Jakarta, 21 Agustus - Dalam tiga dekade terakhir, kemunculan penyakit menular baru cenderung meningkat. Penyakit bersumber binatang (zonoosis), infeksi yang ditularkan di antara hewan vertebrata dan menusia atau sebaliknya, potensial menyebabkan wabah penyakit berbahaya dan menular.
Belum selesai dengan penanggulangan penularan Flu Burung (H5N1) dan Midle East Respiratory Syndrome Corona Virus (MERS CoV), dunia kembali dihebohkan dengan munculnya virus Ebola yang saat ini mewabah di kawasan Afrika Barat, khususnya di Guinena, Liberia, Sierra, dan Nigeria. Wabah ini telah ditetapkan sebagai status darurat kesehatan internasional oleh WHO pada 7 Agustus 2014.
Menghadapi ancaman penyakit menular tersebut, sebanyak 37 negara melakukan pertemuan untuk membahas masalah ini dalam acara Global Meeting on Infectious Diseases yang diselenggarakan di Jakarta sejak 20-21 Agustus 2014. Acara ini merupakan tindak lanjut dari inisiatif Global Health Security Agenda (GHSA).
Seperti diberitakan situs Berita satu,Negara yang hadir antara lain, Argentina, Australia, Bangladesh, Kamboja, Tiongkok, Mesir, Finlandia, Perancis, Georgio, German, Italia, Jepang, Malaysia, Belanda, Portugal, Korea Selatan, Arab Saudi, Singapura, Spanyol, dan Afrika Selatan.
“Menkes mengatakan, fokus pertemuan ini adalah bagaimana dunia harus menghadapi risiko wabah zoonosis. Berbagai pengalaman berharga menghadapi masalah zonoosis dari berbagai negara akan disampaikan dan didiskusikan oleh para ahli guna memperkuat kerja sama regional dan global,” kata Menteri Kesehatan, Nafsiah Mboi, seusai membuka acara tersebut, di Hotel Shanggri-La, Jakarta, Rabu (20/8).
Hadir pula Menteri Pertanian Suswono, perwakilan World Health Organisation (WHO), Organisasi Food Agriculture Organisation (FAO), dan World Oganisation for Animal Health (OIE).
Menurut Menkes, peningkatan penyakit menular baru disebabkan oleh berbagai faktor, seperti perubahan iklim global, penggunaan peptisida dan antimikroba, peningkatan kontak antara manusia, hewan serta perubahan gaya hidup.
Oleh karena itu, pencegahan dan pengendalian zoonosis membutuhkan upaya kolaborasi dari berbagai pemangku kepentingan. Bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga peran swasta, akademisi, praktisi, organisasi profesi dan LSM.
Pada hari pertama pertemuan ini diselenggarakan, Menko Kesra Agung Laksono menyampaikan pengalaman pentingnya kerja sama multisektor dalam pengendalian zoonosis di Indonesia.
Melalui Komnas Pengendalian Zoonosis, Indonesia telah melaksanakan pendekatan One Health sejak 2011 sampai 2013. Pendekatan ini berhasil mengurangi kejadian enam jenis penyakit zoonosis, yaitu rabies, flu burung, Antrax, Leptospiros, Plague, dan Brucellosis.
Brucellosis merupakan penyakit zoonosis menular yang disebabkan bakteri briucella. Di Indonesia, bakteri ini dikenal sebagai reproduksi menular pada ternak. Brucellosis sangat mempengaruhi produktifitas sapi.
"Saat ini beberapa provinsi sudah berhasil dibebaskan dari Brucellonis. Tetapi saya berharap ke depan Indonesia dapat mencukupi kebutuhan daging sapi untuk masyarakat,” katanya.
Perwakilan khusus United States Agency for International Development (USAID) untuk Ketahanan Kesehatan Global, dr Dennis Carroll memaparkan bahwa pertemuan ini diadakan untuk mempercepat aksi untuk kelanjutan ketahanan kesehatan global lima tahun ke depan.
“Melalui GHSA kita berharap dapat menyatukan pandangan umum dan cara dari berbagai negara dalam mengurangi penyebaran dan dampak dari penyakit menular. Kita juga berharap pertemuan ini dapat memperkuat kemampuan seluruh dunia dalam mendeteksi lebih cepat, mencegah, dan merespon wabah penyakit secara efektif,” kata Carroll.
GSHA sendiri dicanangkan di Washington DC dan Gedung PBB, Jenewa, secara bersamaan pada 13 Februari 2014. Pertemuan GSHA pertama dilaksanakan pada 5-6 Mei 2014 di Helsinksi, Finlandia.
Awal inisiatif GHSA digagas oleh Amerika Serikat dan negara maju dengan melibatkan banyak pemangku kepentingan dan multisektor. Selain itu, juga didukung badan-badan dunia di bawah PBB di antaranya , seperti WHO, FAO, OIE. Di Helsinki, GHSA membahas rancangan GHSA Action Packages and Commitmens yang diharapkan dapat dijadikan rujukan bersama di tingkat global dalam mengatasi ancaman penyebaran penyakit infeksi.
Komitmen ini juga dimaksudkan untuk memperkuat realisasi International Health Regulation (IHR) yang telah dicanangkan WHO sebelumnya. Pada pertemuan itu, Indonesia menyatakan menjadi prakarsa kerja sama dan bersedia menjadi tuan rumah pertemuan. (Bs/Gs).
Jakarta, 21 Agustus - Dalam tiga dekade terakhir, kemunculan penyakit menular baru cenderung meningkat. Penyakit bersumber binatang (zonoosis), infeksi yang ditularkan di antara hewan vertebrata dan menusia atau sebaliknya, potensial menyebabkan wabah penyakit berbahaya dan menular.
Belum selesai dengan penanggulangan penularan Flu Burung (H5N1) dan Midle East Respiratory Syndrome Corona Virus (MERS CoV), dunia kembali dihebohkan dengan munculnya virus Ebola yang saat ini mewabah di kawasan Afrika Barat, khususnya di Guinena, Liberia, Sierra, dan Nigeria. Wabah ini telah ditetapkan sebagai status darurat kesehatan internasional oleh WHO pada 7 Agustus 2014.
Menghadapi ancaman penyakit menular tersebut, sebanyak 37 negara melakukan pertemuan untuk membahas masalah ini dalam acara Global Meeting on Infectious Diseases yang diselenggarakan di Jakarta sejak 20-21 Agustus 2014. Acara ini merupakan tindak lanjut dari inisiatif Global Health Security Agenda (GHSA).
Seperti diberitakan situs Berita satu,Negara yang hadir antara lain, Argentina, Australia, Bangladesh, Kamboja, Tiongkok, Mesir, Finlandia, Perancis, Georgio, German, Italia, Jepang, Malaysia, Belanda, Portugal, Korea Selatan, Arab Saudi, Singapura, Spanyol, dan Afrika Selatan.
“Menkes mengatakan, fokus pertemuan ini adalah bagaimana dunia harus menghadapi risiko wabah zoonosis. Berbagai pengalaman berharga menghadapi masalah zonoosis dari berbagai negara akan disampaikan dan didiskusikan oleh para ahli guna memperkuat kerja sama regional dan global,” kata Menteri Kesehatan, Nafsiah Mboi, seusai membuka acara tersebut, di Hotel Shanggri-La, Jakarta, Rabu (20/8).
