Jakarta, 5 Agustus – Beberapa negara di Afrika seperti Liberia, Sierra Leone, dan Nigeria tengah menghadapi permasalahan serius terkait penyebaran virus ebola yang begitu cepat. Sampai sekarang belum ada obat dan vaksin yang bisa mengatasi penyakit ini. Namun, Menteri Kesehatan (Menkes) Republik Indonesia Nafsiah Mboi memastikan, Indonesia masih aman dari virus tersebut. Meski begitu, masyarakat Indonesia diminta untuk tetap waspada.
“Indonesia harus mewaspadai virus ebola. Laboratorium juga sudah disiagakan. Artinya, bila ada gejala, langsung diobservasi," kata Menkes di kantor Kemkes di Jakarta, Senin (4/8/2014), seperti dilansir laman Beritasatu.com.
Seseorang yang terkena virus ebola umumnya memiliki gejala seperti demam, lemah, nyeri otot, sakit kepala, sakit tenggorokan, muntah, diare, ruam pada kulit, kerusakan ginjal dan hati, serta perdarahan dalam tubuh.
Menkes mengatakan, penularan virus ini terjadi melalui kontak langsung dengan cairan tubuh. Sehingga kemungkinan warga negara Indonesia untuk tertular virus ebola sangat kecil. “Hanya sedikit orang Indonesia yang ke sana (Liberia, Nigeria, dan Sierra Leona). Penerbangan langsung ke sana juga tidak ada. Lalu lintas komunikasi tidak ada yang langsung, jadi tingkat Indonesia baru waspada," sambung Menkes.
Sementara itu Kepala Balitbangkes Tjandra Yoga Aditama mengatakan, hingga kini WHO belum mengeluarkan travel warning dalam bentuk apa pun. Tetapi memang CDC Amerika Serikat telah mengeluarkan semacam peringatan untuk menghindari perjalanan yang tidak begitu perlu ke tiga negara terjangkit ebola.
“Sekarang ini ada 39 bandara internasional di 35 negara yang punya penerbangan langsung dari tiga negara terjangkit Ebola. Negara-negara itu ada di Afrika, Eropa, dan Amerika Serikat, tidak ada dari Asia. Penularan melalui penerbangan komersial juga relatif kecil, dan saat ini belum ada penerbangan langsung ke Asia. Tetapi tentu harus diikuti perkembangannya dan tetap waspada," kata Tjandra.(Bs/Gs).