Jakarta, 27 Agustus - Kepala Seksi Pendataan dan Informasi Balai Pelayanan Kepulangan TKI (BPKTKI) Selapajang, Imam Fajar pada Selasa (26/8/2014) menjelaskan, sedikitnya ada 800 sampai 1.000 TKI bermasalah yang diterima oleh pihaknya.
"Kebanyakan keluhannya memang soal gaji ditahan dan dianiaya majikannya. Yang jadi korban pelecehan seksual juga ada beberapa," katanya.
Seperti dilansir laman Tribunnews.com, sampai tanggal 25 Agustus 2014 kemarin, total TKI bermasalah yang mereka terima sudah mencapai 753 orang.
"Tapi ada juga TKI nakal yang mengaku bermasalah supaya mereka mendapatkan fasilitas ticketing gratis," kata Imam.
Imam mencontohkan, pernah ada satu TKI asal Palembang yang mengaku kehilangan jaket seharga Rp 8 juta kepada petugas. Sang TKI mengaku kehilangan di dalam area kantor BPKTKI Selapajang.
"Sebagai ganti rugi, TKI itu lalu meminta biaya perjalanan pulangnya dibayar full oleh pihak kami. Belakangan setelah kami periksa dan cocokkan, rupanya dia berbohong," kata Imam. (Banu Adikara)
Jumlah TKI Bermasalah Tahun 2014
Januari: 1.031 orang, Februari: 911 orang, Maret: 1.118 orang, April: 1.070 orang, Mei: 870 orang, Juni: 1.117 orang, Juli: 869 orang, Agustus (sampai tanggal 25): 753 orang
Kemiskinan Jadi Alasan
Sementara itu, keterbatasan lapangan pekerjaan masih menjadi alasan bagi sebagian Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Kulonprogo untuk mencari nafkah ke luar negeri.
Hal itu juga memiliki korelasi dengan masih tingginya angka kemiskinan di wilayah tersebut yang sejauh ini masih mencapai 23,45 persen dari keseluruhan jumlah kepala keluarga.
Asisten I Sekda Kulonprogo, Riyadi Sunarto mengatakan, di Kulonprogo ada 31 ribu kepala keluarga dimana 23,54 persennya merupakan keluarga miskin.
Ada korelasi positif pengiriman TKI dengan angka kemiskinan. TKI dengan latar keluarga miskin masih banyak menopang susunan pengiriman tenaga kerja dari Kulonprogo ke luar negeri.
"Kulonprogo jadi kabupaten tersebar kedua setelah Bantul dalam pengiriman TKI," kata Riyadi saat Sosialisasi Penempatan dan Perlindungan TKI di Luar Negeri di Hotel Anugrah, Glagah, Temon, Selasa (26/8/2014).
Hal itu menurutnya tidak lepas dari masih terbatasnya ketersediaan lapangan kerja, pendidikan, maupun keterampilan yang dimiliki para pencari kerja.
Kondisi tersebut mendorong mereka untuk keluar dari Kulonprogo dan mencari pekerjaan di daerah lain hingga luar negeri.
Pada 2013 lalu tecatat ada 119 TKI yang berangkat keluar negeri. Sedangkan pada 2014 ini baru dilaporkan 30 orang saja.
Meski begitu jumlah TKI asal Kulonprgo dipastikan lebih tinggi. Mereka ini biasanya berangkat dari luar daerah, sehingga data mereka tidak dilaporkan.
"Sejak beberapa tahun lalu, Kulonprogo sudah tidak mengirimkan TKI sebagai pembantu rumah tangga," tandas Riyadi. (Tn/Gs)