Jakarta, 19 September - Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) Agung Laksono pada Selasa (16/9/2014) meminta seluruh instansi terkait untuk segera menangani masalah kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan yang melanda sejumlah wilayah.
Dia menjelaskan bahwa pemerintah telah melakukan koordinasi antar-instansi terkait dalam upaya mengantisipasi dampak kekeringan, termasuk kebakaran hutan dan lahan yang telah menimbulkan kabut asap. Menko Kesra menjelaskan bahwa pemerintah sudah memetakan sumber air untuk wilayah yang mengalami kekeringan, dan bersinergi dengan Kementerian Pertanian untuk membuat rencana aksi.
Sementara itu, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan BNPB telah mengerahkan 7 helicopter water bombing untuk memperkuat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dalam mengatasi kebakaran hutan dan lahan.
Seperti dirilis portal setkab.go.id., di Riau, ditempatkan 1 helicopter Bolco dan 1 Sikorsky untuk water bombing. 300 personil TNI dan Polri dikerahkan memadamkan titip api. Manggala agni dan relawan juga terlibat pemadaman. Di Sumsel, 3 helicopter yaitu Bolco, MI-8, dan Kamov beroperasi. BPBD berkoordinasi dengan instansi terkait melakukan pemadaman dengan mengerahkan 120 personil. Di Kalteng dilakukan pemadaman udara dengan helicopter MI-8, sedangkan di darat tim gabungan dari BPBD, TNI, Polda, BMKG, Dinas Kehutanan, Manggala Agni, dan relawan terlibat dalam pemadaman. Di Kalbar dengan helicopter Bolco dan pemadaman di darat.
Dia mengatakan berdasarkan pantauan satelit MODIS (Terra dan Aqua), hotspot di Kalteng 630 titik, Kalbar 268, dan Kalsel 74, sedangkan di Sumsel 281, Riau 94, Kepulauan Bangka Belitung 53, Jambi 48, dan Lampung, pada Senin (15/9/2014).
Asap di Kalimantan mengarah ke timur laut menuju pusaran siklon Kalmaegi. Di Sumatera, angin menuju ke utara dan timur laut sehingga asap dari Sumsel menyebar ke wilayah Riau bahkan asap dari Riau dan Sumsel menyebar ke Singapura sehingga menyebabkan Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) di Singapura dan sebagian Malaysia naik menjadi sedang (moderate).
Menurutnya sebagian besar penyebab kebakaran adalah pembakaran di areal kebun dan hutan.
Ia menambahkan bahwa puncak kemarau diperkirakan hingga Oktober 2014 sehingga potensi kebakaran akan makin meluas jika tidak ada pengendalian. Berdasarkan data tahun 2006-2014, pola hotspot di Sumatera dominan terjadi pada pertengahan Juni-Oktober, sedangkan di Kalimantan pada Agustus-Oktober. Puncak hotspot adalah bulan September-Oktober. Daerah-daerah yang terbakar adalah lahan gambut yang sulit dipadamkan.
Berikut dampak kabut asap di berbagai daerah:
Kepala Badan Lingkungan Hidup Kota Pontianak, Multi Junto Bhatarendro, Rabu (17/9) mengatakan Kabut asap telah menyelimuti Kota Pontianak dan sekitarnya sejak beberapa hari terakhir, sehingga warga diimbau menggunakan masker agar partikel debu sisa pembakaran tidak langsung masuk ke hidung dan mulut.
Kabut asap cukup tebal yang menyelimuti kawasan Bandar Udara Syamsudin Noor Banjarmasin, Kalimantan Selatan, dan telah menunda tujuh kali penerbangan di bandara yang terletak di Kota Banjarbaru itu.
Kabut asap kebakaran hutan daratan Sumatera yang mulai menyelimuti Kota Batam, Kepulauan Riau, belum mengganggu penerbangan di Bandara Internasional Hang Nadim.
BPBD Provinsi Jambi menyatakan, kabut asap yang melanda Kota Jambi belum mengkhawatirkan walaupun sudah mengganggu beberapa kali jadwal penerbangan.
Dinas Kesehatan kabupaten Indragiri Hulu (Inhu), Provinsi Riau menilai kabut asap yang menyelimuti sejumlah daerah di Inhu masih dalam keadaan normal belum masuk membahayakan kesehatan.
Efek buruk asap kebakaran hutan dan lahan telah menyentuh ranah pendidikan setelah Bupati Kotawaringin Timur, Supian Hadi, meminta jam belajar siswa diatur kembali karena kabut asap.(setkab/Gs).