Jakarta, 28 September - Sejumlah jamaah haji Indonesia yang berangkat dengan visa dari negara lain sempat bermasalah di Bandara King Abdul Aziz Jeddah. Menteri Agama RI, Lukman Hakim Saifuddin, prihatin melihat modus-modus pemberangkatan jamaah haji nonkuota tersebut.
"Ya, jadi memang ini betul-betul harus menjadi cermatan kita pemerintah, ke depan kita tidak ingin ada jamaah haji kita yang berhaji secara ilegal. Karena itu kita mendalami betul visa-visa nonkuota ini," kata Lukman di sela-sela mengunjungi pemondokan jamaah haji Indonesia di Makkah, Sabtu (27/9/2014).
Kemenag, seperti dilansir laman Tribn News.com, terus berkoordinasi dengan pihak kedubes Arab Saudi di Indonesia agar menginformasikan pemberian visa haji nonkuota ke Kemenag. Memang pemerintah Arab Saudi punya otoritas memberikan undangan, namun Kemenag berharap diinformasikan untuk menghindari jual-beli kuota.
"Jangan sampai visa seperti ini diperjualbelikan pihak yang tidakbertanggungjawab," tutur Menag.
Lukman menyayangkan sejumlah jamaah haji menggunakan visa dari negara lain untuk berhaji. Lukman akan melakukan pengecekan karena jamaah haji yang ingin buru-buru naik haji tak mau mengantre bisa saja menjadi korban penipuan.
"Ini akan jadi sasaran empuk bagi mereka yang memperjualbelikan ini. Bayangkan mereka membayar Rp 80 juta kemudian ditelantarkan. Begitu sampai di Tanah Suci kamar buruk, belum bagaimana di Mina dan lainnya," kata Lukman.
Untuk jamaah haji nonkuota yang sudah terlanjur berada di Tanah Suci, Kemenag tidak akan lepas tangan. "Bagaimanapun juga mereka warga negara Indonesia yang tentu saja saudara kita dan kita tidak bisa lepas tangan," tegasnya.
Jamaah haji nonkuota terus berdatangan ke Tanah Suci. Sebanyak 26 jamaah haji Indonesia yang berhaji di luar jalur resmi Kemenag sempat tertahan di Bandara King Abdul Aziz Jeddah.
Jamaah haji nonkuota tersebut sempat tertahan di Bandara King Abdul Aziz Jeddah sejak pukul 19.00 waktu Arab Saudi, Kamis (25/9).
Namun para jamaah yang membayar mahal tanpa jaminan akomodasi dan kesehatan itu akhirnya diberangkatkan ke Makkah lima jam kemudian bersama 15 jamaah lain yang mendapat visa haji dari Thailand.
190 Jamaah Haji Bakal Disafariwukufkan
Sementara itu, Kepala Bidang Kesehatan Haji Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Indonesia di Arab Saudi, DR dr Fidiansjah Sp.KJ, memperkirakan jumlah jamaah yang akan disafariwukufkan di Arafah sekitar 200 jamaah.
Hingga Sabtu (27/9/2014) siang waktu Arab Saudi (WAS), jumlah jamaah haji yang sudah tercatat bakal disafariwukufkan sebanyak 190 jamaah.
"Saat ini tercatat 190 orang, namun mungkin bertambah 10 persen dari jumlah saat ini, atau plus minus 200 orang jamaah hingga H-1 Wukuf (2 Oktober 2014, red)," papar Fidiansjah, saat dihubungi tim Media Center Haji (MCH) Jeddah, Sabtu (27/9/2014).
Rincian 190 orang jamaah haji yang disafariwukufkan, adalah sebanyak 40 jamaah akan berbaring dan 150 jamaah akan duduk di dalam kendaraan selama safari wukuf berlangsung.
Untuk 40 jamaah yang berbaring dibutuhkan lima bus atau berkapasitas delapan orang untuk satu unit bus. Sedangkan 150 jamaah yang duduk membutuhkan enam bus atau 25 orang per satu unit bus. Jumlah total bus adalah 11 unit bus.
"Jumlah (jamaah haji yang disafariwukufkan) ini bisa bertambah kalau ada pendaftaran baru, sehingga jumlah bus pun bisa ditambah (lagi)," papar Fidiansjah. Semua jamaah yang akan disafariwukufkan wajib menggunakan bus. Kebijakan ini diberlakukan Rumah Sakit Arab Saudi sejak tahun lalu.
Sebelumnya, jamaah yang disafariwukufkan diberangkatkan dengan mobil ambulans yang berkapasitas 3-4 orang jamaah. Mobil ambulans tak digunakan lagi karena untuk menghindari kemacetan parah di jalur menuju Padang Arafah.
"Kalau (diantar) dengan (mobil) ambulans, akan terjadi antrean kemacetan yang panjang," jelasnya.
Bus-bus untuk safari wukuf jamaah sakit tersebut tidak didesain khusus dengan menempatkan sarana prasarana lengkap kesehatan di dalam bus.
Sebab, RS Arab Saudi menilai bahwa jamaah yang disafariwukufkan ini merupakan jamaah haji mandiri atau mampu beribadah meski memiliki keterbatasan dibanding jamaah yang sehat.
Meski demikian, paramedis dan dokter BPHI akan memasang oksigen maupun infus di tiang yang ada di dalam bus. "Oksigen kita ikat di tiang, begitu juga infus. Tapi,tidak ada peralatan spesifik, sebab pelaksanaan safariwukuf hanya beberapa jam," terangnya.
Batas akhir pendaftaran resmi jamaah yang akan disafariwukufkan adalah tanggal 29 September 2014. Namun, Balai Pengobatan Haji Indonesia (BPHI) dan RS Arab Saudi tetap akan menerima jamaah yang disafariwukufkan hingga H-1 pelaksanaan Wukuf di Arafah.
Sebagai perbandingan, pada tahun 2013, jumlah jamaah haji Indonesia yang disafariwukufkan mencapai 185 jamaah. Sementara di tahun 2012, sebanyak 250-an jamah haji sakit disafariwukufkan di Arafah.
Mengenai simulasi pemberangkatan jamaah haji yang disafariwukufkan, dilakukan secara bertahap. Tahap pertama, semua jamaah dimasukkan ke dalam bus mulai pukul 01.00 dini hari WAS Jumat (3/10). Jamaah yang sakit dari bangsal RS Arab Saudi akan dinaikkan ke dalam bus menggunakan forklift atay alat angkut. Bagi jamaah yang bisa berdiri, naik ke bus lewat pintu depan.
Tahapan pemindahan 190-200 orang jamaah ini diperkirakan selesai pada pukul 09.00-10.00 WAS, Jumat (3/10). Semua jamaah sudah mengenakan kain ihram dan niat berhaji. "Proses memindahkan ratusan jamaah sakit ini memang lama dan butuh kesabaran," tuturnya.
Tahap kedua, lanjut Fidiansjah, 190 atau 200 orang jamaah tersebut diberangkatkan ke Padang Arafah mulai pukul 11.00 WAS. Pada saat itu, jalanan menuju Arafah diperkirakan sudah lengang karena jutaan jamaah haji seluruh dunia sudah berkumpul di Padang Arafah.
Semua bus pengantar jamaah haji yang disafariwukufkan diperkirakan tiba pukul 12.00 WAS di Padang Arafah.
Selanjutnya, karena hari Jumat, jamaah akan Shalat Jumat dan mendengarkan Khutbah Wukuf. Usai mendengarkan Khutbah Wukuf, jamaah sakit ini dianjurkan memperbanyak doa dan berdzikir.
Sekitar pukul 14.00 WAS atau dua siang, semua jamaah yang disafariwukufkan ini dikembalikan ke RS Arab Saudi atau Klinik Kesehatan BPHI di Makkah.
"Tidak lama-lama di Arafah, selama rukun haji sudah terpenuhi. Jamaah sakit ini kita kembalikan ke bangsal-bangsal RS. Kalau kondisinya membaik, bisa kita kembalikan ke BPHI Satelit di Sektor D, G dan H. Selanjutnya, setelah tiga hari di Mina, jamaah sakit ini akan kita serahkan ke kloter masing-masing," kata Fidiansjah.(Tn/Gs).
Kategori: