Error message

Deprecated function: The each() function is deprecated. This message will be suppressed on further calls in menu_set_active_trail() (line 2394 of /var/www/arsip.kemenkopmk.go.id/includes/menu.inc).
Oleh humaspmk on September 26, 2016

Gianyar (22/09) – Globalisasi menyebabkan dampak yang beragam bagi perkembangan budaya di Indonesia. Saat ini, daya tahan masyarakat daerah benar – benar diuji dalam menangkal masuknya pengaruh budaya asing. Maka, segala cara harus digiatkan untuk mencegah semua itu.”Sosialisasi dan praktek secara intens menjadi kunci utama,” demikian dikatakan Haswan Yunaz Deputi Bidang Koordinasi Kebudayaan Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) dalam seminar internasional bertema warisan transbudaya yang berbasis pada keharmonisan di Balai Budaya Gianyar, Kamis (22/9/2016).

Dikatakannya, Bali merupakan garis terdepan saat ini dalam urusan pengembangan kebudayaan. Pasalnya, pulau ini memiliki daya jual yang kuat bagi dunia. “Ini yang harus dijaga, jangan sampai rusak, yang hanya akan membuat orang beralih mencari lokasi lain yang belum terjamah. Tradisi harus benar – benar dilestarikan sekuat mungkin,” sebutnya. Haswan sendiri mengapresiasi komitmen Pemda Gianyar yang sangat concern terhadap pelestarian seni budaya. Menurutnya, niat baik tersebut harus dibarengi dengan etos kerja nyata, dukungan penuh dari masyarakat dalam partisipasinya memperkuat budaya daerah. ”Seni budaya juga harus dijadikan prioritas pembangunan,” cetusnya.

Seminar internasional yang dihadiri sekitar  100 orang terdiri dari pejabat pemerintah, pemerhati wisata, tokoh agama dan adat, akademisi, mahasiswa Perguruan Tinggi, siswa, insan kreatif dan lembaga sosial masyarakat di Bali tersebut bertujuan mensosialisasikan peran Gianyar dalam memperkuat jaringan, baik di tingkat lokal, nasional dan global. Dalam kesempatan itu juga dibahas refleksi perjalanan panjang sebuah kota dengan segala potensi, tantangan memperuat kearifan lokal yang dimiliki.

Sementara, Bupati Gianyar Anak Agung Bharata mengatakan, kepercayaan yang diberikan terhadap dirinya sebagai Predisium Jaringan Kota Pisaka Indonesia membuatnya memiliki tanggung jawab besar dan selalu memberi prioritas tertinggi dalam masalah seni dan budaya di Kabupaten Gianyar. Diharapkannya, usai seminar nanti, banyak ide baru yang dapat memberi sumbangsih terhadap perkembangan budaya di Kabupaten Gianyar. ”Budaya kita sudah sangat kuat, tinggal bagaimana memadukannya dengan inovasi – inovasi baru agar selalu fresh dan tidak jenuh,” katanya.

Seminar juga dihadiri oleh Ketua Pusat Kajian Bali Universitas Udayana Prof. Dr. I Ketut Ardhana, Prof. Goh Beng Lan dari National University of Singapore, Dr. Ang Ming Chee dari George Town World Heritage Incorporated Malaysia serta Prof Yekti Maunati dari LIPI-Jakarta. PS/ dbs

 

Kategori: