Jakarta (25/9) - Terkait insiden Mina, jamaah haji Indonesia telah diimbau untuk melempar jumrah sesuai dengan jadwal yang disampaikan petugas PPIH Arab Saudi Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin diberbagai kesempatan di Arab Saudi,
Sebelumnya, Kepala Daker (Ka-Daker) Makkah Arsyad Hidayat mengatakan bahwa Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi sudah menyampaikan jadwal melontar jumrah kepada ketua kloter, ketua rombongan, dan ketua regu. Menurutnya, jamaah haji Indonesia sudah dilarang untuk melontar jumrah Aqabah pada pukul 8.00 – 11.00 di tanggal 10 Dzulhijjah. “Sebab saat itu adalah waktu di mana jamaah ramai-ramai pergi ke Jamarat untuk melontar jumrah,” terang Arsyad, Kamis (24/09). Sedangkan untuk tanggal 11 dan 12 Dhulhijjah, jamaah haji Indonesia diimbau untuk tidak melontar jumrah mulai Pukul 13.00 – 16.00, yakni pada sore hari selepas Ashar hingga menjelang Maghrib”.
Setelah insiden, PPIH Arab Saudi kini menempatkan petugas-petugas di simpul-simpul persimpangan jalan menuju jamarat. Petugas akan memandu arah jalan jamaah agar tidak terbawa atau tersesat ke jalur yang bukan diperuntukkan bagi jamaah Indonesia.
Selain bertujuan untuk pengaturan arus, waktu-waktu melempar jumrah yang disediakan juga sudah mempertimbangkan aspek suhu panas udara di Mina. Dengan demikian, jamaah terhindar dari desak-desakan dan ketidaknyamanan di jamarat. Perlu diketahui bahwa insiden maut di jalur jamaah haji di Mina itu bukan pada jalur jemaah Indonesia yaitu jalur King Fahd Abdul Aziz atau jalur terowongan Muaisim. Jadi jalur keecelakaan itu terjadi pada jalur yang dilewati oleh para jemaah haji dari Mesir, Nigeria dan negara-negara Afrika lainnya, yaitu pada jalur 204.
Adapun kemungkinan saja mereka tersesat atau terbawa arus kuat ke satu titik, sehingga tidak tahu arah dan masuk ke jalur yang bukan semestinya,” ujar Arsad Hidayat saat dikonfirmasi oleh juga sudah di konfirmasi melalui telpon celuler oleh Drs. H. Sahlan, MSI selaku Asdep Pembinaan Umat Beragama, Pendidikan Agama dan Kegamaan Kemenko PMK kepada Dr. Arsyad Hidayat. Lc. Selaku Kepala Daerah Kerja (Ka Daker) Mekkah. Demikian informasi ini juga dibenarkan oleh Dr. H. Rudi Sibantoro, S.Sos Kepala Pusat Informasi dan Hubungan Masyarakat Kementerian Agama di Lapangan Banteng Jakarta Pusat.
“Sampai saat ini data masih kami inventarisir dengan beberapa kawan Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab, sampai dengan hari ini, jamaah haji Indonesia yang menjadi korban yang sudah ada kepastian hanya 3 orang, selebihnya masih dicek RS Mina Al Jisr di Mina dan penelusuran ke beberapa Rumah Sakit Saudi Arabia. Identitas dua jamaah asal Indonesia yang meninggal karena peristiwa di Jalan 204 itu. Dia menduga keduanya tersasar atau tidak tahu jalan karena akses tersebut diperuntukkan bagi jamaah haji dari Mesir, Afrika, dan Asia Selatan.
Berdasarkan informasi dari Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi, dua jamaah yang meninggal, yaitu Hamid Atwi Tarji Rofia (51 tahun) dan Busyaiyah Sahel Abdul Gafar (50 tahun).
Hamid berjenis kelamin laki-laki dan berasal Kelompok terbang (Kloter) Surabaya (SUB) 48 yang tinggal di tenda Maktab 2. Sedangkan Busyaiyah yang berasal dari Kloter Batam (BTH) 14 yang tinggal di Maktab 1. Kedua maktab ini terletak di Mina Jadid. Demikian ditenegaskan oleh Rudi Sibantoro usai menjalankan solat jumat Jum’at di ruang kerjanya di Kementerian Agama.
Sedangkan satu korban yang juga wafat, sampai sat ini masih ditelusuri. Jamaah korban wafat itu tidak menggunakan identitas. “Tidak ada identitas, tapi menggunakan pakaian jamaah haji indonesia,” katanya. (Kedeputian IV).
Kategori:
