Sleman (20/05) – Setelah sukses menyelenggarakan Gathering Positif Bermedia Sosial di Jakarta, Surabaya dan Bandung, Kemenko senin ini kembali mengadakan pertemuan yang kali ini berfokus pada kegiatan Indonesia Mandiri melalui ekspresi budaya di Yogyakarta.
Bertempat di Desa Pulesari, Kabupaten Sleman, Kemenko PMK menggelar kegiatan ini yang melibatkan kalangan muda (netizen), komunitas, blogger, vlogger, dan para penggiat media sosial. Desa Wisata Pulesari dipilih bukan tanpa alasan. Desa ini merupakan desa budaya dan menjadi juara I desa wisata kategori Mandiri Kabupaten Sleman tahun 2018. Desa ini juga menjadi model percontohan bangkitnya sebuah desa pasca bencana erupsi gunung merap yang lalu. Desa Pulesari juga menonjolkan kearifan lokal masyarakat setempat dengan menggali potensi yang mereka miliki, seperti kebun salak.
Sampai saat ini banyak pelajar, mahasiswa dan masyarakat luas pengguna media sosial yang masih kurang menyadari pentingnya menggunakan media secara cerdas dan sehat. Hal ini menjadi alasan diadakannya gathering ini. Dibuka secara resmi oleh Staf Ahli Gubernur DIY Tri Mulyono, gathering ini diikuti oleh sekitar 120 peserta yang terdiri dari perwakilan Kemenkopolhukam, Kemenkoekon, Kemenkomaritim, Kemdagri, Kominfo, KemenPAN RB, BKKBN, Pemprov DIY, Kwarnas Pramuka, komunitas blogger, dan Perhimpunan Mahasiswa Komunikasi Informatika.
Dalam sambutannya, Deputi Bidang Koordinasi Kebudayaan Kemenko PMK Nyoman Shuida, mengatakan, "Saya berharap seluruh peserta yang hadir hari ini dapat menularkan cara bermedia sosial yang baik kepada teman dan lingkungannya."
Acara dimulai dengan diskusi panel yang diisi oleh Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hayu dari Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, Anggota Gugus Tugas Nasional GNRM Tri Mumpuni, Chief Executive Officer Good News From Indonesia Wahyu Aji, Facebook Indonesia Valdryno. Setelah diskusi, peserta diajak menyusuri desa Pulesari dan mengikuti permainan dan olahraga tradisional yang dipandu oleh Kampoeng Hompimpa, komunitas yang mengenalkan permainan tradisional pada anak-anak Gen Z. Para peserta mencoba berbagai permainan tradisional yaitu jemparingan, bakiak, dan dakon.
Terakhir, peserta diharuskan membuat konten nilai-nilai GNRM yang berbasis kearifan dan budaya lokal. Setelah gathering ini, masyarakat muda pengguna media sosial diwajibkan untuk berkontribusi membuat konten dengan ajakan positif demi mewujudkan generasi yang berkarakter dan berbudi pekerti luhur.
Foto & Reporter : Olivia C
Kategori:

