada hampir 58 juta orang pada usia 60 lebih setiap tahunnya. Hal tersebut terungkap dalam Audiensi Panitia Active Ageing Conference & Expo 2019 dengan Deputi Bidang Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan dan Perlindungan Sosial Kemenko PMK, Tb. Achmad Choesni, di Kantor Kemenko PMK, Jakarta (18/4).

Menurut Choesni, rata-rata, satu dari sembilan orang yang akan berusia di atas 60 tahun dan rasio ini akan menjadi 5: 1 pada tahun 2050. Jika di dunia, pada tahun 1950 ada 205 juta orang pada usia di atas 60, 901 juta pada 2015, perhitungan untuk 12,3% populasi di dunia, yang akan menjadi lebih dari 2 miliar orang, terhitung 22% pada tahun 2050. 

"Meskipun populasi lansia adalah hasil positif dari kemajuan sosial, pembangunan ekonomi, peningkatan perawatan kesehatan, namun hal tersebut membawa tantangan bagi pertumbuhan ekonomi, seperti kekurangan sumber daya tenaga kerja, meningkatnya biaya kesehatan, jaminan sosial, dampak pada tabungan, investasi, konsumsi, pergeseran aliran migrasi", ungkap Choesni.

Choesni juga menyampaikan, bahwa populasi Asia terus bertumbuh setiap tahunnya. Wilayah-wilayah negara Asia Tenggara (ASEAN), saat ini memiliki lebih dari 60 % dari total populasi dunia. Ada konsekuensi kesehatan yang terkait dengan populasi yang besar dan berkembang, meskipun koneksi seringkali kompleks dan dimediasi oleh faktor sosial, ekonomi, dan teknologi, dan sangat dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah dalam perawatan kesehatan dan strategi penuaan yang sehat. 

Permintaan layanan kesehatan di Asia Tenggara meningkat dengan cepat, didorong oleh tingkat pertumbuhan populasi yang diperkirakan akan melebihi geografi lainnya, dan perubahan epidemiologis dari penyakit menular ke pola penyakit kronis yang sesuai dengan pasar barat. Sebagian besar pengeluaran Asia Tenggara banyak dihabiskan untuk perawatan kesehatan yang berasal dari sektor publik.

Sementara itu, populasi lansia di Indonesia telah tumbuh pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya selama periode 1990 - 2020, dan telah terjadi peningkatan angka harapan hidup dari 66,7 tahun menjadi 70,5 tahun. 

Menurut Choesni, jumlah lansia (lebih dari 60 tahun) di Indonesia diperkirakan akan meningkat menjadi 28,8 juta (11% dari total populasi) pada tahun 2020, dan 80 juta (28,68%) pada tahun 2050. Semakin lama hidup seseorang, semakin berpengalaman secara fisik, masalah mental, spiritual, ekonomi dan sosial. 

Berdasarkan RISKESDAS (Riset Kesehatan Dasar 2013), penyakit yang ditemukan di kalangan lansia di Indonesia meliputi hipertensi, osteoartritis, masalah gigi & mulut, penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) dan diabetes mellitus.

Menurut Survei Kesehatan Dasar 2018, penyakit di antara lansia yang berkontribusi terhadap kecacatan adalah stroke, jatuh, penyakit jantung, diabetes melitus dan radang sendi. Munculnya berbagai penyakit dan gangguan ini dapat menyebabkan cacat fungsional pada lansia, dengan kondisi yang lebih parah pada lansia, tentu saja membutuhkan bantuan orang lain, sehingga mereka membutuhkan perawatan jangka panjang (Long-term care / LTC) termasuk perawatan mulut.

Untuk mengatasi peningkatan status kesehatan orang lanjut usia, praktik active ageing yang sehat dan aktif di Asia - Pasifik dan Asia Tenggara memiliki kesamaan dalam hal pola solidaritas masyarakat tradisional seperti praktik dukungan keluarga, reformasi kebijakan yang mendorong orang lanjut usia yang masih mampu bertahan di tempat kerja, dan orang-orang yang tidak sepenuhnya mampu merawat diri sendiri dan membutuhkan perawatan jangka panjang dan perawatan akhir hidup. 

Di sisi lain, ada kesenjangan antara negara yang sudah berkembang dan negara berkembang dalam pengembangan teknologi seperti teknologi informasi, transportasi, dan berbagai teknologi tinggi dalam layanan pengiriman untuk lansia. 

Berdasarkan latar belakang di atas, kerjasama Perhimpunan Gerontologi Indonesia dengan Konsorsium Penuaan Aktif Asia Pasifik (ACAP) hari ini beraudiensi ke Kemenko PMK dan diterima oleh Deputi Bidang Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan dan Perlindungan Sosial T. B. Achmad Choesni. 

ACAP akan mengadakan Active Ageing Conference & Expo 2019 dengan tema: "Penuaan dengan Kualitas & Martabat". Active Ageing Conference & Expo 2019 akan diselenggarakan pada tanggal 19-21 Juli 2019 di Twin Plaza Hotel Jakarta dengan mengundang sejumlah ahli dari Jepang, Singapura, Amerika Serikat, Hongkong, dan Korea Selatan.

Reporter: 

  • Deputi 2