Jakarta, 2 Januari - Sepanjang tahun 2014, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) seperti dilansir laman Antaranews, mencatat terdapat 1.525 kejadian bencana alam, yang mayoritas tanah longsor, dan menewaskan 566 orang di seluruh Indonesia.
Selain korban tewas, 2,66 juta jiwa mengungsi dan menderita, lebih dari 51.000 rumah rusak, dan ratusan bangunan umum rusak.
"Kerugian ekonomi mencapai puluhan triliun rupiah, seperti dampak kebakarah hutan dan lahan Rp20 triliun, banjir Jakarta Rp5 triliun, banjir di Pantura Jawa Rp6 triliun, banjir bandang di Sulawesi Utara Rp1,4 triliun, banjir dan longsor di 16 kabupaten/kota di Jawa Tengah Rp2,1 triliun," tulis Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, di laman resmi BNPB seperti dikutip AntaraNews, Jumat (2/1/2015).
Terkait dengan jenis penyebab bencana, 99 persen bencana adalah bencana hidrometeorologi.
Puting beliung adalah jenis bencana yang paling dominan selama 2014 yaitu 496 kejadian, kemudian banjir 458 kali, dan longsor 413 kejadian.
Puting beliung menyebabkan korban jiwa 57 tewas, 10.707 jiwa mengungsi, dan lebih 23 ribu rumah rusak selama 2014.
"Longsor adalah bencana yang paling mematikan selama 2014. Ada 343 orang meninggal dan hilang akibat longsor, atau 60 persen dari dari total korban tewas akibat bencana. Longsor di Banjanegara yang menyebabkan 99 jiwa tewas dan 11 jiwa hilang merupakan bencana dengan korban terbanyak," tambahnya.
Sementara itu konsentrasi bencana terbanyak adalah di Provinsi
Jawa Barat 290 kejadian. Berikutnya Jawa Tengah 272 kali, Jawa Timur 213 kali, Aceh 51 kali, dan Sumatera Selatan 480 kejadian.
Dilihat dari sebaran kabupaten/kota, maka paling banyak ada di Bogor 37 kejadian, Bandung 31, Sukabumi 29, Garut 26 kali, dan Cianjur 23 kejadian.
Jangan lengah soal bencana geologi
Sementara itu, meskipun sepanjang tahun 2014 intensitas bencana geologi hanya sebesar 1 persen dari total jumlah bencana yang melanda Indonesia, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) meminta agar masyarakat tidak menjadi lengah.
"Bencana geologi, khususnya gempa dan tsunami bersifat mendadak. Bisa kapan saja terjadi di daerah rawan," tulis Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, di laman resmi BNPB sebagaimana dikutip AntaraNews, Jumat (2/1/2015).
Ia melanjutkan, sekitar 386 kabupaten/kota dengan jumlah penduduk 157 juta jiwa yang terpapar sedang hingga tinggi dari bahaya gempa di Indonesia.
Bahaya tsunami berpotensi mengancam 233 kabupaten/kota dengan penduduk 5 juta jiwa yang terpapar sedang hingga tinggi.
"Untuk itu jangan lengah, ancaman bisa terjadi kapan saja," tulisnya.
Sementara itu, bahaya geologi berupa erupsi gunung api tercatat ada 5 kali sepanjang tahun 2014.
Erupsi Gunung Sinabung terjadi pada 13 September 2013 hingga sekarang, Gunung Kelud 13 Februari 2014, Gunung Sangeangapi 30 Mei 2014, Gunung Slamet 13 September 2014, dan Gunung Gamalama 18 Desember 2014.
Total 24 orang tewas, 128.167 jiwa mengungsi, dan 17.833 rumah rusak. Bahkan erupsi Gunung Sinabung, saat ini masih menyebabkan 2.443 jiwa (795 KK) mengungsi di 7 titik. Sebanyak 1.212 jiwa (370 KK) harus direlokasi dalam waktu dekat ini.
Erupsi Gunung Kelud adalah yang fenomenal. Material dilontarkan ke angkasa hingga 17 km. Sebanyak 7 orang tewas, sekitar 90 ribu orang mengungsi, dan 17 ribu lebih rumah rusak. Mengingat masyarakat sekitar Gunung Kelud sudah tangguh menghadapi bencana, dan memaknai erupsi sebagai warisan masa depan, maka pemulihan berjalan dengan cepat.
Kejadian gempa merusak ada 11 kejadian yang menyebabkan 248 orang mengungsi dan 662 rumah rusak. Gempabumi terjadi antara lain di Jateng 25 Januari 2014 berakibat di Banyumas, Cilacap, Kebumen, dan Purworejo.
Tsunami ada dua yaitu tsunami dari gempa di Chile 2 April 2014 dan gempa 7,3 SR di Halmahera Utara pada 15 November 2014. Meskipun tsunami kecil, namun ancaman ini juga menjadi pelajaran bagi kita bahwa tingkat kesiapsiagaan masyarakat dan pemda dalam menghadapi tsunami masih rendah.
Selama 2014, kejadian bencana geologi seperti gempabumi, tsunami, dan erupsi gunungapi hanya 1 persen atau 18 kejadian dari total 1.525 kejadian bencana di Indonesia. Sejumlah 99 persen adalah bencana hirometeorologi seperti puting beliung, banjir, longsor, kebakaran hutan dan lahan, dan kekeringan.(Ant/Gs).
Kategori: