Error message

Deprecated function: The each() function is deprecated. This message will be suppressed on further calls in menu_set_active_trail() (line 2394 of /var/www/arsip.kemenkopmk.go.id/includes/menu.inc).
Oleh humaspmk on December 01, 2014

Jakarta, 1 Desember  - Kompleksitas pendidikan di tanah air merupakan suatu tantangan yang harus dihadapi pemerintah dan semua elemen masyarakat. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan mengakui gentingnya pendidikan di Indonesia.

Gawat daruratnya pendidikan di Indonesia seperti dilansir laamn Tribunnews, meliputi berbagai aspek. Nilai rata-rata guru yang belum maksimal, kinerja rendah, mutu pendidikan, Program Internatioanl Study Assessment (PISA), persoalan kekerasan serta minat baca yang rendah.

"Berita buruknya, 75 persen sekolah Indonesia memiliki standar minimal pendidikan tidak layak," kata Anies, dalam pidato di hadapan Kepala Dinas se-Indonesia, Kantor Kemendikbud, Jakarta, Senin (1/12/2014).

Pertemuan ini juga dihadiri oleh eselon I dan II Kemendikbud. Menteri Anies sengaja mengadakan silaturahmi Kemendikbud dengan 650 kepala dinas seluruh Indonesia untuk menjelaslan potret pendidikan tanah air.

"Mereka yang kumpul disini adalah orang-orang yang persiapkan masa depan yang menyangkut soal pendidikan," ujar Mendikbud, dalam pidatonya di hadapan Kepala Dinas,.

Mendikbud menjelaskan materi tentang kualitas pendidikan di Indonesia. Ia berharap dengan adanya peningkatan kualitas, pendidikan Indonesia akan bisa bersaing dengan negara-negara lain.

"Saya ingin berbagi beberapa program. Pendidikan kita, secara garis besar arahnya kemana, serta bagaimana kita bisa merubah, memperbaiki dan meningkatkan kualitas pendidikan indonesia," katanya.

Mantan Rektor Universitas Paramadina ini menuturkan problem pendidikan ini tidak hanya berjalan saat ini. Menurutnya pendidikan Indonesia telah terhenti mulai dari 2000-2012.

"Ini potret dunia pendidikan 12 tahun yang stagnan. Kita harus bertarung dengan dunia luar dan ini menjadi tanggung jawab kita bersama," tegas penggagas program Indonesia Mengajar itu.

Rentannya dunia pendidikan Indonesia terhadap masalah yang begitu beragam diharapkan adanya suatu sinergi antara pemerintah dan semua elemen. Menteri Anies menyebut penentuan Indonesia masa depan ditentukan langkah besar dalam mengubah dunia pendidikan masa kini.

"Jangan ini menjadi penyesalan bagi anak cucu kita karena ini juga salah kita," jelas Mendikbud.

Cucu dari pejuang kemerdekaan Abdurrahman Baswedan ini meminta tenaga pendidik tidak melempar kesalahan baik antara pusat maupun daerah. Mendikbud menganggap semua elemen harus turun tangan untuk membenahi dan bekerja untuk mewujudkan pendidikan yang lebih baik.(Tn/Gs).

 

 

 

Kategori: