Jakarta, 18 September – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menghimpun beberapa titik api atau hotspot melalui satelit modis, hasilnya hotspot paling banyak berada di Pulau Kalimantan dan Pulau Sumatera.
"Di Kalimantan tengah ada 599 hotspot Kalmantan Selatan 252 hotspot, Kalimantan Barat 193 hotspot, sedangkan di Sumatera Selatan ada 195 hotspot, Kepulauan Riau 20, dan Jambi 17 hotspot," kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho di kantornya Jalan Juanda, Rabu (17/9/2014).
Seperti dilansir Laman tribunnews.com, menurutnya, dari informasi posko di Riau, indeks standar pencemaran udara di Riau terus meningkat, terjadi pencemaran udara yang berakibat mengganggu aktifitas masyarakat, khususnya jadwal penerbangan pesawat di bandara udara Sultan Syarif Kasim II International Airport.
"Di bandara maupun beberapa wilayah ada kurang dari satu kilometer, asap sudah mengganggu masyarakat dan mengganggu penerbangan, sehingga perlu dilakukan secara masif penanganan untuk mengatasi hotspot tersebut," katanya.
Lebih lanjut dikatakan Sutopo, BNPB memberikan pendampingan kepada beberapa daerah ini, untuk melakukan penanganan kepada water bounding saat operasi di lapangan.
"BNPB bekerjasama dengan seluruh yang ada, polri mandala , dan melakukan pemadaman di darat," lanjutnya.
Kerugian Negara Rp 50 T Akibat Kebakaran Hutan di Riau
Sementara itu, BNPB juga melaporkan bahwa pembakaran hutan oleh oknum tak bertanggung jawab dalam tiga bulan terakhir, merugikan negara puluhan triliun Rupiah.
"Ada 20 triliun itu hanya di Riau saja, itu baru 3 bulan dari Februari sampai April. Ini kalau kita hitung wilayah Indonesia, meliputi Sumatera Selatan, Lampung, Jambi, Kalimantan Barat dan Tengah. Mungkin bisa lebih dari Rp 50 triliun dampaknya dan kerugian itu kita hitung kalkulasinya," kata Kapus Data Informasi dan Humas BNPB.
Menurutnya, perilaku masyarakat yang buruk, faktor cuaca dan medan yang sulit membuat petugas kesulitan memadamkan titik api yang muncul.
"Kalau kita lihat ancaman makin meningkat, karena kondisinya makin kering hujan akan berkurang, dan kemudian kalau pembakaran masih dibiarkan akan sulit dan wilayah yang terbakar bukan di pinggir jalan, sampai ke dalam-dalam tengah hutan, sehingga petugas patroli maupun petugas kesulitan aksesnya, walaupun satu pintu sudah kita cegah atau tutup," ujarnya.
Diketahui, kondisi udara di 7 wilayah Provinsi Riau dinyatakan tidak sehat karena diselimuti kabut asap yang pekat. Partikel debu, berdasarkan Indeks Standar Pengukur Udara (ISPU) lebih tinggi dibanding kandungan oksigen.
Daerah yang dimaksud yaitu Kecamatan Rumbai, Kota Pekanbaru, Duri Field, Bangko, Petapahan, Libo dan Duri Camp.
"Itu laporan yang disampaikan Badan Lingkungan Hidup Provinsi Riau. Sebelumnya, hanya Pekanbaru yang dinyatakan tidak sehat," kata juru bicara BNPB Agus di Pekanbaru, Rabu (17/9/2014).
Dijelaskan Agus, angka pada ISPU di daerah tersebut berada di atas 100. Bahkan, untuk daerah Duri dan Bangko hampir mencapai 200 atau level berbahaya untuk kesehatan.
"Sementara di Kota Dumai dan Minas termasuk kategori sedang," ujarnya.
Berdasarkan pantauan Satelit Terra dan Aqua milik Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), jarak pandang di Kabupaten Pelalawan, Riau, hanya 500 meter karena kabut asap.
"Sementara Pekanbaru dan Kota Rengat, Kabupaten Indragiri Hulu hanya 1 kilometer. Di Kota Dumai, jarak pandangnya agak baik yaitu 2 kilometer," kata Agus.(Tn/Gs).