Error message

Deprecated function: The each() function is deprecated. This message will be suppressed on further calls in menu_set_active_trail() (line 2394 of /var/www/arsip.kemenkopmk.go.id/includes/menu.inc).
Oleh humas on January 29, 2019

Jakarta (29/01)---  “Konsep One Health di dunia telah dipergunakan sejak lama, sementara di Indonesia baru dalam 5-6 tahun terakahir ini. One Health tentu dapat menjadi sebuah konsep pendekatan yang bagus apalagi jika kemudian kita dapat memperkuat keberadaan Puskeswan (Puusat Kesehatan Hewan—red). Semoga One Health ini tidak hanya sekadar konsep tetapi juga ke depan dapat dilaksanakan dengan baik oleh seluruh pihak terkait,” Demikian disampaikan oleh Asisten Deputi Pencegahan dan Penaggulangan Penyakit, Kemenko PMK, Naalih Kelsum, saat bedah buku sekaligus peluncuran tiga dokumen mengenai One Health dalam penanggulangan bencana non alam Penyakit Infeksi Baru (PIB)/ Berulang dan Zoonosis, di Jakarta, Selasa pagi. Naalih menambahkan, Kemenko PMK dalam menanggulangi PIB/Berulang dan Zoonosis ini bertugas mengharmonisasikan seluruh program kegiatan K/L yang meliputi upaya peningkatan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan. “Karena memang upaya ini tidak mungkin kita lakukan sendiri, kita butuh kerjasama,” katanya lagi.

Pendekatan One Health dinilai dapat menjawab segala tantangan dari ancaman penyakit zoonosis dan PIB. One Health mengedepankan mekanisme kerjasama, kolaborasi, dan koordinasi lintas sektor yang dibutuhkan dalam pencegahan dan pengendalian zoonosis serta PIB/Berulang. Penyakit yang berpotensi menjadi bencana non alam ini terjadi tanpa mengenal batas wilayah dam sektor. One Health sebagai pendekatan baru tentu sudah tidak dapat ditawar lagi mengingat zoonozis dan PIB telah menjadi hot spot penyakit baru di Asia. One Health saat ini tengah diujicobakan di empat wilayah terutama dalam penguatan petugas lapangan yang berasal dari Kementan, Kemenkes, dan Kemen LHK yaitu Kabupaten Bengkalis di Riau; Kabupaten  Boyolali di Jawa Tengah; Kabupaten Ketapang di Kalimantan Barat; dan Kabupaten Minahasa di Sulawesi Utara.

Menurut Direktur Kesehatan Hewan Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian, Fadjar Sumping Tjatur Rasa, banyak masyarakat Indonesia yang selama ini hanya mengenal bencana dalam konteks alam seperti banjir, tanah longsor, gempa bumi dan sebagainya. Padahal menurutnya, ada bencana non alam, yaitu wabah penyakit yang juga tidak kalah mengkhawatirkan, jika Indonesia tidak bersiap dalam menghadapinya.  “Kita pernah merasakan wabah flu burung tahun 2003 lalu, dimana penyakit tersebut sempat menyebabkan kematian pada manusia. Hal ini tentunya harus kita antisipasi dan jangan sampai terulang kembali,” imbaunya.

Pada kesempatan yang sama, FAO ECTAD Team Leader, James McGrane menegaskan, peningkatan kapasitas pemerintah Indonesia untuk mencegah, mendeteksi, dan merespon ancaman kesehatan global yang baru atau yang muncul kembali, dan “berpindah” ke manusia melalui populasi hewan perlu dilakukan, maka FAO mendukung pemerintah Indonesia melalui program EPT2 ini yang kemudian didanai oleh USAID.   

Kementerian Pertanian bersama dengan FAO hari ini meluncurkan tiga dokumen panduan dalam menghadapi ancaman penyakit Infeksi Baru/Berulang (PIB) dan Zoonosis. “Buku panduan ini difokuskan untuk menguatkan kapasitas petugas di lapangan dalam mendeteksi, mencegah dan mengendalikan wabah penyakit dan juga membantu para pembuat keputusan di tingkat lokal (daerah) dan nasional (pusat) melalui pendekatan One Health,” kata Fadjar lagi. Ketiga dokumen itu antara lain Strategi Komunikasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Infeksi Baru/Berulang dan Zoonosis Tertarget dengan Pendekatan One Health; Modul Pelatihan Pencegahan dan Pengendalian Zoonosis dan Penyakit Infeksi Baru untuk Petugas Lapang Tiga Sektor dengan Pendekatan One Health; dan Buku Panduan Praktis Pencegahan dan Pengendalian Zoonosis dan Penyakit Infeksi Baru (PIB) melalui Optimalisasi Fungsi Puskeswan dengan Dukungan Dana Desa. (*)

Foto & Reporter : Siti Badriah

Kategori: