Error message

Deprecated function: The each() function is deprecated. This message will be suppressed on further calls in menu_set_active_trail() (line 2394 of /var/www/arsip.kemenkopmk.go.id/includes/menu.inc).
Oleh humaspmk on September 05, 2014

Kegiatan Diseminasi dan Lokakarya Model Linkage Dana Amanah Pemberdayaan Masyarakat (DAPM) PNPM Mandiri Se-Jawa Tengah
Semarang, 13-14 Agustus 2014

Jalin Linkage, Masyarakat Miskin ‘Naik Kelas’

Linkage PNPM Mandiri terbentuk dari kebutuhan dua pihak yang bertemu; kebutuhan bank untuk ekspansi pasar  dan kebutuhan BKM/LKM untuk menambah kredit. Kerjasama ini terbangun karena sistem kepercayaan. Bukan hanya layanan kredit perbankan, asuransi dan jasa pembayaran juga bisa menjadi sasaran linkage. Tapi, kemitraan tidak melulu soal mengambil keuntungan materi atau finansial. Linkage dapat menjadi promosi kinerja BKM UPK dalam memperluas jaringan dan kerjasama. 

Salah satu kisah menarik datang dari BKM Ngesti Rahayu, Pati, Jawa Tengah. Kisah berawal dari kebutuhan mencari solusi dana tambahan untuk Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) yang masuk daftar tunggu di UPK. BKM menangkap peluang kredit Dinas Koperasi yang dapat diakses melalui PD BPR BKK Pati Kota. Mereka pun mengajukan kredit dana bergulir yang terealisasi sebesar Rp15 juta dengan bunga  6% per tahun. BKM Ngesti Rahayu menjadi agen pelaksana atau  executor atas dana yang  dikelola dari bank melalui model linkage ini. 

Hasilnya, Ibu Aring pedagang semanggi dan makanan mampu merenovasi tempat dagangannya dan menambah bahan dagangan. Penjualan pun meningkat dari Rp250 ribu menjadi Rp600-750 ribu. 

Resiko pada model linkage ini dibagi 2 yaitu: di bank sebagai pemberi kredit & di BKM/UPK sebagai pengelola/pelaksana kredit (bukan di tangan masyarakat).  Sehingga dalam kasus ini jaminan, diberikan oleh pengurus BKM/UPK.

Dalam kasus Ngesti Rahayu, suku bunga ringan diberlakukan oleh BPR BKK untuk  BKM  (hanya 6% pertahun).  Dari BKM kemudian digulirkan ke peminjam PNPM/masyarakat  “sama” dengan bunga pinjaman dana bergulir  PNPM  (1.5% perbulan atau 9% pertahun). Selisihnya digunakan untuk menambah biaya operasional BKM.  

“BKM Ngesti Rahayu bangun kepercayaan dengan pengembalian pinjaman sebelum tengat waktu pembayaran PD BPR BKK Pati,” ujar pihak Bank Jateng mengapresiasi. 

Berbeda masalah, UPK Kalijambe di Sragen memilih linkage dengan Asuransi Jiwa Bersama BUMIPUTERA 1912 dan Asuransi Jiwa Kredit BOSOWA. Berawal dari pengalaman penerima manfaat yang meninggal saat masih meminjam dana bergulir. Ini berisiko tunggakan pinjaman akibat keberatan ahli waris dan kelompok menanggung sisa pinjaman. Dengan linkage ini, asuransi akan melunasi sisa pinjaman ketika ada anggota KSM yang meninggal. Dana amanah pun bisa terus digulirkan. 

LKM Arta Murti, Bantul, DIY turut membagikan kiat linkage dari pengalaman menjalin 13 mitra dari Bank Mandiri hingga LSM seperti Hivos dan Yayasan Griya Mandiri (YGM).  LKM memberikan rekomendasi untuk anggota KSM yang telah ‘naik kelas’ agar bisa mengakses PKBL Bank Mandiri. Hasilnya, sebanyak 11 KSM Desa Trimurti bisa mengakses pinjaman untuk pengembangan usaha.  LKM ini juga telah bermitra dengan DPU untuk pinjaman semen bergulir, peningkatan kualitas rumah sehat bersama YGM, dan pengadaan blue energy untuk perternak sapi bekerja sama dengan Hivos dan Paluma. 

Dari kegiatan ini, Prof. Gunawan dari DEFINIT berharap PNPM mampu memberdayakan masyarakat melalui pengelolaan keuangan. Tidak hanya kredit, tapi ada simpanan. Melalui linkage, PNPM bisa menggerakkan pendampingan pemerintah, swasta, pengusaha, perguruan tinggi, LSM, dan orang miskin sendiri. Forum lokakarya ini juga bisa menjadi wadah silaturrahmi gerakan nasional pemberdayaan masyarakat. Gerakan ini pun harus didukung pemimpin bersih dari tingkat desa hingga nasional. 

“Gerakan ini dimulai dari Jawa Tengah untuk Indonesia, untuk seluruh dunia. Selamat berjuang!” serunya.(psf)