Ungaran, Semarang (22/02)--- Sebagai aset nasional yang bernilai ekonomi dan sosial budaya yang tinggi, jamu telah ada di Indonesia sejak 1.300 tahun yang lalu. Khasiat jamu telah teruji secara empiris pada manusia selama ratusan tahun sebagai obat tradisional, dan saat ini berbagai jenis jamu juga telah teruji secara klinis.Keragaman jamu di tanah air juga telah memperkaya khazanah ilmu pengetahuan dan kesehatan bangsa Indonesia. Oleh karena itu, para stakeholder, perlu mengembangkan jamu, selain sebagai komoditi kesehatan juga merupakan komoditi ekonomi unggulan yang dapat ikut membangun kemandirian. Berdasarkan data Badan POM di tahun 2018, terdapat 795 produsen Obat Tradisional/Jamu yang terdiri atas 101 Industri Obat Tradisional (IOT) dan 694 UMKM Jamu yang tersebar di wilayah Indonesia terutama di Pulau Jawa.
“Penguatan industri obat tradisional perlu disertai dengan pengembangan dan pemanfaatan hasil penelitian Obat Tradisional menjadi produk Fitofarmaka, yang melibatkan Akademisi, Kementerian dan Lembaga Terkait, Industri Farmasi dan Organisasi Profesi,” kata Menko PMK, Puan Maharani, dalam kunjungan kerjanya bersama BPOM RI di PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul, Bergas, Ungaran, Kab Semarang, Jawa Tengah, Jumat siang. “Saya selalu datang ke acara berthema jamu karena itu jadi kebanggaan bagi saya bahwa kekayaan Indonesia akan jamu itu perlu terus didukung. Inilah sebenarnya kekayaan Indonesia yang negara lain tidak punya,” tambahnya.
Pada kesempatan ini, Menko PMK mengajak semua pihak untuk terus mendukung pengembangan produksi obat herbal yang sudah dilengkapi dokumen pendukung soal efektivitas dan keamanannya (fitofarmaka) di tanah air.”Saya mengundang seluruh pemangku kepentingan industri jamu untuk bergotong-royong membangun industri jamu sebagai aset nasional yang bernilai budaya dan ekonomi sehingga dapat bersaing dalam pasar global. Kita harus terus mengembangkan potensi-potensi ekonomi berbasis budaya sebagai upaya untuk membangun kemandirian ekonomi bangsa,” kata Menko PMK lagi. Ajakan minum jamu juga disuarakan Menko PMK kepada kaum milenial. “Minum jamu itu baik untuk kesehatan, apalagi sekarang dipeemudah dengan adanya soft capsule, jadi bisa siap minum. Jamu itu menyehatkan, badan jadi segar dan bugar.”
Menko PMK dalam kunjungan kerjanya kali ini berkenan memberikan sertifikat izin edar soft kapsul merek ‘Tolak Angin’ dan ‘Tolak Linu’ Sido Muncul. Selain itu, Menko PMK menyampaikan bantuan sosial secara simbolis untuk masyarakat di Kab Semarang antara lain PKH sebanyak 29.004 Keluarga Penerima Manfaat (KPM); BPNT ; KIS; KIP; dan PMT untuk Balita dan Ibu Hamil masing-masing 500 kg. Acara ini dihadiri oleh sekitar 1.500 peserta yang terdiri atas karyawan, anak asuh, dan warga sekitar PT Sido Muncul; siswa sekolah penerima manfaat KIP; masyarakat penerima manfaat KIS, PKH, dan BPNT. Acara turut dihadiri oleh Kepala BPOM RI; Anggota DPR RI; Bupati Kab Semarang; Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah; Dirut dan Jajaran Direksi PT Sido Muncul; dan jajaran K/L terkait lainnya. (*)
Foto : Kristian
Reporter : Siti Badriah
Kategori: