Jakarta (23/01) - Asisten Deputi (Asdep) Warisan Budaya, Pamuji Lestari, memimpin rapat koordinasi terkait Pengembangan Panas Bumi di Kawasan Tropical Rainforest Heritage of Sumatra (THRS) yang berlangsung di Ruang Taskin, gedung Kemenko PMK, Jakarta Pusat. Hadir dalam rakor Direktur Panas Bumi Kementerian ESDM, Ida Nuryatin Finahar; Direktur Kawasan Konservasi, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Luar Negeri, Kemendikbud, Dewan Energi Nasional serta pemangku kepentingan lainnya.
Dalam pembukaannya, Pamuji mengatakan isu terkait pemanfaatan panas bumi merupakan sesuatu yang harus dibahas bersama K/L terkait kawasan konservasi yang telah ditetapkan sebagai situs warisan dunia oleh UNESCO. "Saya memandang perlu adanya sinergi untuk memastikan bahwa kawasan konservasi THRS terjaga dengan baik ekosistem dan lingkungannya," ungkap Pamuji. Dia menambahkan, kajian dari pemanfaatan panas bumi di kawasan THRS akan segera disampaikan ke UNESCO.
Seperti diketahui pada sidang ke-28 World Heritage Commitee, yang diselenggarakan di Suzhou RRC pada bulan Juli 2004, Hutan Hujan Tropis Sumatera di terima sebagai Situs Warisan Dunia oleh UNESCO, karena merupakan kawasan Hutan Lindung dan rumah bagi sekitar 10.000 jenis tanaman, termasuk 17 genus endemis, lebih dari 200 spesies mamalia, dan 580 spesies burung dan 465 berdomisili dan 21 merupakan endemis. Di antara jenis mamalia, 22 adalah orang utan, yang tidak ditemukan di tempat lain di Indonesia dan 15 hanya terbatas ke wilayah Indonesia, termasuk Sumatera yaitu orang utan Sumatera. Hutan Hujan Tropis Sumatera ini juga memberikan bukti dari evolusi biogeografi pulau.
Luas dari Hutan Hujan Tropis Sumatera seluruhnya adalah 2,5 juta hektare yang terdiri dari 3 Taman Nasional di Sumatera, yaitu Taman Nasional Gunung Leuser, Taman Nasional Kerinci Seblat, dan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Tempat ini juga tempat berbagai jenis tumbuhan endemik seperti, kantong semar, bunga terbesar di dunia Rafflesia Arnoldi, dan bunga tertinggi Amorphophallus titanum. Selain memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi, hutan hujan tropis Sumatera juga merupakan sumber mata pencarian bagi masyarakat yang tinggal di sana. Beberapa suku tinggal di hutan hujan tropis Sumatera, seperti suku Mentawai dan suku Anak Dalam.
Pada sesi pemaparan, Direktur Panas Bumi Kementerian ESDM, Ida Nuryatin Finahar mengatakan THRS merupakan salah satu dari kawasan yang memiliki kandungan panas bumi yang banyak. "Saat ini baru 12 persen kebutuhan pembangkit listrik di sumatera menggunakan energi terbarukan dalam hal ini panas bumi," ungkapnya. Menurut Kementerian ESDM, Kapasitas pembangkit listrik di wilayah Sumatera tahun 2017 sebesar 7,9 GW didominasi oleh sumber energi fosil. Diharapkan dengan pengembangan panas bumi di kawasan THRS, dapat memberikan kontribusi penambahan PLTP sebesar 1.305 MW atau sekitar 11,56% kebutuhan listrik Sumatera.
Foto & Reporter : Dwi A
Editor : Siti Badriah
Kategori:
