Error message

Deprecated function: The each() function is deprecated. This message will be suppressed on further calls in menu_set_active_trail() (line 2394 of /var/www/arsip.kemenkopmk.go.id/includes/menu.inc).
Oleh humas on February 25, 2019

Jakarta (25/02)--- Melestarikan warisan budaya dapat dilakukan dengan berbagai perspektif dan cara. Inovasi-inovasi yang dilakukan sangat berperan penting dalam upaya menjaga agar warisan budaya tidak hilang ditelan perubahan zaman. Salah satu warisan budaya Indonesia yang perlu dilestarikan dengan inovasi tanpa menghilangkan unsur otentik dari budaya adalah wayang. Berbagai upaya dilakukan, seperti menetapkan wayang sebagai warisan budaya dunia melalui UNESCO dan menetapkan tanggal 7 Februari sebagai Hari Wayang Nasional sesuai dengan Keputusan Presiden Nomor 30 tahun 2018 tentang Hari Wayang Nasional.

Berdasarkan payung hukum tersebut, pemerintah berupaya mendukung segala bentuk pelestarian, pemeliharaan, dan pengembangan wayang dalam wujud pementasan wayang terutama yang dilakukan oleh Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia (SENA WANGI). Salah satu pementasan yang mendapatkan atensi dari pemerintah adalah pementasan Drama Wayang Swargaloka yang berjudul “Kidung Anargya Kunthi Talibrata”. Pementasan wayang ini termasuk dalam rangkaian acara Rapat Koordinasi Organisasi Pewayangan Indonesia dalam rangka memperingati Hari Wayang Nasional di Gedung Pewayangan Kautaman, Taman Mini Indonesia Indah tanggal 19 Februari 2019. Rapat Koordinasi sendiri dihadiri oleh Nuswardana Sarodja, Kepala Bidang Sejarah dan Warisan Dunia mewakili Asisten Deputi Warisan Budaya Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan.

Dalam pementasan wayang yang mayoritas diperankan oleh anak muda ini, beberapa perspektif baru dihadirkan, seperti penggunaan bahasa Indonesia dalam setiap adegan yang diperankan, perpaduan konsep wayang orang tradisional dengan drama modern tanpa menghilangkan ciri khas wayang orang yang memuat unsur seni tari, seni peran, seni suara, seni musik/karawitan, dan seni rupa, serta perpaduan siluet wayang kulit dalam layar lebar dengan seni multimedia. Koreografi dalam tarinya pun menggabungkan unsur tradisional Jawa dengan konsep tari kontemporer. Selain itu, pementasan wayang ini semakin terasa modern dengan iringan musik gamelan yang dipadukan dengan alat musik barat, seperti biola, cello, saxophone, electone, dan drum.

Kesan kekinian yang akrab dengan generasi millenials berupaya ditampilkan dalam setiap lakon “Kidung Anargya Kunti Talibrata” dengan tetap mengedepankan unsur tradisional wayang yang dipadukan dengan unsur tari, musik, dan konsep modern sehingga wayang tetap menarik untuk ditonton. Pada bagian pertengahan lakon turut hadir salah satu legenda dalam pewayangan Indonesia, yaitu Ki Manteb Soedarsono yang ikut memainkan peran. Dalam salah suatu dialog, Ki Manteb Soedarsono berpesan “Wayang merupakan bagian dari warisan budaya Indonesia yang harus dilestarikan agar tidak punah termakan zaman. Berbagai inovasi perlu dilakukan agar tetap menarik dan tetap memberikan tuntunan, namun tidak keluar dari koridor dan kaidah pewayangan”. Hal ini sesuai dengan tagline Opera Drayang Swargaloka, yaitu Tontonan dalam Tatanan Penuh Tuntunan. (sumber: Kedep V Kemenko PMK)

Editor : Siti Badriah

Kategori: