Error message

Deprecated function: The each() function is deprecated. This message will be suppressed on further calls in menu_set_active_trail() (line 2394 of /var/www/arsip.kemenkopmk.go.id/includes/menu.inc).
Oleh humaspmk on September 26, 2014

Jakarta, 26 September - Pegiat Serikat Petani Indonesia (SPI) Bantul Sumantoro, mengatakan hampir 7.000 hektare lahan pertanian di Bantul saat ini mulai mengalami kekeringan.

Bahkan, katanya, di sejumlah tempat, benih padi yang baru saja ditanam kemudian mati karena kesulitan air irigasi.

“Kekeringan sawah di Bantul di antaranya ada di bulak Nggluntung Desa Caturharjo, kemudian bulak Panjangrejo Pundong dan Tirtomulyo Kretek, bahkan sebagian sawah di daerah ini ada yang sudah ‘bero’,” katanya, Rabu (24/9/2014).

Menurut dia, seperti dilansir laman Harianjogja.com., kekeringan yang melanda ribuan hektare sawah itu, disebabkan ketidaktegasan dinas terkait, salah satunya adalah tidak optimalnya kinerja petugas penyuluh lapangan (PPL), karena masih banyak petani yang tidak menaati pola tanam.

“‘Masak’ dalam satu blok [bulak] ada yang tanam padi, ada yang tanam palawija, kalau dinas tegas, ini tidak akan terjadi,” katanya.

Ia mengatakan banyaknya petani “nakal” itu, tidak hanya merugikan petani yang sudah taat mengikuti pola tanam yang dianjurkan, namun juga petani yang memaksa menanam padi atau yang melanggar pola tanam sebenarnya juga rugi.

“Contohnya di Panjangrejo, Pundong, mereka memaksa menanam padi tapi akhirnya mati, namun di daerah lain padi mereka tetap hidup, tapi dampaknya siklus hama tidak terputus, sehingga seluruh petani kena dampak serangan hama,” katanya.

BPBD Tetapkan Bogor Siaga Darurat Kekeringan

Sementara itu wilayah Kabupaten Bogor ditetapkan sebagai daerah siaga darurat kekeringan pada musim kemarau tahun 2014 ini oleh Badan Penanggulang Bendana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor. Sebab, sebanyak 62 desa di 17 kecamatan di Kabupaten Bogor sudah mengalami kekeringan.

"Kabupaten Bogor sudah kami tetapkan sebagai wilayah siaga darurat kekeringan, sejak 1 September lalu hingga akhir Oktober," kata Kepala Dadan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor Yos Sudrajat di kantornya, Bogor, Kamis (25/9/2014).

Dari 17 Kecamatan yang masuk daerah darurat kekeringan, seperti yang dilansir laman Liputan6.com., enam kecamatan di antaranya sudah masuk dalam daerah paling krisis kekeringan. Yakni Cariu, Jonggol, Klapanunggal, Tanjungsari, Tamansari, dan Jasinga.

"Oleh sebab itu, kami sudah mendistribusikan sebanyak 85 ribu liter atau 17 tangki air bersih ke lokasi kekeringan" papar Yos.

Yos mengatakan, dari 85 ribu liter air bersih ini baru mencukupi kebutuhan sebanyak 904 Kepala Keluarga untuk kebutuhan primer seperti air minum, mencuci dan mandi. "Kekeringan menyebabkan ribuan hektare sawah milik petani gagal panen dan gagal tanam karena kekeringan," ungkap dia.

Menurut Yos, kekeringan paling parah melanda Kabupaten Bogor terjadi pada 2012 lalu, karena terjadi di 19 kecamatan dan terbanyak di wilayah Bogor bagian timur. "Tahun tersebut kecamatan Caringin menjadi kecamatan yang parah dilanda kekeringan, sehingga saat itu pemerintah melakukan pemasangan paralon dari sumber air," kata dia.

Untuk mengantasi kekeringan itu, lanjutnya, pemerintah Kabupaten Bogor melalui PDAM, Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) agar cepat mencari solusi kekeringan yang melanda warga Kabupaten Bogor.

"Kami juga berkoordinasi dengan pihak Dinas ESDM untuk mencari lokasi-lokasi yang menjadi sumber mata air agar bisa dimanfaatkan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan air bersih," beber Yos.

Selain itu, pihaknya juga sudah membuat toren atau penampungan air di 41 titik dengan kapastitas 5.000 liter sehingga masyarakat dapat mengakses selama 24 jam. "Kami juga sudah berkoordinasi dengan perusahan-perusahaan air minum, air curah dengan menggunakan mobil tangki air milik TNI untuk mendistribusikan air bersih ke lokasi yang mengalami kekeringan," pungkas Yos.

Kekeringan, 6 Kecamatan di Kendal Butuh Air Bersih

Sedangkan kemarau panjang membuat  sumur warga mengering,  di Kendal tercatat ada  empat belas desa yang terdiri dari enam kecamatan kekurangan air bersih. Dukuh yang mengalami kekeringan hanya bisa pasrah dan menggunakan air seadanya,  sehingga dia mengantungkan  droping air bersih dari pemerintah setempat. Salah satu desa yang mendapat jatah air bersih,  dukuh Prongkol desa Pekuncen Kecamatan Pegandon Kendal,  jika suplai air dari pemerintah sudah habis,  mereka terpaksa menggunakan air limbah cucian.

Sudah satu minggu lebih sumber air warga,  berupa sumur bong,  sudah mengering. Meskipun kedalaman sumur mencapai 13 meter,  namun jika musim kemarau tiba,  sumur-sumur milik warga selalu kering. Sedangkan sumber air lain seperti sungai,  jaraknya sangat jauh dari pemukiman. Untuk aktifitas sehari-hari yang membutuhkan air,  mereka sangat menggantungkan bantuan dari pemerintah kabupaten Kendal.

Salah satu warga mengaku,  kekeringan merupakan bencana tahunan di dukuh Prongkol Desa Pekuncen Kecamatan pegandon. JIka musim kemarau tiba,  keadaannya selalu sama. usaha warga untuk memperdalam sumur mereka,  juga sia-sia. sedangkan untuk membeli air,  dirasa sangat memberatkan,  karena sebagian besar penduduk di dukuh tersebut merupakan warga tidak mampu.

begitu bantuan air dari bpbd pemerintah kabupaten kendal tiba di lokasi,  langsung menjadi rebutan warga. mereka berbondong-bondong membawa ember dan sejumlah tempat penampung lain. bantuan air ini setidaknya dapat membantu mereka selama beberapa hari.

sementara itu,  kasi kedaruratan dan kesiapsiagaan bpbd kabupaten kendal,  slamet mengungkapkan,  "Dukuh Prongkol merupakan satu dari tiga dukuh,  di desa Pekuncen Kecamatan Pegandon,  yang membutuhkan bantuan air. Selain kecamatan Pegandon,  ada 5 kecamatan lain yang meminta bantuan air dari BPBD. Diantaranya Ringinarum,  Gemuh,  Patean,  Ccepiring,  dang Brangsong. bantuan air dilakukan secara bergilirang di 6 kecamatan tersebut.

Enam kecamatan yang mengalami kekeringan antara lain kecamatan  Ringinarum, Gemuh, Patean, Pegandon,  Cepiring dan Brangsong. 

Dari data BPBD kabupaten Kendal,  tidak semua kawasan dari 6 kecamatan tersebut mengalami kekeringan. Hanya ada 14 desa,  yang membutuhkan bantuan air secara rutin. 14 desa tersebut terdiri dari 17 ribu 532 jiwa,  yang terancam kekurangan air.(Hjc/L6c/Gs).