Foto :
- Deputi 7
Tabanan (28/8) - Deputi Bidang Koordinasi Pemberdayaan Masyarakat, Desa dan Kawasan Kemenko PMK RI, Dr. Sonny Harry B. Harmadi bersama Asisten Deputi Pembangunan Masyarakat Kemenko PMK Mustikorini Indrijatingrum, Kepala Pusat Pengembangan Kawasan Perkotaan Kementerian PUPR dan perwakilan Direktorat PEL, Ditjen PPMD Kemendesa PDTT, melakukan monitoring bersama ke Desa Kukuh, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan, Bali.
Rombongan diterima Camat Marga I Gusti Agung Alit Adiatmika, Perbekel Desa Kukuh I Made Sugianto, bersama
Kepala Dinas PMD Kab. Tabanan, Kepala Bappeda, Ketua BUMDesa, pendamping desa dan perangkat desa.
Monitoring dan evaluasi (Monev) bersama ini dimaksudkan untuk mempelajari dan memahami masalah yang dihadapi masyarakat sekaligus melihat secara langsung perkembangan BUMDes Kukuh Winangun dan Program Inkubasi Inovasi Desa-Pengembangan Ekonomi Lokal (PIID PEL).
Sonny mengapresiasi inovasi pertanian yang digagas masyarakat Desa Kukuh. Perbekel disarankan untuk melakukan ekspansi pasar lebih luas. Dalam pemasaran agar tidak hanya mengandalkan BUMDa, tetapi mesti dicoba pemasaran online. Untuk kemasan beras sehat natural disarankan untuk mengisi komposisi kandungan beras yang dijual. Sebab masyarakat modern akan lebih tertarik mengeluarkan uangnya jika komposisi kandungan beras sesuai yang diinginkan. “Pemasaran jangan hanya mengandalkan BUMDa, harus ekspansi pasar lebih luas. Masyarakat dengan gaya hidup sehat berani beli mahal untuk produk organik,” tegasnya.
Sonny juga memberikan pesan yang perlu diperhatikan dalam pembangunan desa. "Kualitas pembangunan desa sangat ditentukan oleh kualitas pendamping desa, kualitas musyawarah desa, fokus pada salah satu program, tepat sasaran dan tepat waktu pelaksanaan dana desa", tuturnya.
Perbekel Desa Kukuh, I Made Sugianto, menjelaskan sejak tahun 2016 melakukan inovasi dalam bidang pertanian. Subak Jaka mendapatkan bantuan dan Program Gerbang Pangan Serasi, pertanian organik/ramah lingkungan, tanpa pestisida. “Jumlah anggota kelompok tani organik saat ini bertambah dari 62 orang pada tahun 2016 menjadi 138 orang, tahun 2018” ungkap Sugianto.
Menurut Sugianto, pertanian organik ini menguntungkan petani. Jika harga gabah pertanian konvensional dibeli Rp 3.800/kg, gabah organik dibeli Rp 5.800/kg. Dari tahun 2016 hingga panen di tahun 2019 sudah ada peningkatan. Sebelumnya 4-5 ton per hektare, kini 5-6 ton per hektare. Selain harga gabah lebih tinggi, biaya selama satu panen juga lebih murah dengan pertanian organik. Sebab tidak beli pupuk lagi karena tinggal mengolah kotoran sapi dan urine sapi menjadi pupuk. “Keuntungan buat petani yakni harga gabah organik lebih mahal, biaya perawatan lebih murah, dan tanah makin subur,” tuturnya.
Ditambahkan, melalui BUMDesa, gabah petani dibeli, kemudian diolah dan dipasarkan oleh BUMDa Dharma Santika. Sugianto berharap dengan adanya program PIID PEL, gairah petani di Kukuh semakin tinggi untuk beralih ke pertanian ramah lingkungan. Dana PIID PEL akan dimanfaatkan untuk beli mesin pengering gabah, membuat rumah produksi, sekaligus untuk pelatihan buat pupuk dan cara bercocok tanam agar petani semakin unggul dan produksinya semakin bagus. "Kami juga berjuang untuk mendapatkan sertifikat padi organik" ungkap Perbekel.
Monev dilanjutkan dengan kunjungan ke lokasi sawah organik, bertemu langsung dengan para petani. Dengan adanya program pemerintah ini petani merasa terbantu dan bertambah penghasilannya. "Teruslah bermimpi untuk membangun desa. Wujudkan mimpi itu dalam rencana yang jelas dan target 5-10 tahun ke depan. "Dengan kerja keras, kerja cerdas dan gotong royong seluruh warga saya yakin mimpi-mimpi itu menjadi kenyataan" tutup Sonny.
Kategori:
Reporter:
- Deputi 7

