Jakarta, 28 Juli - Khatib Salat Idul Fitri di Istiqlal, Masykuri Abdillah, mengakui bahwa di era reformasi, muncul ekspresi hak dan kebebasan yang terlalu bersemangat dan berlebihan, termasuk ekspresi keberagaan yang liberal dan radikal, sehingga menimbulkan sejumlah kasus intoleransi.
Namun demikian, Masykuri memastikan bahwa jumlah kasus intoleransi yang berlatarbelakang agama sebenarnya sangat sedikit. Kondisi objektif secara umum justru menunjukan bahwa hubungan antar umat beragama kini tetap baik, rukun, dan damau.
“Bahkan kebijakan negara Indonesia tentang hal ini termasuk yang terbaik di dunia,” tegas guru besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini, Senin (28/07/2014).
Menurutnya, ada lima hal tentang kebijakan negara yang tidak dimiliki oleh negara-negara lain di dunia. Pertama, pemberian kesetaraan kepada agama-agama minoritas dengan agama mayoritas, terutama penetapan hari besar enam agama sebagai hari libur nasional.
Kedua, pelibatan agama-agama minoritas dalam struktur Kementerian Agama. Ketiga, pemberian pendidikan agama di sekolah untuk siswa pemeluk agama minoritas.
Keempat, jumlah rumah ibadah kelompok minoritas sangat banyak. Kelima, jumlah sekolah-sekolah umum yang didirikan oleh lembaga-lembaga keagamaan milik kelompok minoritas sangat banyak.
Terkait itu, Masykuri mengajak masyarakat Indonesia untuk menjadikan spirit Idul Fitri sebagai acuan bagi penguatan etika social yang berdasarkan persaudaraan, kedamaian, kerukunan, dan toleransi. Bangsa Indonesia, lanjut Masykuri, adalah bangsa yang majemuk, terdiri dari berbagai suku, agama, dan ras, dan selama ini dikenal sebagai bangsa yang ramah dan toleran.
“Spirit Idul Fitri seyogyanya menjadi acuan bagi penguatan setika sosial yang berdasarkan pada persaudaraan, kedamaian, kerukunan, dan toleransi,” kata Anggota Dewan Pertimbangan Presiden ini.
Spirit Idul Fitri Acuan Penguatan Etika Sosial
Lebih lanjut Prof. Dr. Masykuri Abdillah berpesan bahwa spirit Idul Fitri seyogyanya menjadi acuan bagi penguatan setika sosial yang berdasarkan pada persaudaraan, kedamaian, kerukunan, dan toleransi.
“Spirit Idul Fitri seyogyanya jadi acuan penguatan etika sosial,” tegasnya.
Salat Id yang dimulai jam 07.00 WIB ini dihadiri Presiden SBY dan Ibu Ani Yudhoyono, Wapres Boediono dan Ibu Herawati Boediono, Para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu, Para Dubes dan Perwakilan Negara Tetangga, para pejabat Eselon I dan II, serta tidak kurang dari 250 ribu jamaah dari DKI Jakarta dan sekitarnya.
Menurutnya, menjadikan idul fitri sebagai acuan penguatan etika sosial akan memperkuat sikap cinta kebangsaan dan cinta tanah air, serta memperkuat persatuan bangsa.
“Juga akan mendorong rekonsiliasi bagi pihak-pihak yang terlibat dalam persaingan dan ketegangan politik, seperti dalam pemilu yang baru lalu,” terangnya.
Anggota Dewan Pertimbangan Presiden ini mengatakan bahwa prinsip persaudaraan (ukhuwwah) yang merupakan unsur utama spirit Idul Fitri, perlu selalu dikumandangkan, baik dalam bentuk ukhuwwah Islamiyah (persaudaraan Islam), ukhuwah wathaniyyah (persaudaraan nasional), maupun ukhuwwah insaniyyah (persaudaraan kemanusiaan).
“Dengan persaudaraan kemanusaain inilah, kita harus menunjukan solidaritas dan dukungan kita kepada rakyat Palestina, serta mengutuk serangan biadab Israel terhadap mereka,” tegas Masykuri.
Mengakhiri khutbahnya, Masykuri berharap, prinsip pengendalian diri yang merupakan unsur utama dari spirit ibadah puasa, dapat diinternalisasikan sehingga bisa menghilangkan atau mencegah ketagangan, perselisihan dan konflik dalam masyarakat. (Kemenag/Gs)