Error message

Deprecated function: The each() function is deprecated. This message will be suppressed on further calls in menu_set_active_trail() (line 2394 of /var/www/arsip.kemenkopmk.go.id/includes/menu.inc).
Oleh humaspmk on April 30, 2018

Jakarta (30/04) -- Peringatan HLUN Tahun 2018 ini mengangkat tema “Lansia Sejahtera, Masyarakat Bahagia” dengan sub tema “Memperkuat Hubungan Lintas Generasi yang Harmonis Menuju Lansia Bermartabat”

Demikian disampaikan Deputi Bidang Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan dan Perlindungan Sosial Kemenko PMK, Tb. Ahmad Choesni saat memberikan sambutan pembukaan Seminar dalam rangka Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) 2018 yang diselenggarakan di, Hotel Grand Mercure, Jakarta, Senin (30/4).

Menurut Choesni, tema tersebut mengandung makna bahwa Negara memiliki perhatian yang tinggi terhadap kesejahteraan lanjut usia (lansia), berpihak kepada hak-hak dan pemenuhan kebutuhan lansia serta menjamin peningkatan aktualisasi diri dan peran sosialnya di masyarakat. 

Untuk mewujudkan hal tersebut, lanjut Choesni, diperlukan kepedulian dan pengabdian yang totalitas dari segenap komponen bangsa untuk bersama-sama melindungi, menyayangi dan meningkatkan taraf hidup lansia. Tema dan sub tema tersebut juga sejalan dengan nilai utama gerakan revolusi mental, yakni integritas, etos kerja dan gotong royong,” terangnya.

Choesni juga menyampaikan bahwa penduduk lansia tumbuh pesat dalam satu dasawarsa kedepan (2015-2025), yang meningkat rata-rata 4,48 % per tahunnya. Hal ini dikarenakan semakin membaiknya kondisi kesehatan dan keberhasilan pembangunan lainnya. Estimasi lembaga Demografi UI pada 2016 , proporsi dan jumlah lansia berusia di atas 65 tahun pada tahun 2015 berjumlah 13,8 juta (5,4%) dari jumlah penduduk dan akan mencapai 40,7 juta atau 10,6% pada tahun 2045. 

“ Mereka yang pada tahun 2015 berusia 35-44 akan berusia 64-74 tahun di tahun 2045,” ujarnya.

Menurut Choesni, pertumbuhan yang cepat tersebut terjadi hampir di semua wilayah tanah air dan proporsi penduduk lansia yang semakin besar membutuhkan perhatian dan perlakuan khusus dalam pelaksanaan pembangunan. Apalagi, usia 60 tahun ke atas merupakan tahap krusial dari proses penuaan yang memiliki dampak terhadap tiga aspek, yaitu biologis, ekonomi, dan sosial. Secara biologis ditandai dengan melemahnya fisik dan rentan terhadap penyakit. Secara ekonomi, umumnya dipandang sebagai beban. Secara sosial, merupakan implikasi dari perubahan pola kehidupan, sistem kekeluargaan dan nilai sosial. “Secara faktual masih ditemui lansia dalam kondisi terlantar, menjadi korban tidak kekerasan dan tereksklusi secara sosial,” terangnya.

Oleh karena itu, menurut Choesni, pengembangan kebijakan kelanjutusiaan tidak hanya terfokus pada lansia, namun harus berbasis siklus hidup (life-cycle) dengan mempersiapkan diri setiap generasi sebelum menjadi lansia. “Disamping digunakan juga pendekatan untuk menjadi lansia tangguh yang terdiri dari tujuh dimensi, meliputi fisik, sosial, intelektual, spiritual, emosional, vokasional dan lingkungan,” jelasnya.
Diakhir sambutannya, Choesni juga menyatakan bahwa pemerintah terus menerus bekerja keras meningkatkan peran dan fungsinya sebagai regulator, motivator, stimulator, fasilitator bahkan akselerator dalam rangka mempercepat implementasi program yang berpihak pada lansia, penguatan dan peran dunia usaha dan peran keluarga.

Sebelumnya, Asisten Deputi (Asdep) Urusan Pemberdayaan Disabilitas dan Lanjut Usia Kemenko PMK, selaku penyelenggara seminar untuk menggugah kepedulian stakeholder dan masyarakat guna mewujudkan Lansia Sehat, Aktif, Mandiri dan bermartabat, Ade Rustama, mengatakan bahwa tujuan diselenggarakannya seminar adalah untuk mewujudkan kesamaan persepsi untuk mengubah stigma negatif terhadap lansia. Adanya perubahan sikap mental untuk lebih peduli bagi upaya peningkatan kesejahteraan lansia  serta menggugah untuk memberikan dukungan dan aksi nyata bagi kesejahteraan lansia.

“Menjadi lansia merupakan bagian dari proses kehidupan yang pasti dilalui setiap manusia. Hal ini harus disadari para generasi muda dan prelansansia agar mulai menyiapkan diri sebaik-baiknya supaya kelak menjadi lansia yang tetap aktif dan produktif. Paradigma lansia menjadi 'beban’ harus diubah menjadi 'potensi’ untuk dapat melanjutkan partisipasi dan kontribusi dalam pembangunan,” terang Ade.

Seminar yang menghadirkan dr. Probosuseno Sp.PD dari rumah sakit Geriatrik; DR. Ni Wayan, Praktisi dan Peneliti dari  Survey Meter;  Christine Hakim, Publik Figur dan Artis Senior; dengan moderator Tuhana dari  Pusat Kajian Kebijakan dan Kelembagaan Daerah Univ. Sebelas Maret dihadiri oleh Kementerian/Lembaga terkait, Pemprov DKI Jakarta, LSM/Lembaga Sosial, serta Ikatan Purnatugas Pegawai Kemenko Kesra/PMK. (DAM)