Jakarta, 2 September - Kabut asap tipis diduga hasil kebakaran hutan dan lahan mulai menyelimuti Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah dengan jarak pandang antara 400--500 meter.
"Kabut asap yang menyelimuti kota Sampit dan sekitarnya berlangsung sejak Senin dini hari hingga pukul 07.30 WIB," kata Heriyanto seorang warga Kecamatan Baamang, Kabupaten Kotim, di Sampit Senin (1/9/2014).
Seperti dilansir laman Antaranews.com., saputan kabut asap tipis yang menyelimuti Kota Sampit tersebut sudah terjadi dalam sepekan terakhir.
Meski kabut asap tipis hanya terjadi di pagi hari, kondisi tersebut mengganggu aktivitas warga, selain jarak pandang yang terbatas aroma menyengat juga mengganggu pernapasan.
Menurut Heriyanto, sejak dua bulan terakhir wilayah Kabupaten Kotim tidak di guyur hujan, terik matahari dan suhu udara yang panas dimanfaatkan sejumlah warga untuk membukan lahan pertanian dengan cara membakar.
"Kepulan asap tampak dari kejahuan, dan jika dilihat dari posisinya kebakaran hutan dan lahan tersebut berada dipinggiran Kota Sampit," katanya.
Sementara, sebelumnya Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Tengah Mochtar mengatakan, berdasarkan data sipongi melalui satelit National Oceanic Atmospheric Administration (NOAA-18), hingga 26 Agustus 2014 lalu titik panas di wilayah Kalteng terpantau ada sebanyak 46 titik.
"Titik panas yang terpantau satelit NOAA-18 tersebut tersebar di beberapa kabupaten yang ada di wilayah Kalteng," terangnya.
Di wilayah Kabupaten Kotim ada sebanyak Sembilan titik panas, Kotawaringin Barat, delapan titik, Lamandau, delapan titik, Sukamara enam titik, Seruyan empat titik, Kapuas tiga titik, Kota Palangka Raya tiga titik, Barito Timur satu titik dan Kabupaten Murung Raya satu titik.
28 titik panas terpantau di Kalimantan Tengah
Sementara itu, Satelit National Oceanic Atmospheric Administration atau NOAA-18 memantau ada 28 titik panas pada 31 Agustus 2014 di Kalimantan Tengah.
Jumlah tersebut tersebar di delapan dari 14 kabupaten dan kota Kalimantan Tengah, alias menurun dibandingkan 30 Agustus 2014 sebanyak 50 titik.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Mochtar di Palangka Raya, Senin (1/9/2014), menyatakan, "Dari 1 hingga 31 Agustus ada 662 titik panas di Kalimantan Tengah. Memasuki Agustus hingga Oktober cuaca di provinsi ini memang sangat panas sehingga hutan dan lahan mudah terbakar."
Perincian sebaran titik panas itu: Kabupaten Katingan delapan titik, Kabupaten Kapuas (tujuh), Kabupaten Kotawaringin Timur (lima), Sukamara (dua), Seruyan (dua), Pulang Pisau (dua), Kota Palangka Raya (satu) dan Kotawaringin Barat (satu).
Guna mencegah dan menanggulangi dampak buruk titik-titik panas itu, BNPD Kalimantan Tengah telah menginstruksikan tim darat Manggala Agni Kabupaten/Kota berpatroli.
Satu hal penyumbang kebakaran lahan dan hutan di Kalimantan karena jenis tanahnya yang bergambut atau terdiri dari tanah alluvial.
Tanah yang bermateri pokok bahan organik ini memiliki partikel yang dilapisi sejenis lilin dan tidak akan kembali menyerap air jika dia terlanjur kering pada tingkat tertentu.
Partikel-partikel bahan organik ini akan membentuk pseudolignin, dan memiliki nilai kalori tinggi sehingga mudah terbakar. (Ant/Gs).