Error message

Deprecated function: The each() function is deprecated. This message will be suppressed on further calls in menu_set_active_trail() (line 2394 of /var/www/arsip.kemenkopmk.go.id/includes/menu.inc).
Oleh humaspmk on November 12, 2014

Jakarta, 12 Nopember -Masuknya budaya global dalam kehidupan masyarakat sudah tak terhindarkan. Namun, hal itu tak boleh jadi alasan bagi orang Jawa untuk melupakan akar budayanya. Staf Ahli Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Dr Hartoyo Soehari mengatakan, tergerusnya nilai budaya itu harus dibentengi dari keluarga.

Hal itu disampaikan saat menjadi pembicara dalam Kongres Kebudayaan Jawa 2014 bertema Revitalisasi Nilai-Nilai Budaya Jawa untuk Kejayaan Bangsa dan Negara, di Lorin Hotel, Colomadu, Karanganyar, Selasa (11/11/2014).

“Lingkungan keluarga sebagai pusat semaian pengenalan nilai-nilai budaya Jawa itu sendiri. Arahan Ibu Puan Maharani (Menko Pembanguann Manusia dan Kebudayaan) ini memang tepat untuk mengembalikan Jawane wong Jawa,” kata dia.

Hartoyo seperti dilansir portal Jogjosemar, menambahkan, pengenalan nilai itu juga akan efektif jika dimasukkan dalam tata nilai birokrasi dan pendidikan. Hal itu juga memungkinkan jangkauan yang luas.

“Namu, yang lebih penting adalah teladan dari para panutan negeri. Sebenarnya mulai lunturnya nilai Jawa itu karena memang saat ini minim sosok yang menjadi keteladanan,” ungkapnya.

Sementara Gubernur Jawa Timur yang diwakili Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Timur, Jarianto mengungkapkan, pengembangan kebudayaan di wilayahnya banyak mengambil dari ajaran Majapahit.

Dia meyakini, kerajaan yang dipimpin Hayam Wuruk itu justru telah menerapkan konsep bernegara yang mengutamakan toleransi. Hal itu penting untuk menyatukan beragam etnis yang berkembang di Jawa.

“Berdirinya Amerika Serikat itu meniru konsep bernegara Majapahit. Meski punya banyak wilayah kerajaan, tetapi Hayam Wuruk memberikan kebebasan dalam mengatur rumah tangganya. Begitupun di Jawa Timur. Meski sama-sama Suku Jawa, namun tiap daerah punya karakter sendiri. Salah satunya dari dialek bahasa,” kata dia.

Pihaknya pun berupaya mewadahi semua potensi yang ada menjadi daya tarik wisata di sana. Bahkan tahun ini ditetapkan sebagai Tahun Kebudayaan.

“Secara fisik, mungkin sulit mempertahankan Jawa tempo dulu. Namun dari sisi nilai itu akan terus tumbuh dan berkembang dengan globalisasi Mungkin bentuk seninya berubah, namun nilai tetap bertahan,” ungkapnya.

Direktur Pascasarjana Universitas Negeri Semarang (Unes), Prof Dr Rustono menambahkan, konsep politik raja-raja Jawa sejatinya sudah menjadi bagian dari kepemimpinan Indonesia.

“Jika konsep politik dan kepemimpinan Jawa itu diterapkan, maka negara gemah ripah loh jinawi akan terwujud. Namun jika diselewengkan, hancur sudah negerinya, “ kata dia.

Kongres tersebut diselenggarakan Yayasan Studi Bahasa Jawa (YSBJ) Kanthil, bekerja sama dengan Kementerian Koordinator Pemberdayaan Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Jawa Timur dan DIY.

Kongres Kebudayaan yang digelar kali kedua itu berlangsung sejak Senin-Kamis (10-13/11/2014). Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo juga hadir dalam pembukaan kongres Senin (10/11/2014) malam. Selama kongres berlangsung, sajian seni tradisi pun ditampilkan di sela-sela sesi sidang pleno.(Js/Gs).