Jakarta (26/11)--- Kerja Kemenko PMK mulai periode 2019 hingga 2024 ini ditargetkan akan terus berkutat pada upaya pengentasan kemiskinan, meningkatnya Indeks Pembangunan Manusia (IPM), dan menurunkan kesenjangan di tengah masyarakat. Ketiga target penting itu akan diraih tentu dimulai dengan memperkuat upaya membangun Manusia Indonesia yang maju serta generasi Indonesia yang unggul dan berdaya saing tinggi di masa mendatang.
“Jika ingin memulainya dari hulu, tentu dengan memperkuat rumah tangga Indonesia dulu. Pasangan yang akan menikah itu Kita pastikan siap yang tidak hanya mental tetapi juga spiritual dan finansial. Kita juga tidak mau ada keluarga baru yang miskin sementara Pemerintah terus berusaha menanggulangi kemiskinan,” papar Menko PMK, Muhadjir Effendy saat melakukan media visit ke Kantor Redaksi Surya Citra Media (SCM) Grup di Kawasan Senayan, Jakarta, Selasa siang hingga sore.
Kunjungan kali ini, Menko PMK kembali menegaskan bahwa wacana sertifikasi pembekalan kepada para calon pengantin yang menurutnya harus dipahami dulu dengan baik, sedangkan bagaimana materi, teknis, konsep, dan Leading Sector hingga kini masih terus dikaji. Pada pembekalan pranikah, tambah Menko PMK, setiap pasangan akan diberikan assessment oleh Tim Assessor yang direncanakan beranggotakan K/L terkait, seperti BKKBN, Kemenkes, Kemen PPPA, Kemenkop UMKM, Kemenag, dan sebagainya.
“Tidak ada ujian untuk sertifikasi itu, justru para pasangan itu nantinya akan banyak diberikan pencerahan. Bagaimana nanti setelah diberikan pencerahan, Kita serahkan kepada calon pengantin. Kalau mereka sudah siap mental, spiritual dan finansial, tentu lebih baik,” katanya lagi. “Sambil memberikan pembekalan, Tim Assesor nantinya akan memetakan masalah sebenarnya dari membangun keluarga Indonesia. Tentu ini akan jadi pekerjaan besar karena menikah pada dasarnya tidak cukup hanya rasa cinta tetapi bagaimana kelanjutannya terutama setelah calon generasi bangsa lahir.”
Adapun pencerahan yang dimaksud antara lain disebutkan Menko PMK yaitu tentang kesehatan, pola asuh, pendidikan, bahkan tentang ekonomi keluarga. “Kita juga ingin keluarga baru Indonesia adalah mereka yang membangunnya dengan prinsip pembelajaran,” ujarnya. Untuk masalah stunting, Dia meminta agar keluarga Indonesia tidak selalu mengaitkannya dengan masalah gizi buruk tetapi bagaimana membina para remaja putri sebagai calon ibu generasi Indonesia memulai gaya hidup sehat. “Karena lebih baik mencegah daripada menangani peristiwanya setelah parah. Ongkos perbaikannya tentu akan sangat besar,” tambah Menko PMK. *
Kategori:
