Semarang (6/4) --- Memasuki hari ketiga kegiatan Gladian Sejarah Pemuda Indonesia (GSPI) 2019, para peserta mengikuti berbagai Workshop lokal termasuk kajian singkat sejarah dan cara pembuatannya di 10 tempat. Asisten Deputi Warisan Budaya Dunia, Pamuji Lestari, turut serta mengunjungi beberapa tempat bersama dengan para peserta GSPI salah satunya ke Kampung Malang Batik 673, Semarang Timur, Jateng.
Dalam kesempatan ini Pamuji berkesempatan berbincang dengan Ketua Komunitas Cluster Batik Semarang, Joko Sunarto. Pamuji mengapresiasi komunitas cluster batik yang telah menerima para peserta GSPI untuk belajar membatik dan diketahui bahwa batik saat ini sudah menjadi warisan dunia. Lebih lanjut, Pamuji juga mengatakan bahwa kampung batik yang berlokasi di daerah Bubakan ini sangat inspiratif, artisti k, dan indah.
Joko menjelaskan sejarah berdirinya kampung batik yang merupakan kampung lama dan sudah berdiri sebelum kedatangan Penjajah. Namun kampung batik ini sempat menghilang karena dimusnahkan oleh Penjajah tetapi kembali dihidupkan pada tahun 2006. Dimulai dengan memberikan pelatihan-pelatihan membatik hingga kini terdapat 50 pengrajin batik di dalam satu komunitas tetapi yang aktif dan memproduksi kain batik hanya sekitar 30 orang.
Komitmen Pemerintah, baik itu Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah juga telah dirasakan oleh para pengrajin batik di kampung batik ini yaitu Pemeritah telah memberikan pelatihan-pelatihan baik seminar, pelatihan proses pewarnaan batik, pelatihan manajemen, pelatihan e-commerce dan memberikan showroom untuk memasarkan produksi batik mereka yang tersebar di balaikota, kota lama, Pasar Srondol, dan Pasar Bulu. Di akhir perbincangan ini, Ketua komunitas ini sangat senang atas kunjungan peserta GSPI dan juga dari pemberian fasilitas dari Pemerintah yang dirasa sudah baik. Selain mengunjungi Kampung batik, para peserta GSPI juga mengunjungi Pasar UMKM Srondol, Pusat oleh-oleh Lumpia 58 Bapak Katon, Pembuatan Bandeng Presto, serta beberapa lokasi lainnya.
Foto & Reporter : Rieska C
Kategori:
