Error message

Deprecated function: The each() function is deprecated. This message will be suppressed on further calls in menu_set_active_trail() (line 2394 of /var/www/arsip.kemenkopmk.go.id/includes/menu.inc).
Oleh humaspmk on December 23, 2015

Jakarta (23/12) - Deputi Bidang Koordinasi Pendidikan dan Agama Prof R.Agus Sartono menjadi Narasumber dalam acara Dialog Interaktif Gerakan Nasional Revolusi Mental dengan topik "Konsep Revolusi Mental dalam Perespektif Pemerintahan" kerjasama antara Kemenko PMK dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang berlangsung di Kantor MUI Pusat, Jakarta. (humas/dwi)

Dalam paparannya, Prof Agus Sartono mengatakan pembangunan karakter bangsa merupakan hal yang penting. "Bung Karno mengatakan bahwa “kesejahteraan suatu bangsa ditentukan oleh karakter warga negaranya”. Jadi karakter memang sangat penting dan bangsa yang maju adalah bangsa yang memiliki karakter yang kuat". Ujar Prof Agus Sartono.

Tiga nilai yang ingin dibangun dalam revolusi mental: integritas, etos kerja dan gotong royong. Menurut Prof Agus Sartono, Integritas mengambil peranan penting dalam sebuah pembangunan karakter bangsa. "Oleh sebab itu disetiap pelantikan pejabat ada “penanda tanganan pakta integritas, bukan pakta kejujuran. Jujur saja tidak cukup tetapi harus berintegritas. Jujur per definisi is telling the truth to others. Jadi bicara kebenaran kepada orang lain. Sementara integrity is telling the truth to ourself.", Kata Prof Agus Sartono.

Pembangunan karakter bangsa dapat dilakukan melalui beberapa media, misalnya: Pertama, keluarga. Keluarga merupakan tempat yang sangat ideal untuk mengembangkan karakter seseorang karena sejak usia dini orang tua sudah dapat mengajarkan karakter kepada anaknya masing-masing. Orang tua dapat mengajarkan kedisiplinan kepada anaknya dengan membiasakan bangun pagi secara terus-menerus (senses of rythm) hingga terbentuk karakter disiplin bangun pagi. Kebersihan, juga bisa diajarkan oleh orang tua kepada anaknya untuk tidak membuang sampah sembarangan. Bila hal ini diajarkan secara berkesinambungan, maka akan membentuk karakter terbiasa hidup bersih dan disiplin sehingga tercapai pola hidup yang diinginkan (sense of harmony). Saudara-saudara bisa bayangkan, apabila setiap keluarga mempunyai pola pendidikan karakter yang tepat, maka akan terlahir masyarakat yang berkualitas dengan karakter yang baik karena masyarakat pada dasarnya merupakan perkumpulan dari beberapa keluarga.

Media kedua adalah melalui satuan pendidikan, baik formal maupun non formal. Sekolah merupakan tempat di mana peserta didik belajar mematuhi peraturan-peraturan sederhana untuk dilaksanakan. Ini semua perlu dilakukan oleh para pendidik dalam rangka memberi keteladanan kepada mereka. Selain kedisiplinan, dunia pendidikan baik formal maupun non formal juga dapat membentuk karakter integritas bagi peserta didiknya dengan cara untuk tidak menyontek dalam mengerjakan ujian juga tidak melakukan plagiarisme di dalam menulis karya-karya ilmiahnya.  Dengan demikian, maka tidak boleh terjadi, hanya karena mengharapkan menjadi seorang guru besar, lalu seorang dosen melakukan plagiarisme untuk mengejar jabatan akademiknya. Ingat pendidikan adalah suatu proses pembudayaan dalam rangka membentuk karakter. Dengan demikian, sekali lagi keteladanan merupakan sebuah keharusan dalam membentuk karakter bangsa. Sekali lagi disinilah tokoh agama sangat berperan dalam membangun karakter bangsa. Sejarah mencatat bagaimana tokoh agama mewarnai perjalanan bangsa Indonesia.

Diakhir paparannya, Prof Agus Sartono mengatakan bahwa keberhasilan revolusi mental dalam rangka pembangunan karakter ditandai dengan tercapainya sasaran sebagai berikut (i) Terwujudnya karakter bangsa yang tangguh, kompetitif, berakhlak mulia, dan bermoral berbudi luhur, toleran, bergotong-royong, berjiwa patriotik, berkembang dinamis, dan berorientasi iptek; (ii) Makin mantapnya budaya bangsa yang tercermin dalam meningkatnya peradaban, harkat, dan martabat manusia Indonesia, serta menguatnya jati diri dan kepribadian bangsa.

"Revolusi mental dalam rangka pembangunan karakter bangsa merupakan necessary condition agar bangsa ini mampu melakukan lompatan. Benar adanya “if welth is lost, nothing is lost. If health is lost, we lose something; but if character which is integrity is lost, we lost everything. Tugas kita semua untuk membangun habituasi nilai-nilai positif sehingga terbentuk karekter yang kuat. Mari  kita mulai dari lingkungan terkecil, keluarga kita masing-masing, dimasyarakat, dan lingkungan kerja." Tutup Prof Agus Sartono.

 

Kategori: