Error message

Deprecated function: The each() function is deprecated. This message will be suppressed on further calls in menu_set_active_trail() (line 2394 of /var/www/arsip.kemenkopmk.go.id/includes/menu.inc).
Oleh humaspmk on October 07, 2014

Jakarta, 7 Oktober - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengakui upaya mengatasi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan di Sumsel lewat Tehnik Modifikasi Cuaca (TMS) terkendala dengan buruknya kondisi langit.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho seperti dilansir laman Tribunnews.com., mengatakan, hujan buatan memerlukan syarat yakni harus ada awan-awan potensial atau yang biasa disebut dengan awan cumulus untuk disemai dan memunculkan hujan.

"Jika tidak ada awan maka tidak bisa dilakukan hujan buatan. Sementara itu awan tidak bisa diciptakan. Itulah mengapa tidak terjadi hujan deras terus menerus karena kondisi alam kering," kata Sutopo saat dikonfirmasi Sripo, Senin (6/10/2014).

Melalui BlackBerry Messenger (BBM), ia menjelaskan, hujan buatan dipilih sebagai salah satu alternatif pemerintah pusat dan daerah lewat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel dalam memadamkan api. Ia menegaskan, banyak alternatif lain yang ditempuh pemerintah.

"Upaya lain dalam pemadaman api selain hujan buatan juga melalui water bombing, pemadaman di darat, penegakan hukum dan lain-lainnya. Apalagi Wapres Boediono sudah menginstruksikan TNI/ Polri menangkap pelaku intelektual di balik pembakaran," tegasnya.

Rekayasa cuaca memang tak mudah dilakukan di tengah kabut asap yang tebal. Lapisan asap menghambat pertumbuhan awan. Uap air di atmosfer diserap oleh butir-butir asap sehingga sulit membentuk awan. Adapun cara kerja TMC ialah dengan melakukan penyemaian awan (Cloud Seeding) menggunakan bahan-bahan yang bersifat menyerap air. Sehingga proses pertumbuhan butir-butir hujan dalam awan akan meningkat dan selanjutnya akan mempercepat terjadinya hujan.

"BNPB menggelontorkan dana yang tidak sedikit, yakni mencapai Rp12,2 miliar kepada BPBD Sumsel untuk penanganan kebakaran hutan dan lahan lewat TMC, darat hingga water bombing. Plus tambahan Rp16 miliar sesuai kebutuhan yang ada termasuk. Tapi kita belum merinci berapa dana yang telah dikeluarkan," ujarnya.

BNPB bersama Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) memulai TMC di Sumsel sejak 24 September lalu menggunakan pesawat jenis Hercules milik TNI AU. Puluhan ton garam ke udara telah ditebar ke awan yang berpotensi memunculkan hujan.

Kabut Asap Tiga Penerbangan di Bandara Syamsuddin Noor Dibatalkan

Sementara itu, hampir dua pekan Kota Banjarbaru dilanda kabut asap tebal. Pekatnya balutan kabut asap membuat penerbangan di Bandara Syamsuddin Noor terganggu.

Sejumlah penerbangan di Bandara Syamsudin Noor mengalami sejumlah penerbangan delay. Bahkan, beberapa di antaranya harus dicancel dengan alasan jarak pandang.

Seperti dialami Awal, seorang penumpang yang hendak berangkat ke Balikpapan harus menunggu lama. Pasalnya, dia sudah mengambil jadwal penerbangan siang lantaran takut terkendala kabut.

Meski jadwal berangkatnya menjelang tengah hari, Awal tetap tidak bisa berangkat.  Keterlambatan pesawat harus dialaminya, meski saputan kabut sudah kurang.

“Saya sengaja ngambil jadwal penerbangan tidak pagi dan agak siang. Ternyata tetap saja mengalami keterlambatan,” sungut Awal ditemui di Bandara Syamsuddin Noor, Senin (6/10/2014).

Tiga penerbangan yang terpaksa dicancel yakni dua dari maskapai penerbangan Lion Air dan satu Garuda yang semuanya tujuan Banjarmasin menuju Jakarta. Lion air JT 321 seharusnya berangkat pukul 08.25 Wita dan Lion Air JT 320 pukul 08.45 Wita dibatalkan. Begitu juga pesawat Garuda GA 533 pukul 09.00 Wita batal terbang.

Atasi Kekeringan Pemprov NTT Siapkan Anggaran Rp 4 Miliar

Sedangkan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur memiliki anggaran sebesar Rp 4 miliar untuk mengatasi kekeringan akibat musim kemarau yang melanda sebagian besar Kabupaten di NTT.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTT akan mengalokasikan bantuan berupa droping air bersih untuk 14 Kabupaten di NTT dan pembuatan dua sumur bor untuk satu kabupaten.

“Bantuannya bersifat darurat berupa sentuhan air bersih dan dua sumur bor,” kata Kepala BPBD NTT, Tini Tadeus kepada Kompas.com, Senin (6/10/2014) malam.

Menurut Tadeus, satu kabupaten yang mendapat dua unit sumur bor tersebut adalah kabupaten Sumba Tengah. Sementara untuk 14 kabupaten lainnya hanya mendapat bantuan air bersih. Terkait untuk sumur bor, pemda masih memperjuangkanya.

Tadeus merinci, dua kabupaten yang tidak mendapat air bersih tersebut yakni Kabupaten Sikka dan Sumba Barat Daya. Sedangkan 14 kabupaten yang mendapat bantuan air bersih yakni Kabupaten Kupang, Timor Tengah Selatan (TTS), Timor Tengah Utara (TTU), Malaka, Belu, Sumba Timur, Sumba Barat, Rote Ndao, Sabu Raijua, Alor, Lembata, Flores Timur, Ende, dan Nagekeo.(Tn/Kc/Gs).