Hadir pula Menteri Pertanian Suswono, perwakilan World Health Organisation (WHO), Organisasi Food Agriculture Organisation (FAO), dan World Oganisation for Animal Health (OIE).
Menurut Menkes, peningkatan penyakit menular baru disebabkan oleh berbagai faktor, seperti perubahan iklim global, penggunaan peptisida dan antimikroba, peningkatan kontak antara manusia, hewan serta perubahan gaya hidup.
Oleh karena itu, pencegahan dan pengendalian zoonosis membutuhkan upaya kolaborasi dari berbagai pemangku kepentingan. Bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga peran swasta, akademisi, praktisi, organisasi profesi dan LSM.
Pada hari pertama pertemuan ini diselenggarakan, Menko Kesra Agung Laksono menyampaikan pengalaman pentingnya kerja sama multisektor dalam pengendalian zoonosis di Indonesia.
Melalui Komnas Pengendalian Zoonosis, Indonesia telah melaksanakan pendekatan One Health sejak 2011 sampai 2013. Pendekatan ini berhasil mengurangi kejadian enam jenis penyakit zoonosis, yaitu rabies, flu burung, Antrax, Leptospiros, Plague, dan Brucellosis.
Brucellosis merupakan penyakit zoonosis menular yang disebabkan bakteri briucella. Di Indonesia, bakteri ini dikenal sebagai reproduksi menular pada ternak. Brucellosis sangat mempengaruhi produktifitas sapi.
"Saat ini beberapa provinsi sudah berhasil dibebaskan dari Brucellonis. Tetapi saya berharap ke depan Indonesia dapat mencukupi kebutuhan daging sapi untuk masyarakat,” katanya.
Perwakilan khusus United States Agency for International Development (USAID) untuk Ketahanan Kesehatan Global, dr Dennis Carroll memaparkan bahwa pertemuan ini diadakan untuk mempercepat aksi untuk kelanjutan ketahanan kesehatan global lima tahun ke depan.
“Melalui GHSA kita berharap dapat menyatukan pandangan umum dan cara dari berbagai negara dalam mengurangi penyebaran dan dampak dari penyakit menular. Kita juga berharap pertemuan ini dapat memperkuat kemampuan seluruh dunia dalam mendeteksi lebih cepat, mencegah, dan merespon wabah penyakit secara efektif,” kata Carroll.
GSHA sendiri dicanangkan di Washington DC dan Gedung PBB, Jenewa, secara bersamaan pada 13 Februari 2014. Pertemuan GSHA pertama dilaksanakan pada 5-6 Mei 2014 di Helsinksi, Finlandia.
Awal inisiatif GHSA digagas oleh Amerika Serikat dan negara maju dengan melibatkan banyak pemangku kepentingan dan multisektor. Selain itu, juga didukung badan-badan dunia di bawah PBB di antaranya , seperti WHO, FAO, OIE. Di Helsinki, GHSA membahas rancangan GHSA Action Packages and Commitmens yang diharapkan dapat dijadikan rujukan bersama di tingkat global dalam mengatasi ancaman penyebaran penyakit infeksi.
Komitmen ini juga dimaksudkan untuk memperkuat realisasi International Health Regulation (IHR) yang telah dicanangkan WHO sebelumnya. Pada pertemuan itu, Indonesia menyatakan menjadi prakarsa kerja sama dan bersedia menjadi tuan rumah pertemuan. (Bs/Gs).
Jakarta, 21 Agustus - Dalam tiga dekade terakhir, kemunculan penyakit menular baru cenderung meningkat. Penyakit bersumber binatang (zonoosis), infeksi yang ditularkan di antara hewan vertebrata dan menusia atau sebaliknya, potensial menyebabkan wabah penyakit berbahaya dan menular.
Belum selesai dengan penanggulangan penularan Flu Burung (H5N1) dan Midle East Respiratory Syndrome Corona Virus (MERS CoV), dunia kembali dihebohkan dengan munculnya virus Ebola yang saat ini mewabah di kawasan Afrika Barat, khususnya di Guinena, Liberia, Sierra, dan Nigeria. Wabah ini telah ditetapkan sebagai status darurat kesehatan internasional oleh WHO pada 7 Agustus 2014.
Menghadapi ancaman penyakit menular tersebut, sebanyak 37 negara melakukan pertemuan untuk membahas masalah ini dalam acara Global Meeting on Infectious Diseases yang diselenggarakan di Jakarta sejak 20-21 Agustus 2014. Acara ini merupakan tindak lanjut dari inisiatif Global Health Security Agenda (GHSA).
Seperti diberitakan situs Berita satu,Negara yang hadir antara lain, Argentina, Australia, Bangladesh, Kamboja, Tiongkok, Mesir, Finlandia, Perancis, Georgio, German, Italia, Jepang, Malaysia, Belanda, Portugal, Korea Selatan, Arab Saudi, Singapura, Spanyol, dan Afrika Selatan.
“Menkes mengatakan, fokus pertemuan ini adalah bagaimana dunia harus menghadapi risiko wabah zoonosis. Berbagai pengalaman berharga menghadapi masalah zonoosis dari berbagai negara akan disampaikan dan didiskusikan oleh para ahli guna memperkuat kerja sama regional dan global,” kata Menteri Kesehatan, Nafsiah Mboi, seusai membuka acara tersebut, di Hotel Shanggri-La, Jakarta, Rabu (20/8).
Hadir pula Menteri Pertanian Suswono, perwakilan World Health Organisation (WHO), Organisasi Food Agriculture Organisation (FAO), dan World Oganisation for Animal Health (OIE).
Menurut Menkes, peningkatan penyakit menular baru disebabkan oleh berbagai faktor, seperti perubahan iklim global, penggunaan peptisida dan antimikroba, peningkatan kontak antara manusia, hewan serta perubahan gaya hidup.
Oleh karena itu, pencegahan dan pengendalian zoonosis membutuhkan upaya kolaborasi dari berbagai pemangku kepentingan. Bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga peran swasta, akademisi, praktisi, organisasi profesi dan LSM.
Pada hari pertama pertemuan ini diselenggarakan, Menko Kesra Agung Laksono menyampaikan pengalaman pentingnya kerja sama multisektor dalam pengendalian zoonosis di Indonesia.
Melalui Komnas Pengendalian Zoonosis, Indonesia telah melaksanakan pendekatan One Health sejak 2011 sampai 2013. Pendekatan ini berhasil mengurangi kejadian enam jenis penyakit zoonosis, yaitu rabies, flu burung, Antrax, Leptospiros, Plague, dan Brucellosis.
Brucellosis merupakan penyakit zoonosis menular yang disebabkan bakteri briucella. Di Indonesia, bakteri ini dikenal sebagai reproduksi menular pada ternak. Brucellosis sangat mempengaruhi produktifitas sapi.
"Saat ini beberapa provinsi sudah berhasil dibebaskan dari Brucellonis. Tetapi saya berharap ke depan Indonesia dapat mencukupi kebutuhan daging sapi untuk masyarakat,” katanya.
Perwakilan khusus United States Agency for International Development (USAID) untuk Ketahanan Kesehatan Global, dr Dennis Carroll memaparkan bahwa pertemuan ini diadakan untuk mempercepat aksi untuk kelanjutan ketahanan kesehatan global lima tahun ke depan.
“Melalui GHSA kita berharap dapat menyatukan pandangan umum dan cara dari berbagai negara dalam mengurangi penyebaran dan dampak dari penyakit menular. Kita juga berharap pertemuan ini dapat memperkuat kemampuan seluruh dunia dalam mendeteksi lebih cepat, mencegah, dan merespon wabah penyakit secara efektif,” kata Carroll.
GSHA sendiri dicanangkan di Washington DC dan Gedung PBB, Jenewa, secara bersamaan pada 13 Februari 2014. Pertemuan GSHA pertama dilaksanakan pada 5-6 Mei 2014 di Helsinksi, Finlandia.
Awal inisiatif GHSA digagas oleh Amerika Serikat dan negara maju dengan melibatkan banyak pemangku kepentingan dan multisektor. Selain itu, juga didukung badan-badan dunia di bawah PBB di antaranya , seperti WHO, FAO, OIE. Di Helsinki, GHSA membahas rancangan GHSA Action Packages and Commitmens yang diharapkan dapat dijadikan rujukan bersama di tingkat global dalam mengatasi ancaman penyebaran penyakit infeksi.
Komitmen ini juga dimaksudkan untuk memperkuat realisasi International Health Regulation (IHR) yang telah dicanangkan WHO sebelumnya. Pada pertemuan itu, Indonesia menyatakan menjadi prakarsa kerja sama dan bersedia menjadi tuan rumah pertemuan. (Bs/Gs).
Jakarta, 21 Agustus - Dalam tiga dekade terakhir, kemunculan penyakit menular baru cenderung meningkat. Penyakit bersumber binatang (zonoosis), infeksi yang ditularkan di antara hewan vertebrata dan menusia atau sebaliknya, potensial menyebabkan wabah penyakit berbahaya dan menular.
Belum selesai dengan penanggulangan penularan Flu Burung (H5N1) dan Midle East Respiratory Syndrome Corona Virus (MERS CoV), dunia kembali dihebohkan dengan munculnya virus Ebola yang saat ini mewabah di kawasan Afrika Barat, khususnya di Guinena, Liberia, Sierra, dan Nigeria. Wabah ini telah ditetapkan sebagai status darurat kesehatan internasional oleh WHO pada 7 Agustus 2014.
Menghadapi ancaman penyakit menular tersebut, sebanyak 37 negara melakukan pertemuan untuk membahas masalah ini dalam acara Global Meeting on Infectious Diseases yang diselenggarakan di Jakarta sejak 20-21 Agustus 2014. Acara ini merupakan tindak lanjut dari inisiatif Global Health Security Agenda (GHSA).
Seperti diberitakan situs Berita satu,Negara yang hadir antara lain, Argentina, Australia, Bangladesh, Kamboja, Tiongkok, Mesir, Finlandia, Perancis, Georgio, German, Italia, Jepang, Malaysia, Belanda, Portugal, Korea Selatan, Arab Saudi, Singapura, Spanyol, dan Afrika Selatan.
“Menkes mengatakan, fokus pertemuan ini adalah bagaimana dunia harus menghadapi risiko wabah zoonosis. Berbagai pengalaman berharga menghadapi masalah zonoosis dari berbagai negara akan disampaikan dan didiskusikan oleh para ahli guna memperkuat kerja sama regional dan global,” kata Menteri Kesehatan, Nafsiah Mboi, seusai membuka acara tersebut, di Hotel Shanggri-La, Jakarta, Rabu (20/8).
Hadir pula Menteri Pertanian Suswono, perwakilan World Health Organisation (WHO), Organisasi Food Agriculture Organisation (FAO), dan World Oganisation for Animal Health (OIE).
Menurut Menkes, peningkatan penyakit menular baru disebabkan oleh berbagai faktor, seperti perubahan iklim global, penggunaan peptisida dan antimikroba, peningkatan kontak antara manusia, hewan serta perubahan gaya hidup.
Oleh karena itu, pencegahan dan pengendalian zoonosis membutuhkan upaya kolaborasi dari berbagai pemangku kepentingan. Bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga peran swasta, akademisi, praktisi, organisasi profesi dan LSM.
Pada hari pertama pertemuan ini diselenggarakan, Menko Kesra Agung Laksono menyampaikan pengalaman pentingnya kerja sama multisektor dalam pengendalian zoonosis di Indonesia.
Melalui Komnas Pengendalian Zoonosis, Indonesia telah melaksanakan pendekatan One Health sejak 2011 sampai 2013. Pendekatan ini berhasil mengurangi kejadian enam jenis penyakit zoonosis, yaitu rabies, flu burung, Antrax, Leptospiros, Plague, dan Brucellosis.
Brucellosis merupakan penyakit zoonosis menular yang disebabkan bakteri briucella. Di Indonesia, bakteri ini dikenal sebagai reproduksi menular pada ternak. Brucellosis sangat mempengaruhi produktifitas sapi.
"Saat ini beberapa provinsi sudah berhasil dibebaskan dari Brucellonis. Tetapi saya berharap ke depan Indonesia dapat mencukupi kebutuhan daging sapi untuk masyarakat,” katanya.
Perwakilan khusus United States Agency for International Development (USAID) untuk Ketahanan Kesehatan Global, dr Dennis Carroll memaparkan bahwa pertemuan ini diadakan untuk mempercepat aksi untuk kelanjutan ketahanan kesehatan global lima tahun ke depan.
“Melalui GHSA kita berharap dapat menyatukan pandangan umum dan cara dari berbagai negara dalam mengurangi penyebaran dan dampak dari penyakit menular. Kita juga berharap pertemuan ini dapat memperkuat kemampuan seluruh dunia dalam mendeteksi lebih cepat, mencegah, dan merespon wabah penyakit secara efektif,” kata Carroll.
GSHA sendiri dicanangkan di Washington DC dan Gedung PBB, Jenewa, secara bersamaan pada 13 Februari 2014. Pertemuan GSHA pertama dilaksanakan pada 5-6 Mei 2014 di Helsinksi, Finlandia.
Awal inisiatif GHSA digagas oleh Amerika Serikat dan negara maju dengan melibatkan banyak pemangku kepentingan dan multisektor. Selain itu, juga didukung badan-badan dunia di bawah PBB di antaranya , seperti WHO, FAO, OIE. Di Helsinki, GHSA membahas rancangan GHSA Action Packages and Commitmens yang diharapkan dapat dijadikan rujukan bersama di tingkat global dalam mengatasi ancaman penyebaran penyakit infeksi.
Komitmen ini juga dimaksudkan untuk memperkuat realisasi International Health Regulation (IHR) yang telah dicanangkan WHO sebelumnya. Pada pertemuan itu, Indonesia menyatakan menjadi prakarsa kerja sama dan bersedia menjadi tuan rumah pertemuan. (Bs/Gs).
Jakarta, 21 Agustus - Dalam tiga dekade terakhir, kemunculan penyakit menular baru cenderung meningkat. Penyakit bersumber binatang (zonoosis), infeksi yang ditularkan di antara hewan vertebrata dan menusia atau sebaliknya, potensial menyebabkan wabah penyakit berbahaya dan menular.
Belum selesai dengan penanggulangan penularan Flu Burung (H5N1) dan Midle East Respiratory Syndrome Corona Virus (MERS CoV), dunia kembali dihebohkan dengan munculnya virus Ebola yang saat ini mewabah di kawasan Afrika Barat, khususnya di Guinena, Liberia, Sierra, dan Nigeria. Wabah ini telah ditetapkan sebagai status darurat kesehatan internasional oleh WHO pada 7 Agustus 2014.
Menghadapi ancaman penyakit menular tersebut, sebanyak 37 negara melakukan pertemuan untuk membahas masalah ini dalam acara Global Meeting on Infectious Diseases yang diselenggarakan di Jakarta sejak 20-21 Agustus 2014. Acara ini merupakan tindak lanjut dari inisiatif Global Health Security Agenda (GHSA).
Seperti diberitakan situs Berita satu,Negara yang hadir antara lain, Argentina, Australia, Bangladesh, Kamboja, Tiongkok, Mesir, Finlandia, Perancis, Georgio, German, Italia, Jepang, Malaysia, Belanda, Portugal, Korea Selatan, Arab Saudi, Singapura, Spanyol, dan Afrika Selatan.
“Menkes mengatakan, fokus pertemuan ini adalah bagaimana dunia harus menghadapi risiko wabah zoonosis. Berbagai pengalaman berharga menghadapi masalah zonoosis dari berbagai negara akan disampaikan dan didiskusikan oleh para ahli guna memperkuat kerja sama regional dan global,” kata Menteri Kesehatan, Nafsiah Mboi, seusai membuka acara tersebut, di Hotel Shanggri-La, Jakarta, Rabu (20/8).
Hadir pula Menteri Pertanian Suswono, perwakilan World Health Organisation (WHO), Organisasi Food Agriculture Organisation (FAO), dan World Oganisation for Animal Health (OIE).
Menurut Menkes, peningkatan penyakit menular baru disebabkan oleh berbagai faktor, seperti perubahan iklim global, penggunaan peptisida dan antimikroba, peningkatan kontak antara manusia, hewan serta perubahan gaya hidup.
Oleh karena itu, pencegahan dan pengendalian zoonosis membutuhkan upaya kolaborasi dari berbagai pemangku kepentingan. Bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga peran swasta, akademisi, praktisi, organisasi profesi dan LSM.
Pada hari pertama pertemuan ini diselenggarakan, Menko Kesra Agung Laksono menyampaikan pengalaman pentingnya kerja sama multisektor dalam pengendalian zoonosis di Indonesia.
Melalui Komnas Pengendalian Zoonosis, Indonesia telah melaksanakan pendekatan One Health sejak 2011 sampai 2013. Pendekatan ini berhasil mengurangi kejadian enam jenis penyakit zoonosis, yaitu rabies, flu burung, Antrax, Leptospiros, Plague, dan Brucellosis.
Brucellosis merupakan penyakit zoonosis menular yang disebabkan bakteri briucella. Di Indonesia, bakteri ini dikenal sebagai reproduksi menular pada ternak. Brucellosis sangat mempengaruhi produktifitas sapi.
"Saat ini beberapa provinsi sudah berhasil dibebaskan dari Brucellonis. Tetapi saya berharap ke depan Indonesia dapat mencukupi kebutuhan daging sapi untuk masyarakat,” katanya.
Perwakilan khusus United States Agency for International Development (USAID) untuk Ketahanan Kesehatan Global, dr Dennis Carroll memaparkan bahwa pertemuan ini diadakan untuk mempercepat aksi untuk kelanjutan ketahanan kesehatan global lima tahun ke depan.
“Melalui GHSA kita berharap dapat menyatukan pandangan umum dan cara dari berbagai negara dalam mengurangi penyebaran dan dampak dari penyakit menular. Kita juga berharap pertemuan ini dapat memperkuat kemampuan seluruh dunia dalam mendeteksi lebih cepat, mencegah, dan merespon wabah penyakit secara efektif,” kata Carroll.
GSHA sendiri dicanangkan di Washington DC dan Gedung PBB, Jenewa, secara bersamaan pada 13 Februari 2014. Pertemuan GSHA pertama dilaksanakan pada 5-6 Mei 2014 di Helsinksi, Finlandia.
Awal inisiatif GHSA digagas oleh Amerika Serikat dan negara maju dengan melibatkan banyak pemangku kepentingan dan multisektor. Selain itu, juga didukung badan-badan dunia di bawah PBB di antaranya , seperti WHO, FAO, OIE. Di Helsinki, GHSA membahas rancangan GHSA Action Packages and Commitmens yang diharapkan dapat dijadikan rujukan bersama di tingkat global dalam mengatasi ancaman penyebaran penyakit infeksi.
Komitmen ini juga dimaksudkan untuk memperkuat realisasi International Health Regulation (IHR) yang telah dicanangkan WHO sebelumnya. Pada pertemuan itu, Indonesia menyatakan menjadi prakarsa kerja sama dan bersedia menjadi tuan rumah pertemuan. (Bs/Gs).
Jakarta, 21 Agustus - Dalam tiga dekade terakhir, kemunculan penyakit menular baru cenderung meningkat. Penyakit bersumber binatang (zonoosis), infeksi yang ditularkan di antara hewan vertebrata dan menusia atau sebaliknya, potensial menyebabkan wabah penyakit berbahaya dan menular.
Belum selesai dengan penanggulangan penularan Flu Burung (H5N1) dan Midle East Respiratory Syndrome Corona Virus (MERS CoV), dunia kembali dihebohkan dengan munculnya virus Ebola yang saat ini mewabah di kawasan Afrika Barat, khususnya di Guinena, Liberia, Sierra, dan Nigeria. Wabah ini telah ditetapkan sebagai status darurat kesehatan internasional oleh WHO pada 7 Agustus 2014.
Menghadapi ancaman penyakit menular tersebut, sebanyak 37 negara melakukan pertemuan untuk membahas masalah ini dalam acara Global Meeting on Infectious Diseases yang diselenggarakan di Jakarta sejak 20-21 Agustus 2014. Acara ini merupakan tindak lanjut dari inisiatif Global Health Security Agenda (GHSA).
Seperti diberitakan situs Berita satu,Negara yang hadir antara lain, Argentina, Australia, Bangladesh, Kamboja, Tiongkok, Mesir, Finlandia, Perancis, Georgio, German, Italia, Jepang, Malaysia, Belanda, Portugal, Korea Selatan, Arab Saudi, Singapura, Spanyol, dan Afrika Selatan.
“Menkes mengatakan, fokus pertemuan ini adalah bagaimana dunia harus menghadapi risiko wabah zoonosis. Berbagai pengalaman berharga menghadapi masalah zonoosis dari berbagai negara akan disampaikan dan didiskusikan oleh para ahli guna memperkuat kerja sama regional dan global,” kata Menteri Kesehatan, Nafsiah Mboi, seusai membuka acara tersebut, di Hotel Shanggri-La, Jakarta, Rabu (20/8).
Hadir pula Menteri Pertanian Suswono, perwakilan World Health Organisation (WHO), Organisasi Food Agriculture Organisation (FAO), dan World Oganisation for Animal Health (OIE).
Menurut Menkes, peningkatan penyakit menular baru disebabkan oleh berbagai faktor, seperti perubahan iklim global, penggunaan peptisida dan antimikroba, peningkatan kontak antara manusia, hewan serta perubahan gaya hidup.
Oleh karena itu, pencegahan dan pengendalian zoonosis membutuhkan upaya kolaborasi dari berbagai pemangku kepentingan. Bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga peran swasta, akademisi, praktisi, organisasi profesi dan LSM.
Pada hari pertama pertemuan ini diselenggarakan, Menko Kesra Agung Laksono menyampaikan pengalaman pentingnya kerja sama multisektor dalam pengendalian zoonosis di Indonesia.
Melalui Komnas Pengendalian Zoonosis, Indonesia telah melaksanakan pendekatan One Health sejak 2011 sampai 2013. Pendekatan ini berhasil mengurangi kejadian enam jenis penyakit zoonosis, yaitu rabies, flu burung, Antrax, Leptospiros, Plague, dan Brucellosis.
Brucellosis merupakan penyakit zoonosis menular yang disebabkan bakteri briucella. Di Indonesia, bakteri ini dikenal sebagai reproduksi menular pada ternak. Brucellosis sangat mempengaruhi produktifitas sapi.
"Saat ini beberapa provinsi sudah berhasil dibebaskan dari Brucellonis. Tetapi saya berharap ke depan Indonesia dapat mencukupi kebutuhan daging sapi untuk masyarakat,” katanya.
Perwakilan khusus United States Agency for International Development (USAID) untuk Ketahanan Kesehatan Global, dr Dennis Carroll memaparkan bahwa pertemuan ini diadakan untuk mempercepat aksi untuk kelanjutan ketahanan kesehatan global lima tahun ke depan.
“Melalui GHSA kita berharap dapat menyatukan pandangan umum dan cara dari berbagai negara dalam mengurangi penyebaran dan dampak dari penyakit menular. Kita juga berharap pertemuan ini dapat memperkuat kemampuan seluruh dunia dalam mendeteksi lebih cepat, mencegah, dan merespon wabah penyakit secara efektif,” kata Carroll.
GSHA sendiri dicanangkan di Washington DC dan Gedung PBB, Jenewa, secara bersamaan pada 13 Februari 2014. Pertemuan GSHA pertama dilaksanakan pada 5-6 Mei 2014 di Helsinksi, Finlandia.
Awal inisiatif GHSA digagas oleh Amerika Serikat dan negara maju dengan melibatkan banyak pemangku kepentingan dan multisektor. Selain itu, juga didukung badan-badan dunia di bawah PBB di antaranya , seperti WHO, FAO, OIE. Di Helsinki, GHSA membahas rancangan GHSA Action Packages and Commitmens yang diharapkan dapat dijadikan rujukan bersama di tingkat global dalam mengatasi ancaman penyebaran penyakit infeksi.
Komitmen ini juga dimaksudkan untuk memperkuat realisasi International Health Regulation (IHR) yang telah dicanangkan WHO sebelumnya. Pada pertemuan itu, Indonesia menyatakan menjadi prakarsa kerja sama dan bersedia menjadi tuan rumah pertemuan. (Bs/Gs).
Jakarta, 21 Agustus - Dalam tiga dekade terakhir, kemunculan penyakit menular baru cenderung meningkat. Penyakit bersumber binatang (zonoosis), infeksi yang ditularkan di antara hewan vertebrata dan menusia atau sebaliknya, potensial menyebabkan wabah penyakit berbahaya dan menular.
Belum selesai dengan penanggulangan penularan Flu Burung (H5N1) dan Midle East Respiratory Syndrome Corona Virus (MERS CoV), dunia kembali dihebohkan dengan munculnya virus Ebola yang saat ini mewabah di kawasan Afrika Barat, khususnya di Guinena, Liberia, Sierra, dan Nigeria. Wabah ini telah ditetapkan sebagai status darurat kesehatan internasional oleh WHO pada 7 Agustus 2014.
Menghadapi ancaman penyakit menular tersebut, sebanyak 37 negara melakukan pertemuan untuk membahas masalah ini dalam acara Global Meeting on Infectious Diseases yang diselenggarakan di Jakarta sejak 20-21 Agustus 2014. Acara ini merupakan tindak lanjut dari inisiatif Global Health Security Agenda (GHSA).
Seperti diberitakan situs Berita satu,Negara yang hadir antara lain, Argentina, Australia, Bangladesh, Kamboja, Tiongkok, Mesir, Finlandia, Perancis, Georgio, German, Italia, Jepang, Malaysia, Belanda, Portugal, Korea Selatan, Arab Saudi, Singapura, Spanyol, dan Afrika Selatan.
“Menkes mengatakan, fokus pertemuan ini adalah bagaimana dunia harus menghadapi risiko wabah zoonosis. Berbagai pengalaman berharga menghadapi masalah zonoosis dari berbagai negara akan disampaikan dan didiskusikan oleh para ahli guna memperkuat kerja sama regional dan global,” kata Menteri Kesehatan, Nafsiah Mboi, seusai membuka acara tersebut, di Hotel Shanggri-La, Jakarta, Rabu (20/8).
Hadir pula Menteri Pertanian Suswono, perwakilan World Health Organisation (WHO), Organisasi Food Agriculture Organisation (FAO), dan World Oganisation for Animal Health (OIE).
Menurut Menkes, peningkatan penyakit menular baru disebabkan oleh berbagai faktor, seperti perubahan iklim global, penggunaan peptisida dan antimikroba, peningkatan kontak antara manusia, hewan serta perubahan gaya hidup.
Oleh karena itu, pencegahan dan pengendalian zoonosis membutuhkan upaya kolaborasi dari berbagai pemangku kepentingan. Bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga peran swasta, akademisi, praktisi, organisasi profesi dan LSM.
Pada hari pertama pertemuan ini diselenggarakan, Menko Kesra Agung Laksono menyampaikan pengalaman pentingnya kerja sama multisektor dalam pengendalian zoonosis di Indonesia.
Melalui Komnas Pengendalian Zoonosis, Indonesia telah melaksanakan pendekatan One Health sejak 2011 sampai 2013. Pendekatan ini berhasil mengurangi kejadian enam jenis penyakit zoonosis, yaitu rabies, flu burung, Antrax, Leptospiros, Plague, dan Brucellosis.
Brucellosis merupakan penyakit zoonosis menular yang disebabkan bakteri briucella. Di Indonesia, bakteri ini dikenal sebagai reproduksi menular pada ternak. Brucellosis sangat mempengaruhi produktifitas sapi.
"Saat ini beberapa provinsi sudah berhasil dibebaskan dari Brucellonis. Tetapi saya berharap ke depan Indonesia dapat mencukupi kebutuhan daging sapi untuk masyarakat,” katanya.
Perwakilan khusus United States Agency for International Development (USAID) untuk Ketahanan Kesehatan Global, dr Dennis Carroll memaparkan bahwa pertemuan ini diadakan untuk mempercepat aksi untuk kelanjutan ketahanan kesehatan global lima tahun ke depan.
“Melalui GHSA kita berharap dapat menyatukan pandangan umum dan cara dari berbagai negara dalam mengurangi penyebaran dan dampak dari penyakit menular. Kita juga berharap pertemuan ini dapat memperkuat kemampuan seluruh dunia dalam mendeteksi lebih cepat, mencegah, dan merespon wabah penyakit secara efektif,” kata Carroll.
GSHA sendiri dicanangkan di Washington DC dan Gedung PBB, Jenewa, secara bersamaan pada 13 Februari 2014. Pertemuan GSHA pertama dilaksanakan pada 5-6 Mei 2014 di Helsinksi, Finlandia.
Awal inisiatif GHSA digagas oleh Amerika Serikat dan negara maju dengan melibatkan banyak pemangku kepentingan dan multisektor. Selain itu, juga didukung badan-badan dunia di bawah PBB di antaranya , seperti WHO, FAO, OIE. Di Helsinki, GHSA membahas rancangan GHSA Action Packages and Commitmens yang diharapkan dapat dijadikan rujukan bersama di tingkat global dalam mengatasi ancaman penyebaran penyakit infeksi.
Komitmen ini juga dimaksudkan untuk memperkuat realisasi International Health Regulation (IHR) yang telah dicanangkan WHO sebelumnya. Pada pertemuan itu, Indonesia menyatakan menjadi prakarsa kerja sama dan bersedia menjadi tuan rumah pertemuan. (Bs/Gs).
Jakarta, 21 Agustus - Dalam tiga dekade terakhir, kemunculan penyakit menular baru cenderung meningkat. Penyakit bersumber binatang (zonoosis), infeksi yang ditularkan di antara hewan vertebrata dan menusia atau sebaliknya, potensial menyebabkan wabah penyakit berbahaya dan menular.
Belum selesai dengan penanggulangan penularan Flu Burung (H5N1) dan Midle East Respiratory Syndrome Corona Virus (MERS CoV), dunia kembali dihebohkan dengan munculnya virus Ebola yang saat ini mewabah di kawasan Afrika Barat, khususnya di Guinena, Liberia, Sierra, dan Nigeria. Wabah ini telah ditetapkan sebagai status darurat kesehatan internasional oleh WHO pada 7 Agustus 2014.
Menghadapi ancaman penyakit menular tersebut, sebanyak 37 negara melakukan pertemuan untuk membahas masalah ini dalam acara Global Meeting on Infectious Diseases yang diselenggarakan di Jakarta sejak 20-21 Agustus 2014. Acara ini merupakan tindak lanjut dari inisiatif Global Health Security Agenda (GHSA).
Seperti diberitakan situs Berita satu,Negara yang hadir antara lain, Argentina, Australia, Bangladesh, Kamboja, Tiongkok, Mesir, Finlandia, Perancis, Georgio, German, Italia, Jepang, Malaysia, Belanda, Portugal, Korea Selatan, Arab Saudi, Singapura, Spanyol, dan Afrika Selatan.
“Menkes mengatakan, fokus pertemuan ini adalah bagaimana dunia harus menghadapi risiko wabah zoonosis. Berbagai pengalaman berharga menghadapi masalah zonoosis dari berbagai negara akan disampaikan dan didiskusikan oleh para ahli guna memperkuat kerja sama regional dan global,” kata Menteri Kesehatan, Nafsiah Mboi, seusai membuka acara tersebut, di Hotel Shanggri-La, Jakarta, Rabu (20/8).
Hadir pula Menteri Pertanian Suswono, perwakilan World Health Organisation (WHO), Organisasi Food Agriculture Organisation (FAO), dan World Oganisation for Animal Health (OIE).
Menurut Menkes, peningkatan penyakit menular baru disebabkan oleh berbagai faktor, seperti perubahan iklim global, penggunaan peptisida dan antimikroba, peningkatan kontak antara manusia, hewan serta perubahan gaya hidup.
Oleh karena itu, pencegahan dan pengendalian zoonosis membutuhkan upaya kolaborasi dari berbagai pemangku kepentingan. Bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga peran swasta, akademisi, praktisi, organisasi profesi dan LSM.
Pada hari pertama pertemuan ini diselenggarakan, Menko Kesra Agung Laksono menyampaikan pengalaman pentingnya kerja sama multisektor dalam pengendalian zoonosis di Indonesia.
Melalui Komnas Pengendalian Zoonosis, Indonesia telah melaksanakan pendekatan One Health sejak 2011 sampai 2013. Pendekatan ini berhasil mengurangi kejadian enam jenis penyakit zoonosis, yaitu rabies, flu burung, Antrax, Leptospiros, Plague, dan Brucellosis.
Brucellosis merupakan penyakit zoonosis menular yang disebabkan bakteri briucella. Di Indonesia, bakteri ini dikenal sebagai reproduksi menular pada ternak. Brucellosis sangat mempengaruhi produktifitas sapi.
"Saat ini beberapa provinsi sudah berhasil dibebaskan dari Brucellonis. Tetapi saya berharap ke depan Indonesia dapat mencukupi kebutuhan daging sapi untuk masyarakat,” katanya.
Perwakilan khusus United States Agency for International Development (USAID) untuk Ketahanan Kesehatan Global, dr Dennis Carroll memaparkan bahwa pertemuan ini diadakan untuk mempercepat aksi untuk kelanjutan ketahanan kesehatan global lima tahun ke depan.
“Melalui GHSA kita berharap dapat menyatukan pandangan umum dan cara dari berbagai negara dalam mengurangi penyebaran dan dampak dari penyakit menular. Kita juga berharap pertemuan ini dapat memperkuat kemampuan seluruh dunia dalam mendeteksi lebih cepat, mencegah, dan merespon wabah penyakit secara efektif,” kata Carroll.
GSHA sendiri dicanangkan di Washington DC dan Gedung PBB, Jenewa, secara bersamaan pada 13 Februari 2014. Pertemuan GSHA pertama dilaksanakan pada 5-6 Mei 2014 di Helsinksi, Finlandia.
Awal inisiatif GHSA digagas oleh Amerika Serikat dan negara maju dengan melibatkan banyak pemangku kepentingan dan multisektor. Selain itu, juga didukung badan-badan dunia di bawah PBB di antaranya , seperti WHO, FAO, OIE. Di Helsinki, GHSA membahas rancangan GHSA Action Packages and Commitmens yang diharapkan dapat dijadikan rujukan bersama di tingkat global dalam mengatasi ancaman penyebaran penyakit infeksi.
Komitmen ini juga dimaksudkan untuk memperkuat realisasi International Health Regulation (IHR) yang telah dicanangkan WHO sebelumnya. Pada pertemuan itu, Indonesia menyatakan menjadi prakarsa kerja sama dan bersedia menjadi tuan rumah pertemuan. (Bs/Gs).
Jakarta, 21 Agustus - Dalam tiga dekade terakhir, kemunculan penyakit menular baru cenderung meningkat. Penyakit bersumber binatang (zonoosis), infeksi yang ditularkan di antara hewan vertebrata dan menusia atau sebaliknya, potensial menyebabkan wabah penyakit berbahaya dan menular.
Belum selesai dengan penanggulangan penularan Flu Burung (H5N1) dan Midle East Respiratory Syndrome Corona Virus (MERS CoV), dunia kembali dihebohkan dengan munculnya virus Ebola yang saat ini mewabah di kawasan Afrika Barat, khususnya di Guinena, Liberia, Sierra, dan Nigeria. Wabah ini telah ditetapkan sebagai status darurat kesehatan internasional oleh WHO pada 7 Agustus 2014.
Menghadapi ancaman penyakit menular tersebut, sebanyak 37 negara melakukan pertemuan untuk membahas masalah ini dalam acara Global Meeting on Infectious Diseases yang diselenggarakan di Jakarta sejak 20-21 Agustus 2014. Acara ini merupakan tindak lanjut dari inisiatif Global Health Security Agenda (GHSA).
Seperti diberitakan situs Berita satu,Negara yang hadir antara lain, Argentina, Australia, Bangladesh, Kamboja, Tiongkok, Mesir, Finlandia, Perancis, Georgio, German, Italia, Jepang, Malaysia, Belanda, Portugal, Korea Selatan, Arab Saudi, Singapura, Spanyol, dan Afrika Selatan.
“Menkes mengatakan, fokus pertemuan ini adalah bagaimana dunia harus menghadapi risiko wabah zoonosis. Berbagai pengalaman berharga menghadapi masalah zonoosis dari berbagai negara akan disampaikan dan didiskusikan oleh para ahli guna memperkuat kerja sama regional dan global,” kata Menteri Kesehatan, Nafsiah Mboi, seusai membuka acara tersebut, di Hotel Shanggri-La, Jakarta, Rabu (20/8).
Hadir pula Menteri Pertanian Suswono, perwakilan World Health Organisation (WHO), Organisasi Food Agriculture Organisation (FAO), dan World Oganisation for Animal Health (OIE).
Menurut Menkes, peningkatan penyakit menular baru disebabkan oleh berbagai faktor, seperti perubahan iklim global, penggunaan peptisida dan antimikroba, peningkatan kontak antara manusia, hewan serta perubahan gaya hidup.
Oleh karena itu, pencegahan dan pengendalian zoonosis membutuhkan upaya kolaborasi dari berbagai pemangku kepentingan. Bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga peran swasta, akademisi, praktisi, organisasi profesi dan LSM.
Pada hari pertama pertemuan ini diselenggarakan, Menko Kesra Agung Laksono menyampaikan pengalaman pentingnya kerja sama multisektor dalam pengendalian zoonosis di Indonesia.
Melalui Komnas Pengendalian Zoonosis, Indonesia telah melaksanakan pendekatan One Health sejak 2011 sampai 2013. Pendekatan ini berhasil mengurangi kejadian enam jenis penyakit zoonosis, yaitu rabies, flu burung, Antrax, Leptospiros, Plague, dan Brucellosis.
Brucellosis merupakan penyakit zoonosis menular yang disebabkan bakteri briucella. Di Indonesia, bakteri ini dikenal sebagai reproduksi menular pada ternak. Brucellosis sangat mempengaruhi produktifitas sapi.
"Saat ini beberapa provinsi sudah berhasil dibebaskan dari Brucellonis. Tetapi saya berharap ke depan Indonesia dapat mencukupi kebutuhan daging sapi untuk masyarakat,” katanya.
Perwakilan khusus United States Agency for International Development (USAID) untuk Ketahanan Kesehatan Global, dr Dennis Carroll memaparkan bahwa pertemuan ini diadakan untuk mempercepat aksi untuk kelanjutan ketahanan kesehatan global lima tahun ke depan.
“Melalui GHSA kita berharap dapat menyatukan pandangan umum dan cara dari berbagai negara dalam mengurangi penyebaran dan dampak dari penyakit menular. Kita juga berharap pertemuan ini dapat memperkuat kemampuan seluruh dunia dalam mendeteksi lebih cepat, mencegah, dan merespon wabah penyakit secara efektif,” kata Carroll.
GSHA sendiri dicanangkan di Washington DC dan Gedung PBB, Jenewa, secara bersamaan pada 13 Februari 2014. Pertemuan GSHA pertama dilaksanakan pada 5-6 Mei 2014 di Helsinksi, Finlandia.
Awal inisiatif GHSA digagas oleh Amerika Serikat dan negara maju dengan melibatkan banyak pemangku kepentingan dan multisektor. Selain itu, juga didukung badan-badan dunia di bawah PBB di antaranya , seperti WHO, FAO, OIE. Di Helsinki, GHSA membahas rancangan GHSA Action Packages and Commitmens yang diharapkan dapat dijadikan rujukan bersama di tingkat global dalam mengatasi ancaman penyebaran penyakit infeksi.
Komitmen ini juga dimaksudkan untuk memperkuat realisasi International Health Regulation (IHR) yang telah dicanangkan WHO sebelumnya. Pada pertemuan itu, Indonesia menyatakan menjadi prakarsa kerja sama dan bersedia menjadi tuan rumah pertemuan. (Bs/Gs).
Jakarta, 21 Agustus - Dalam tiga dekade terakhir, kemunculan penyakit menular baru cenderung meningkat. Penyakit bersumber binatang (zonoosis), infeksi yang ditularkan di antara hewan vertebrata dan menusia atau sebaliknya, potensial menyebabkan wabah penyakit berbahaya dan menular.
Belum selesai dengan penanggulangan penularan Flu Burung (H5N1) dan Midle East Respiratory Syndrome Corona Virus (MERS CoV), dunia kembali dihebohkan dengan munculnya virus Ebola yang saat ini mewabah di kawasan Afrika Barat, khususnya di Guinena, Liberia, Sierra, dan Nigeria. Wabah ini telah ditetapkan sebagai status darurat kesehatan internasional oleh WHO pada 7 Agustus 2014.
Menghadapi ancaman penyakit menular tersebut, sebanyak 37 negara melakukan pertemuan untuk membahas masalah ini dalam acara Global Meeting on Infectious Diseases yang diselenggarakan di Jakarta sejak 20-21 Agustus 2014. Acara ini merupakan tindak lanjut dari inisiatif Global Health Security Agenda (GHSA).
Seperti diberitakan situs Berita satu,Negara yang hadir antara lain, Argentina, Australia, Bangladesh, Kamboja, Tiongkok, Mesir, Finlandia, Perancis, Georgio, German, Italia, Jepang, Malaysia, Belanda, Portugal, Korea Selatan, Arab Saudi, Singapura, Spanyol, dan Afrika Selatan.
“Menkes mengatakan, fokus pertemuan ini adalah bagaimana dunia harus menghadapi risiko wabah zoonosis. Berbagai pengalaman berharga menghadapi masalah zonoosis dari berbagai negara akan disampaikan dan didiskusikan oleh para ahli guna memperkuat kerja sama regional dan global,” kata Menteri Kesehatan, Nafsiah Mboi, seusai membuka acara tersebut, di Hotel Shanggri-La, Jakarta, Rabu (20/8).
Hadir pula Menteri Pertanian Suswono, perwakilan World Health Organisation (WHO), Organisasi Food Agriculture Organisation (FAO), dan World Oganisation for Animal Health (OIE).
Menurut Menkes, peningkatan penyakit menular baru disebabkan oleh berbagai faktor, seperti perubahan iklim global, penggunaan peptisida dan antimikroba, peningkatan kontak antara manusia, hewan serta perubahan gaya hidup.
Oleh karena itu, pencegahan dan pengendalian zoonosis membutuhkan upaya kolaborasi dari berbagai pemangku kepentingan. Bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga peran swasta, akademisi, praktisi, organisasi profesi dan LSM.
Pada hari pertama pertemuan ini diselenggarakan, Menko Kesra Agung Laksono menyampaikan pengalaman pentingnya kerja sama multisektor dalam pengendalian zoonosis di Indonesia.
Melalui Komnas Pengendalian Zoonosis, Indonesia telah melaksanakan pendekatan One Health sejak 2011 sampai 2013. Pendekatan ini berhasil mengurangi kejadian enam jenis penyakit zoonosis, yaitu rabies, flu burung, Antrax, Leptospiros, Plague, dan Brucellosis.
Brucellosis merupakan penyakit zoonosis menular yang disebabkan bakteri briucella. Di Indonesia, bakteri ini dikenal sebagai reproduksi menular pada ternak. Brucellosis sangat mempengaruhi produktifitas sapi.
"Saat ini beberapa provinsi sudah berhasil dibebaskan dari Brucellonis. Tetapi saya berharap ke depan Indonesia dapat mencukupi kebutuhan daging sapi untuk masyarakat,” katanya.
Perwakilan khusus United States Agency for International Development (USAID) untuk Ketahanan Kesehatan Global, dr Dennis Carroll memaparkan bahwa pertemuan ini diadakan untuk mempercepat aksi untuk kelanjutan ketahanan kesehatan global lima tahun ke depan.
“Melalui GHSA kita berharap dapat menyatukan pandangan umum dan cara dari berbagai negara dalam mengurangi penyebaran dan dampak dari penyakit menular. Kita juga berharap pertemuan ini dapat memperkuat kemampuan seluruh dunia dalam mendeteksi lebih cepat, mencegah, dan merespon wabah penyakit secara efektif,” kata Carroll.
GSHA sendiri dicanangkan di Washington DC dan Gedung PBB, Jenewa, secara bersamaan pada 13 Februari 2014. Pertemuan GSHA pertama dilaksanakan pada 5-6 Mei 2014 di Helsinksi, Finlandia.
Awal inisiatif GHSA digagas oleh Amerika Serikat dan negara maju dengan melibatkan banyak pemangku kepentingan dan multisektor. Selain itu, juga didukung badan-badan dunia di bawah PBB di antaranya , seperti WHO, FAO, OIE. Di Helsinki, GHSA membahas rancangan GHSA Action Packages and Commitmens yang diharapkan dapat dijadikan rujukan bersama di tingkat global dalam mengatasi ancaman penyebaran penyakit infeksi.
Komitmen ini juga dimaksudkan untuk memperkuat realisasi International Health Regulation (IHR) yang telah dicanangkan WHO sebelumnya. Pada pertemuan itu, Indonesia menyatakan menjadi prakarsa kerja sama dan bersedia menjadi tuan rumah pertemuan. (Bs/Gs).
Jakarta, 21 Agustus - Dalam tiga dekade terakhir, kemunculan penyakit menular baru cenderung meningkat. Penyakit bersumber binatang (zonoosis), infeksi yang ditularkan di antara hewan vertebrata dan menusia atau sebaliknya, potensial menyebabkan wabah penyakit berbahaya dan menular.
Belum selesai dengan penanggulangan penularan Flu Burung (H5N1) dan Midle East Respiratory Syndrome Corona Virus (MERS CoV), dunia kembali dihebohkan dengan munculnya virus Ebola yang saat ini mewabah di kawasan Afrika Barat, khususnya di Guinena, Liberia, Sierra, dan Nigeria. Wabah ini telah ditetapkan sebagai status darurat kesehatan internasional oleh WHO pada 7 Agustus 2014.
Menghadapi ancaman penyakit menular tersebut, sebanyak 37 negara melakukan pertemuan untuk membahas masalah ini dalam acara Global Meeting on Infectious Diseases yang diselenggarakan di Jakarta sejak 20-21 Agustus 2014. Acara ini merupakan tindak lanjut dari inisiatif Global Health Security Agenda (GHSA).
Seperti diberitakan situs Berita satu,Negara yang hadir antara lain, Argentina, Australia, Bangladesh, Kamboja, Tiongkok, Mesir, Finlandia, Perancis, Georgio, German, Italia, Jepang, Malaysia, Belanda, Portugal, Korea Selatan, Arab Saudi, Singapura, Spanyol, dan Afrika Selatan.
“Menkes mengatakan, fokus pertemuan ini adalah bagaimana dunia harus menghadapi risiko wabah zoonosis. Berbagai pengalaman berharga menghadapi masalah zonoosis dari berbagai negara akan disampaikan dan didiskusikan oleh para ahli guna memperkuat kerja sama regional dan global,” kata Menteri Kesehatan, Nafsiah Mboi, seusai membuka acara tersebut, di Hotel Shanggri-La, Jakarta, Rabu (20/8).
Hadir pula Menteri Pertanian Suswono, perwakilan World Health Organisation (WHO), Organisasi Food Agriculture Organisation (FAO), dan World Oganisation for Animal Health (OIE).
Menurut Menkes, peningkatan penyakit menular baru disebabkan oleh berbagai faktor, seperti perubahan iklim global, penggunaan peptisida dan antimikroba, peningkatan kontak antara manusia, hewan serta perubahan gaya hidup.
Oleh karena itu, pencegahan dan pengendalian zoonosis membutuhkan upaya kolaborasi dari berbagai pemangku kepentingan. Bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga peran swasta, akademisi, praktisi, organisasi profesi dan LSM.
Pada hari pertama pertemuan ini diselenggarakan, Menko Kesra Agung Laksono menyampaikan pengalaman pentingnya kerja sama multisektor dalam pengendalian zoonosis di Indonesia.
Melalui Komnas Pengendalian Zoonosis, Indonesia telah melaksanakan pendekatan One Health sejak 2011 sampai 2013. Pendekatan ini berhasil mengurangi kejadian enam jenis penyakit zoonosis, yaitu rabies, flu burung, Antrax, Leptospiros, Plague, dan Brucellosis.
Brucellosis merupakan penyakit zoonosis menular yang disebabkan bakteri briucella. Di Indonesia, bakteri ini dikenal sebagai reproduksi menular pada ternak. Brucellosis sangat mempengaruhi produktifitas sapi.
"Saat ini beberapa provinsi sudah berhasil dibebaskan dari Brucellonis. Tetapi saya berharap ke depan Indonesia dapat mencukupi kebutuhan daging sapi untuk masyarakat,” katanya.
Perwakilan khusus United States Agency for International Development (USAID) untuk Ketahanan Kesehatan Global, dr Dennis Carroll memaparkan bahwa pertemuan ini diadakan untuk mempercepat aksi untuk kelanjutan ketahanan kesehatan global lima tahun ke depan.
“Melalui GHSA kita berharap dapat menyatukan pandangan umum dan cara dari berbagai negara dalam mengurangi penyebaran dan dampak dari penyakit menular. Kita juga berharap pertemuan ini dapat memperkuat kemampuan seluruh dunia dalam mendeteksi lebih cepat, mencegah, dan merespon wabah penyakit secara efektif,” kata Carroll.
GSHA sendiri dicanangkan di Washington DC dan Gedung PBB, Jenewa, secara bersamaan pada 13 Februari 2014. Pertemuan GSHA pertama dilaksanakan pada 5-6 Mei 2014 di Helsinksi, Finlandia.
Awal inisiatif GHSA digagas oleh Amerika Serikat dan negara maju dengan melibatkan banyak pemangku kepentingan dan multisektor. Selain itu, juga didukung badan-badan dunia di bawah PBB di antaranya , seperti WHO, FAO, OIE. Di Helsinki, GHSA membahas rancangan GHSA Action Packages and Commitmens yang diharapkan dapat dijadikan rujukan bersama di tingkat global dalam mengatasi ancaman penyebaran penyakit infeksi.
Komitmen ini juga dimaksudkan untuk memperkuat realisasi International Health Regulation (IHR) yang telah dicanangkan WHO sebelumnya. Pada pertemuan itu, Indonesia menyatakan menjadi prakarsa kerja sama dan bersedia menjadi tuan rumah pertemuan. (Bs/Gs).