Jakarta (27/06)--- Kemenko PMK sangat mengapresiasi sekaligus mendukung keterlibatan dunia usaha yang turut berpartisipasi memajukan dunia pendidikan di Indonesia terutama perguruan tinggi. Dorongan Kemenko PMK ini disampaikan oleh Deputi bidang Koordinasi Pendidikan dan Agama, Kemenko PMK, Agus Sartono usai membuka sekaligus menyampaikan arahannya forum Sarasehan Nasional Kader Surau YBM BRI Tahun 2019 di Aula Utama gedung Kemenko PMK, lt.7, Jakarta, Kamis pagi.
Sambutan Agus yang bertajuk ‘Pemuda, National Character Building dan Masa Depan Indonesia’ itu disampaikan di hadapan sekitar 585 Penerima Beasiswa Kader Surau YBM BRI Tahun 2019, Ses Dirjen Bimas Islam Kemenag, dan Pimpinan serta Jajaran Pengurus Pusat YBM BRI.
“Memasuki tahun ke-4 di tahun 2019 ini, Kemenko PMK sangat senang dengan dukungan beasiswa YBM BRI kepada para mahasiswa kita yang sejauh ini sudah mencapai 585 mahasiswa. Kami akan terus mendorong langkah dan upaya yang baik ini bahkan kalau memungkinkan capaian beasiswa ini dapat mencapai 1000 mahasiswa,” kata Agus memulai arahannya. Dalam forum ini, Agus berharap agar semakin banyak dunia usaha yang berbuat serupa dengan YBM BRI ini sembari terus bersemangat membantu pemerintah mewujudkan Sumber Daya Manusia Indonesia yang unggul dan berdaya saing di masa depan. Agus juga meminta agar lembaga amil zakat mau meniru apa yang sejauh ini sudah dilakukan oleh YBM BRI.
“Karena anak-anak ini akan menjadi pemimpin-pemimpin bangsa yang tidak hanya bagus agamanya tetapi juga keilmuwannya. Cara BRI “mengembalikan” baktinya kepada bangsa perlu kita apresiasi juga, mereka masuk lewat jalur pendidikan tinggi dan merangkul mahasiswa yang selama ini sebagai Pemegang KIP untuk tetap dapat melanjutkan pendidikannya,” kata Agus lagi. “Saya yakin dengan cara membantu anak-anak ini sekaligus membantu mereka menjadi para Tahfidz Quran segala kebaikannya Insya Allah akan kembali kepada BRI. Saya turut merekomendasikan agar setelah lulus nanti, BRI mau merekrut mereka dan menjadi bagian dari operasional BRI menggantikan tenaga-tenaga ahli yang saat ini sedang bekerja.”
Agus dalam pembukaan dan arahannya kepada para mahasiswa Kader Surau YBM BRI selanjutnya memaparkan kondisi bangsa dan negara yang saat ini sesungguhnya potensial untuk dapat maju. “Maka dari itu saya mengimbau agar para mahasiswa ini tidak terjebak dalam pemikiran yang akhirnya berwujud dalam aksi demonstrasi belaka, tanpa ukuran dan objektivitas yang seharusnya. “Saya paparkan kondisi bangsa agar mahasiswa ini mulai terasah pemikirannya, menjadi lebih kritis dan bijak lalu semoga tetap tekun belajar meraih prestasi dan turut dalam mewujudkan Indonesia yang maju di masa mendatang,” tambahnya. “Saya juga mengajak mahasiswa Kader Surau ini menjadi agen-agen perubahan di daerah mereka masing-masing. Misalnya, membimbing anak-anak siswa sekolah seperti SD atau SMP dalam menghadapi pelajaran di sekolah, mengkampanyekan bahaya narkoba dan cerdas ber-medsos. Semacam itu.”
YBM BRI diketahui tetap berikhtiar dengan menghadirkan beragam intervensi program pendayagunaan zakat yang tersebar di 19 kantor wilayah di seluruh Indonesia. Sebanyak 315 ribu lebih mustahik telah dijangkau YBM BRI pada akhir tahun 2018 dengan pendayagunaan sebesar Rp115 miliar, dan terakhir dipertengahan tahun 2019 kami telah menyentuh 574 ribu penerima manfaat dengan alokasi anggaran Rp130 miliar (hingga akhir tahun 2019). Program Beasiswa Kader Surau merupakan salah satu program yang diinisiasi oleh YBM BRI sebagai ikhtiar pendayagunaan dana zakat dalam bidang pendidikan. Program Beasiswa Kader Surau menitikberatkan pada pembentukan dan pembinaan karakter generasi muda islam sehingga siap menjadi pemimpin masa depan bangsa. Hingga hari ini jumlah penerima beasiswa kader surau mencapai 585 penerima manfaat yang tersebar di 20 Perguruan Tinggi Negeri dan atas arahan Kemenko PMK turut mengikutsertakan satu Politeknik Negeri.
Para penerima beasiswa mendapatkan bantuan berupa biaya UKT (Uang Kuliah Tunggal), bantuan biaya hidup (living allowance), asrama, dan pembinaan. Selama dua tahun mereka mendapatkan pembinaan berasrama, setahun berikutnya adalah masa pembinaan di luar asrama untuk mengamalkan hasil pembinaan dari tahun sebelumnya. Selama tiga tahun para penerima beasiswa kader surau diberikan pembinaan dan tinggal di asrama yang disebut dengan ‘Rumah Pemberdayaan Masyarakat (RPM).’ Melalui RPM ini, para kader surau juga dituntut untuk memiliki beragam target, di antaranya target pemberdayaan masyarakat salah satunya rumah belajar, target prestasi akademik dan non akademik, serta target hafalan AlQuran. Rumah belajar kader surau pada tahun ajaran ini telah meloloskan 132 peserta didiknya ke 40 perguruan tinggi negeri di Indonesia. Para peserta didik ini adalah anak-anak dari golongan mustahik yang berada di sekitar Rumah Pemberdayaan Masyarakat. (*)
Kategori: