Error message

Deprecated function: The each() function is deprecated. This message will be suppressed on further calls in menu_set_active_trail() (line 2394 of /var/www/arsip.kemenkopmk.go.id/includes/menu.inc).
Oleh humaspmk on September 26, 2017

Jakarta (26/09), Deputi Bidang koordinasi Perlindungan Perempuan dan Anak Kemenko PMK, Sujatmiko, memberikan arahan sekaligus membuka secara resmi kegiatan seminar Pengasuhan Anak Berbasis Komunitas.  Seminar ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan Festival Egrang yang dilaksanakan setiap tahun bagi anak-anak buruh migran di Kabupaten Jember (22/09).  Seminar ini diikuti oleh 200 orang anak yang berasal dari Provinsi Jawa Timur, Jawa Barat, NTB, NTT dan DKI Jakarta.

Kabupaten Jember adalah salah satu Kabupaten di Provinsi Jawa Timur, dan termasuk 10 besar pengiriman tenaga kerja keluar negeri. Menurut catatan dari BNP2TKI pada tahun 2013 Kebupaten Jember mengirim tenaga kerja sebanyak 10.617 orang.  Tingginya pengiriman tenaga kerja mengakibatkan anak-anak yang ditinggal oleh orang tuanya rentan terhadap perlakuan salah baik di dalam rumah maupun di luar rumah.  

Menurut Sujatmiko, ancaman bagi anak-anak paling utama adalah; serangan narkoba, radikalisme, dan pornografi. Selain itu anak juga rentan terhadap ancaman kekerasan, baik kdrt, fisik, seksual, dan minuman beralkohol.  Tugas kita orang dewasa untuk melindungi anak-anak dengan menggiatkan perlindungan anak berbasis masyarakat.  Selanjutnya Sijatmiko menyampaikan gerakan positif harus terus menerus digalakkan. Melalui program Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM) dan berbasis Komunitas merupakan terobosan untuk memberikan perlindungan terhadap anak-anak rentan khususnya anak-anak buruh migran. Tanoker (Kepompong dalam bahasa Madura) adalah Komunitas di Kabupaten Jember yang bergerak dalam memberikan pengasuhan alternatif dan pengembangan kreatifitas Anak Buruh Migran (ABM). 

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak membuka acara puncak Festival Egrang pada tanggal 23 September 2017. Menteri Yohana sangat mengapresiasi kegiatan Festival Egrang dengan melibatkan anak-anak buruh migran karena ditinggal oleh orang tua mereka dalam waktu yang lama.  Hal ini sangat baik untuk pertumbuhan dan perkembangan anak-anak.  Menurutnya kegiatan Festival Egrang dapat dijadikan sebagai model untuk dikembangkan di seluruh Indonesia,   karena anak membutuhkan waktu untuk berkreasi. Kreasi anak-anak tersebut perlu mendapat perhatian dan wadah yang tepat sehingga kreatifitas mereka memberikan kontribusi secara tepat. Lebih lanjut Menteri Yohana menyampaikan bahwa berkreatif/berkreasi, merupakan salah satu hak anak sesuai dengan konvensi hak anak internasional yang sudah diratifikasi melalui surat keputusan Presiden RI.   Khusus dalam pelaksanaan Festival Egrang di Kabupaten Jember Pemerintah mempunyai fungsi pembinaan, fasilitasi, dan promotif.  Pelaksanaan sepenuhnya dilakukan oleh Komunitas Tanoker.  Tujuannya adalah agar Festival tersebut dapat memunculkan efek pariwisata.