Error message

Deprecated function: The each() function is deprecated. This message will be suppressed on further calls in menu_set_active_trail() (line 2394 of /var/www/arsip.kemenkopmk.go.id/includes/menu.inc).
Oleh humaspmk on December 31, 2014

Jakarta, 31 Desember  - Angka kematian akibat penyakit tidak menular (PTM) seperti hipertensi, stroke, dan diabetes melitus meningkat daripada kasus kematian akibat penyakit menular.

Konsumsi makanan yang cukup, bermutu, dan aman merupakan syarat utama untuk hidup sehat. Berdasarkan data yang diperoleh dari Riskesdas (2010), makanan yang dikonsumsi masyarakat Indonesia belum sesuai dengan kebutuhan.

Menurut data yang didapat dari Kementerian Kesehatan, pada Senin (29/12/2014) seperti dilansir laman Antaranews, masih terdapat masyarakat yang kurang gizi, tetapi di pihak lain terdapat juga masyarakat yang menghadapi kelebihan gizi, terutama di perkotaan.

Data mortalitas menurut kelompok penyakit berdasarkan kajian hasil survei kesehatan nasional 1995-2007 (Depkes, 2008) menunjukkan terjadinya pergeseran pola penyakit penyebab kematian pada berbagai golongan umur.

Angka kematian akibat penyakit diabetes melitus meningkat 1,1 persen menjadi 2,1 persen; hipertensi dari 7,6 persen menjadi 9,5 persen; dan stroke dari 8,3 persen menjadi 12,1 persen (Depkes, 2008 dan Kemenkes, 2014).

"Kita harus mengubah mindset. Perilaku kita sering kali tidak mau mengubah kita untuk sehat," kata Menkes Prof. Dr. dr. Nila Farid Moeloek, Sp.M.(K).

Selenggarakan Parade Penelitian Kesehatan 2014

Sementara itu, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbang Kesehatan) Kementerian Kesehatan menyelenggarakan Parade Penelitian Kesehatan Tahun 2014 pertama kali, dengan enam hasil riset yang dipamerkan.

Beberapa hasil riset kesehatan yang dipamerkan itu, yakni Studi Diet Total (SDT), Saintifikasi Jamu, Studi Kohort Faktor Resiko Penyakit Tidak Menular dan Tumbuh Kembang Anak, Riset Khusus Vektor dan Reservoir Penyakit (Rikhus Vektora), Riset Etnografi Kesehatan serta Kesiapan Laboratorium menghadapi Pandemi.

"Parade tersebut merupakan wujud akuntabilitas hasil riset kesehatan yang dihasilkan Balitbang Kesehatan," kata Menkes Prof. Dr. dr. Nila Farid Moeloek, Sp.M.(K).

SDT dilakukan oleh 2.372 pengumpul data dengan melibatkan 46.409 rumah tangga dan 161.291 individu di 33 provinsi dan 497 kabupaten/kota di Indonesia.

Studi ini memberikan informasi tentang kondisi kecukupan gizi masyarakan Indonesia dan potensi keterpaparan masyarakat terhadap cemaran berbahaya pada makanan yang dikonsumsinya.

Program Saintifikasi Jamu mendapatkan evidance based bagi pemanfaatan jamu yang terdiri dari penelitian dari hulu hingga hilir.

Sementara studi Kohort Faktor Resiko Penyakit Tidak Menular melibatkan 5.290 subjek berusia 25-65 tahun. Jantung koroner menempati urutan pertama terbesar angka kejadiannya, disusul diabetes melitus, dan stroke.

Studi Kohort Tumbuh Kembang Anak melibatkan 530 ibu hamil dan 430 bayi. Studi ini dilakukan untuk melihat kaitan antara status gizi ibu hamil dengan tumbuh kembang anak.

Riset Khusus Vekotora dilakukan untuk memperoleh data dasar penyakit tular vektor dan reservoir. Riset ini dilakukan relevan dengan adanya penyakit bersumber binatang yang masih menjadi masalah kesehatan.

Riset Etnografi Kesehatan memberikan informasi budaya kesehatan etnis-etnis di indonesia. Sampai sekarang telah dilakukan riset pada 32 etnis dari 1.068 etnik di Indonesia. Dari setiap etnik akan diketahui dampak positif dan negatif terhadap kesehatan.

"Masih ada 174 penelitian yang belum ditayangkan. Niat kami adalah untuk mensosialisasikan kepada masyarakat. Kami berharap penelitian ini sejalan dengan bidang lainnya di Indonesia," tambahnya lagi. (Ant/Gs).
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kategori: