Pemerintah berusaha menurunkan angka kejadian penyakit tuberkulosis (TB). Sesuai target Tujuan Pembangunan Millenium (Millenium Development Goals/MDGs), TB akan ditekan menjadi 222 kasus per 100 ribu jiwa.
"Tahun 1990-an insiden TB 443 per 100 ribu, sekarang sudah turun menjadi 244 per 100 ribu. Harus diturunkan lagi menjadi 222 per 100 ribu untuk mencapai target MDGs," kata Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih saat membuka seminar tentang TB di Jakarta, Rabu (24/3).
Saat menyampaikan pernyataan pers terkait peringatan Hari TB Sedunia ia menjelaskan, untuk mencapai target tersebut pemerintah menerapkan strategi pengobatan jangka pendek dengan pengawasan langsung (DOTS).
Strategi itu antara lain meliputi komitmen politik berkesinambungan untuk mengerahkan sumber daya bagi upaya pemberantasan TB, diagnosis TB berkualitas, penyediaan obat anti-TB (OAT), pengobatan OAT dengan pengawasan, serta pencatatan dan pelaporan kasus sesuai standard.
Menurut dia, saat ini 98 persen puskesmas sudah menerapkan strategi DOTS yang bisa diakses penderita TB. Namun, menurut Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Tjandra Yoga Aditama, rumah sakit yang menerapkan strategi DOTS baru sekitar 37 persen.
Padahal, kata Pejabat Sementara Perwakilan Badan Kesehatan Dunia (WHO) di Indonesia, Stephan Jost, rumah sakit juga memegang peran kunci dalam upaya penanggulangan TB nasional. "Untuk dokter praktik swasta, kami akan menghubungi Ikatan Dokter Indonesia supaya mereka menyebarluaskan paket informasi mengenai TB," katanya.
Kementerian Kesehatan, ia melanjutkan, juga sudah meminta Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) memasukkan materi tentang pemberantasan TB dan strategi DOTS dalam kurikulum pendidikan kedokteran.
Ia menjelaskan pula bahwa pemerintah akan terus meningkatkan temuan kasus TB dan keberhasilan pengobatan TB untuk memberantas penyakit menular yang disebabkan Mycobacterium tuberculosis itu.
"Cakupan penemuan kasus baru sekarang 71 persen, tingkat keberhasilan pengobatan 88,4 persen. Itu sudah melampaui target global, tapi tetap akan ditingkatkan," katanya. TB sampai sekarang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia.
Jumlah kasus baru TB setiap tahun masih 528 ribu dan 91 ribu di antaranya berakibat kematian.
"Indonesia adalah negara pertama di Asia Tenggara yang berhasil mencapai target penemuan kasus dan keberhasilan pengobatan global, tapi masalahnya masih besar.
Penyakit ini juga berkembang, bakteri penyebabnya berubah, kita harus bergerak lebih cepat dan menghentikannya," demikian Stephan Jost. (roh)
Kategori: