Jakarta, 14 Oktober - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad Nuh berpendapat, menerapkan Kurikulum 2013 memang bukan hal mudah. Mengubah mindset adalah persoalan yang paling sulit untuk dilakukan.
“Yang paling memberatkan dari sisi intelektual. Mengolah pemikiran tidak mudah. Sangat melelahkan, memerlukan tenaga yang luar biasa. Mengubah mindset itu tidak mudah,” papar M Nuh di Rumah Jambuluwuk, Ciawi, Jawa Barat, akhir pekan lalu.
Dia menjelaskan, selama ini kurikulum yang diterapkan bersifat core based. Sementara Kurikulum 2013 bersifat objective based. Maka, mata pelajaran yang sudah ada dikumpulkan untuk mencapai satu tujuan objektif, sehingga kemampuan yang diinginkan untuk siswa di tiap jenjang pendidikan bisa tercapai.
Menurut M Nuh, Kurikulum 2013 tidak sembarangan diciptakan. Melainkan, didahului dengan proses evaluasi terhadap kurikulum sebelumnya, yakin Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan diskusi panjang dengan pakar pendidikan.
“Kalau tidak melalui evaluasi KTSP, bagaimana kami bisa membuat isi dari matematika, bahasa, dan sebagainya. Kalau tidak melalui evaluasi KTSP maupun hasil PISA, kita tidak pernah tahu penyebab pendidikan di Indonesia belum maju,” paparnya.
Setelah dibongkar, kata M Nuh, ternyata materi pengenalan statistika memang belum diajarkan. Maka, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melakukan perombakan pada mata pelajaran bahasa dengan matematika agar punya bahasa logika kuat dalam berpikir.
Dia mengungkap, hasil uji kompetensi guru (UKG) pada 2012 sebesar 45,3 tapi tidak ada satu pun yang mengaitkannya dengan KTSP. Demikian pula dengan kurikulum sebelumnya yang tidak pernah dipersoalkan. Sementara hasil UKG dalam penerapan Kurikulum 2013 langsung dianggap guru tidak siap.
“Rata-rata hasil UKG setelah penerapan Kurikulum 2014 adalah 71 dan pasti ada guru yang nilainya di bawah 50. Itu yang harus dibina. Jumlahnya bisa ribuan. Bukan justru diambil kesimpulan guru tidak siap maka Kurikulum 2013 dianggap tidak layak. Bagi yang tidak bisa dilatih, kami rombak LPTK,” ujar mantan Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya itu.
M Nuh menilai penerapan Kurikulum 2013 bisa berjalan lancar setelah tiga tahun. Namun, perlu terus dilakukan evaluasi dan perbaikan secara kontinyu.
“Paling tidak kita butuh sumatif tiga tahun. Dari situ dievaluasi kembali agar sesuatu kebijakan bisa diperbaiki. Jelas-jelas ini harusnya diajarkan, tapi belum diajarkan,” kata M Nuh. (Rik/Gs)
Kategori: