Bogor, 5 Oktober, - Ikatan Purna Tugas Pegawai Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat/ Pembangan Manusia dan Kebudayaan (IP2K) menyelenggarakan Workshop bertajuk “ Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit degeneratif Dalam Rangka Koordinasi dan sinkronisasi Masalah strategis”, pada tanggal 3 – 4 Oktober 2015 di Bogor. Penyelenggaraan ini atas kerjasama dan didukung serta difasilitasi oleh Kemenko PMK.
Dalam workshop yang dibuka oleh Sekretaris Kemenko (Sesmenko) PMK yang dwakili oleh Staf Ahli Menko PMK Gunarso Santoso mengharapkan kiranya kegiatan ini dapat menjadi ajang silahturahmi bagi para pegawai Kemenko Kesra/ Kemenko PMK yang sudah purna tugas, sekaligus tetap bersemangat menjaga kesehatan. Untuk itu dalam workshop ini diisi tentang upaya upaya pencegahan dan penanggulangan penyakit degeneratif, baik dalam teori maupun praktek dalam olahraga/senam.
Dalam workshop tersebut Penyegahan dan penanggulangan penyakit degeneratif dipaparkan oleh nara sumber DR.Dr. Martina WS, SpKJ (K) dari Div. Psikiatri Geriatrik, Dep. Psikiatri FKUI – RSCM, Jakarta tentang “Memperlambat dan Penanggulangan Penyakit Deneratif” dengan moderator Ida Rosdiawan. Dalam paparannya, Martina menjelaskan bahwa penyakit Degeneratif antara lain hipertensi, diabetes melitus, hiperkolestrol, stroke, kanker, jantung, PPOK, OA, Demensia, perubahan akibat proses menua, berkurangnya kapasitas cadangan faal organ tubuh, rentan terhadap penyakit, geripause, osteoartritis dan osteoporosis.
Lebih lanjut Martina mengatakan bahwa untuk memperlambat dan menanggulangi penyakit degeneratif antara lain mempertahankan hidup sehat bebas penyakit degeratif, menghindari faktor risiko, mengobati selagi masih dini, mencegah komplikasi penyakit, selalu aktif fisik, mental dan sosial, memeriksakan kesehatan secara rutin dan senang belajar hal hal yang baru.
Sementara itu, nara sumber kedua adalah Dr. Ria Maria Theresa adalah wakil dekan Fakultas Kedokteran UPN Jakarta, memaparkan tentang “Memperlambat Penyakit Degeratif dan Pelatihan Alzhaimer” dengan moderator Alwi Assegaf. Dalam paparan ini, Ria menjelaskan bahwa fungsi eksekutif dalam otak manusia merupakan fungsi otak yang berperan dalam proses berpikir, mengingat, belajar, dan menggunakan bahasa. Dengan bertambah usia manusia, gangguan fungsi eksekutif dalam otak terjadi pada berbagai kondisi : Proses penuaan antara lian bisa normal, penyakit degeratif, penyakit jantung, stroke, penyakit tekanan darah tinggi, kencing manis dan lain lain. Dikatakan Ria bahwa penyandang penyakit kencing manis di Indonesia cukup tinggi yaitu 8,4% dan diperkirakan akan terus meningkat.
Dijelaskan oleh Ria bahwa gejala Diabetes Melitus dengan tanda yang khas antara lain sering kencing, mudah lapar dan haus,dan berat badan menurun. Sedangkan tanda yang tidak khas antara lain melahirkan lebih dari 4 kg, impoten, kesemutan, menglihatan kabur sering berganti kaca mata, batal gatal terutama di sekitar kemaluan, cepat lelah dan mengantuk, luka sulitt sembuh. Kondisi akan dapat mengakibatkan meningkatkan resiko gangguan koqnitif dengan kadar gula darah tinggi, mengingkatkan radikal bebas, dan kerusakan sel tubuh- kerusakan sel saraf.
Untuk mengatasi hal tersebut, perlu adanya upaya memperlambat diabetes melitus ini dengan perencanaan makan yang meliputi adanya pembatasan sesuai kebutuhan, teratur sesuai jadwal, jumlah dan jenis makanan. Perlu Olahraga (aktifitas fisik) seperti bersepeda secara teratur, jalan kaki, lari sesuai kemampuan dan aktivitas lainnya yang mudah, murah dan praktis, seperti senam dan kali ini diperkenalkan dengan SENAM POCO POCO, bukan POCO POCO BIASA, TETAPI POCO POCO NUSANTARA.
Dalam kesempatan ini, Ria Maria Theresa menjelaskan bahwa SENAM POCO POCO NUSANTARA ini dipilih sebagai senam yang pas untuk para lansia, dan tidak tertutup bagi generasi muda atau remaja sekaligus, toh nanti juga akan menjadi lansia. Mengapa dengan Senam Poco Poco Nusantara (SP2N)? Karena dengan Senam yang digerakkan model tari tarian akan memaksimalkan penggunaan oksigen pada otak, meningkatkan aktivitas enzim antioksidan dan menyingkirkan radikal bebas, memberikan rangsangan sel saraf dalam meningkatkan fungsinya. Dengan demikian hal ini dapat mengasah fungsi otak dengan gerakan tubuh, melatih konsentrasi, daya pikir, daya ingat di tiap gerakan, mengasah emosi dan kebersamaan.
Sedangkan tari Poco poco sendiri merupakan kegiatan yang menarik, irama lagu yang riang dan merdu dan hal ini memberiakn sikap positif, memenuhi kriteria aerobik, gerakan tarian yang sopan, sesuai budaya bangsa Indonesia.
Dalam praktek di lapangan SP2N ini dikaitkan dengan budaya nusantara, misalnya Indonesia sebagai negara Maritim dengan gerakan mendayung, Indonesia sebagai negara agraris dengan gerakan mencangkul, ada gerakan memanah, memetik buah, ada gerakan tari Betawi, Tari saman, Tari Papua, Warok, dan lain lain. SP2N ini telah dipraktekkan oleh para peserta Workshop mencegak dan penanggulangan Penyakit degeneratif yang terdiri dari para pengurus dan anggota IP2K yang dilatih dan dipandu oleh Dr. Martina, Dr. Ria dan Lilik Minggu, 4/10/2015, di Halaman Botani Square, Bogor, Jawa Barat. – Sehat, Bugar, Gembira Bersama Poco Poco Nusantara.
Dalam kesempatan Workshop tersebut diisi juga dengan sholat Subuh berjamaah dilanjutkan dengan kultum yang disampaikan oleh H. Zainal Abidin, sambutan perwakilan anggota IP2K yang disampaikan oleh Sutedjo Yuwono. Sutedjo Yuwono mengatakan bahwa kita sebagai pensiunan harus BERSYUKUR, masih dalam sehat wal alfiat, bisa bersilahturahmi, gembira, bisa tertawa bersama. Yang penting kita nikmati yang ada dan berusaha terus sesaui kemampuan.
Tampak hadir dalam workshop tersebut antara dari Kemenko PMK Kepala Biro Umum Dra. Indah Suwarni, M.Si., Sekretaris KORPRI Kemenko PMK Inti Ningsih, SH., dan pegawai dari Biro Perencanaan dan Kerjasama. Sedangkan para anggota IP2K yang hadir antara lain Joharis Lubis, Sujono, Suyono, Emil Agustiono, Maswita Jaya, Ina Hernawati, Arifin Badri, Wahnarno Hadi, Hartoyo, Dodi Budiatman, dan lain lain.
Acara ini ditutup oleh Ketua Umum IP2K Junus Sulchan dan dilanjutkan dengan foto session.
TUA OK, PIKUN NO WAY (Gs).
