Jakarta (21/08)--- Untuk mengasah kemampuan dan memahami dinamika dalam bernegosiasi terutama dalam forum multilevel, dinilai perlu adanya konsep pembelajaran sembari terjun langsung dalam arena simulasi negosiasi tadi. Tidak lupa, dalam pembelajaran itu juga diharapkan dapat terus meningkat kemampuan berkomunikasi peserta pelatihan dalam menggunakan Bahasa Inggris. Hal terpenting yang ditekankan adalah bagaimana ‘memperjuangkan’ berbagai isu pembangunan berkelanjutan pasca MDGs (SDGs) sesuai dengan kepentingan negara dan bangsa ketika negosiasi secara formal dalam konteks forum multilateral.
“Capacity Building in International Negotiation Skills: A Simulation on Multilateral Negotiations on Sustainable Development Goals Agenda” adalah kegiatan pelatihan keterampilan negosiasi yang digelar oleh Kemenko PMK, melalui Biro Perencanaan dan Kerjasama, dan Friedrich Ebert Stiftung (FES) Indonesia Office yang bekerjasama dengan Center for Southeast Asian Studies (CSEAS). Kegiatan berlangsung mulai Rabu hingga Kamis (21 – 22/08) dan khusus di Hari Jumat (23/08) akan dilakukan Training of Trainers (ToT) bagi peserta yang nantinya ingin berbagi keterampilan negosiasi usai pelatihan dengan para rekan di unit kerja mereka masing-masing.
Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Asisten Deputi Jaminan Sosial, Kemenko PMK, Togap Simangunsong yang mewakili Seskemenko PMK, YB Satya Sananugraha. Togap dalam sambutannya menekankan pentingnya fakta, data, integritas diri berupa kejujuran, hingga rasa nasionalisme yang tinggi saat melakukan negosiasi formal di berbagai forum multilateral dan multilevel. “Karena Kita bertindak bukan atas nama pribadi tetapi sebagai pejuang bagi kepentingan negara. Di sana pula kita perlu kecerdasan yang terasah karena Kita punya pengalaman, pintar saja tidak cukup,” katanya lagi.
Pelatihan ini selanjutnya dipandu oleh Fasilitator dari Plan Politik, lembaga yang berkedudukan di Berlin, Jerman dan memiliki pengalaman dalam menyelenggarakan proses role play dan simulasi baik di Jerman maupun di negara lainnya. Kegiatan simulasi akan dilaksanakan sebanyak dua kali dengan peserta dan lokasi yang berbeda. Simulasi pertama telah dilaksanakan di kota Bandung, Jawa Barat; dan simulasi kedua dilaksanakan di Jakarta dengan target peserta dari K/L, NGO, dan media.
Untuk pelatihan di Jakarta, selama dua hari para peserta akan mendapatkan dua kali simulasi dengan topik bahasan yang berbeda. Para peserta sebelumnya terbagi menjadi beberapa kelompok dan bertindak seolah sebagai Delegasi dari delapan negara fiksi yang tergabung dalam The Alliance of South-Inotian Nations (ASIN). Simulasi pertama akan membahas topik mengenai strategi masing-masing negara dalam mencapai target SDGs dan simulasi kedua membahas tentang mekanisme pengurangan risiko bencana. (*)
Kategori:
