Error message

Deprecated function: The each() function is deprecated. This message will be suppressed on further calls in menu_set_active_trail() (line 2394 of /var/www/arsip.kemenkopmk.go.id/includes/menu.inc).
Oleh humaspmk on November 20, 2014

Jakarta, 20 Nopember  - Menteri Kesehatan RI, Prof. Dr. dr. Nila Farid Moeloek, Sp.M (K), membuka secara resmi Pameran Pembangunan Kesehatan di Silang Monas Jakarta, Jumat pagi (14/11/2014), pekan lalu.

Pameran pembangunan kesehatan yang terbuka bagi masyarakat dan digelar selama tiga hari 14-16 November itu, merupakan salah satu rangkaian kegiatan yang diselenggarakan dalam rangka Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke- 50.

Pameran seperti dilansir laman Antaranews.com., bertujuan untuk menyampaikan pengetahuan, informasi dan edukasi berupa kebijakan kesehatan, produk dan komoditi kesehatan, hasil serta keberhasilan pembangunan kesehatan kepada masyarakat.

"Banyaknya  pihak yang berpartisipasi dalam penyelenggaraan pameran ini, mulai dari dari pihak pemerintah, dunia usaha, organisasi masyarakat, akademisi, sampai ke penggiat dunia maya, menunjukan komitmen yang kuat, semangat, serta dukungan dari seluruh elemen bangsa terhadap pembangunan kesehatan di Indonesia," ujar Menkes.

Selain diisi stan-stan akademisi, swasta, pemerintah daerah serta organisasi dan elemen masyarakat lain yang peduli akan dunia kesehatan, kegiatan pameran juga diisi dengan acara donor darah, hiburan, serta aksi pengabdian masyarakat dengan memberikan pemeriksaan kesehatan dan konseling gratis.

Masyarakat pun menyambut antusias pameran dan pemeriksaan kesehatan gratis itu. Melalui kegiatan tersebut, diharapkan dapat menambah pengetahuan masyarakat tentang kesehatan dan penyakit baik pencegahan maupun pengobatannya.

Aksi Pengabdian Masyarakat dibuka oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan RI, dr. Untung Suseno Sutarjo, M.Kes. Dalam kegiatan tersebut, berbagai unit kerja di Kementerian Kesehatan RI, Organisasi Profesi, Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, serta Puskesmas di Wilayah DKI Jakarta, memberikan pelayanan bagi masyarakat, di antaranya:

1. Pemeriksaan gerak dan fungsi tubuh;

2. Pemeriksaan dan pelayanan refraksi optis (kesehatan mata);

3. Deteksi dini penyakit tidak menular (PTM), seperti pemeriksaan gula darah, kolesterol, tekanan darah, berat dan tinggi ideal (BB/TB), identifikasi kanker payudara melalui metode periksa payudara sendiri (SADARI); clinical breast examination, dan identifikasi kanker servix melalui metode papsmear dan IVA test.

4. Deteksi tingkat kecemasan dan stres agar masyarakat mampu mengenai status mental emosional melalui metode self report questioner (SQR).

5. Bakti bidan dalam pelayanan Kesehatan Ibu Hamil Komprehensif, seperti pemeriksaan kesehatan ibu hamil; konseling KB, kuesioner kesehatan jiwa dan brain booster.

6. Konseling dan tes sukarela HIV-AIDS, serta narkoba, psikotropika, dan zat adiktif (NAPZA). Selain itu, juga terdapat konseling berhenti merokok dan alkohol.

Indonesia di posisi kedua dunia soal BAB sembarangan

Sementara itu, hasil riset gabungan antara UNICEF dan WHO, Joint Monitoring Program 2014, sebanyak 55 juta orang di Indonesia melakukan Buang Air Besar Sembarangan (BABS) dan menempatkan Indonesia di posisi kedua tertinggi dunia setelah India.

Secara global, sebanyak 1,9 miliar orang telah memiliki akses terhadap sanitas baik sejak 1990. Namun, perkembangannya tidak sejalan dengan pertumbuhan populasi.

Sebanyak 82 persen dari satu miliar orang yang melakukan BABS ada di sepuluh negara, yakni India, Indonesia, Pakistan, Nigeria, Ethiopia, Sudan, Nigeria, Nepal, China, dan Mozambik.

"Memang jika dibandingkan antara pedesaan dan perkotaan, kondisi di pedesaan lebih parah," kata Lilik Trimaya, Program WASH UNICEF Indonesia.

"Di pedesaan di sekitar NTT masih cukup parah, lalu di kota besar seperti di Jakarta," katanya. "Kita lihat saja di bantaran sungai Cilwung dan sekitar Jakarta Utara juga masih parah."

Terlebih lagi kata Lilik masih banyak masyarakat Indonesia yang menganggap BABS merupakan budaya Indonesia untuk melestarikan lingkungan.

"Kami menemukan fakta cukup mencengangkan karena sebagian masyarakat Indonesia beranggapan BABS untuk melestarikan lingkungan," katanya lagi. "Sebagian masyarakat pun masih melihat sanitasi itu kurang penting."

"Itu juga diperparah dengan ketersedian air di beberapa tempat di Nusantara yang sulit," katanya lagi.

Ia menambahkan. "Atau masyarakat di sekitar sungai dan pantai yang memiliki banyak air, yang berpikir 'langsung saja BAB di sungai nanti juga hilang.'"

Akibat dari BABS ini, menurut WHO, yakni sebanyak 88 persen angka kematian anak akibat diare karena kesulitan mengakses air bersih dan keterbatasan sistem sanitasi.

Selain itu, memperbesar resiko terganggunya pertumbuhan fisik anak sehingga tidak optimal pada usianya.

"Kampanye ini tidak bisa selesai dengan hanya membuat toilet. Karena butuh keinginan dan kesadaran dari masyarakat. Di beberapa tempat kami bangun toilet, belum tentu mereka mau memakainya. Maka dari itu, kami ingin memulai dengan menumbuhkan kesadaran masyarakat."(Ant/Gs).