Jakarta (9/9) -- Deputi Bidang Koordinasi Kebudayaan Kemenko PMK, Nyoman Shuida menutup secara resmi Pelatihan Kewirausahaan Sosial Wirabangsa Batch I Tahun 2019 di ruang rapat utama Kemenko PMK, Jakarta pada Senin siang (9/9). Hadir juga dalam acara tersebut Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Nasional Revolusi Mental Arif Budimanta, Anggota Pokja Nasional Revolusi Mental Tri Mumpuni, dan Pendiri IBEKA Iskandar.
Pelatihan Kewirausahaan Sosial Wirabangsa 2019 merupakan Kerja sama Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) dengan Inisiatif Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan (IBEKA). Pelatihan ini bertujuan untuk mengarahkan pola pikir pemuda-pemudi untuk menjadi wirausahawan sosial yang berkesadaran jiwa. Pelatihan yang berlangsung selamat 21 hari ini juga menjadi wadah untuk saling berjejaring, berdiskusi, dan berkolaborasi mewujudkan aksi nyata para Wirabangsa. Kegiatan ini mulai dilaksanakan pada tanggal 18 Agustus dan berakhir pada 8 September 2019.
"Dari beberapa kesan dan pesan yang tadi saya dengar, saya menangkap bahwa memang Pelatihan Wirabangsa bukan Pelatihan yang biasa-biasa saja. Pelatihan ini di desain IBEKA dengan kurikulum dan metode yang menyesuaikan kebutuhan bangsa serta menyesuaikan kondisi perkembangan jaman, " Kata Shuida mengawali sambutannya.
Menurut Shuida, pada awalnya kegiatan ini dilaksanakan selama 10 hari namun karen kegiatan ini sangat bermanfaat bagi putra-putri terbaik bangsa, maka pelatihan ini didesain selama 21 hari. Kedepan, pelatihan ini akan terus dikembangkan dengan tematik yang berbeda. Semisal pelatihan berbasis energi, berbasis lingkungan hidup atau yang berbasis lainnya. Shuida juga berharap agar IBEKA menyusun kurikulum pelatihan yang lebih efektif dan aflikatif. Namun yang lebih penting adalah kurikulum yang menempatkan bangsa ini sebagai prioritas utama dalam melaksanakan aktifitas sehari-hari.
Diakhir sambutannya, Shuida berpesan kepada para peserta Pelatihan Wirabangsa agar meneruskan atau mengamalkan ilmu atau pengetahuan yang didapat dalam pelatihannya. Jadilah seorang infektor yang menginfeksi orang-orang disekitarnya untuk berbuat lebih baik lagi bagi bangsa ini. "Kami akan tetap memantau kawan-kawan sekalian. Kami akan melihat dan memastikan bahwa semangat Wirabangsa akan sampai di daerahnya masing-masing, "ujarnya.
Sementara, Arif Budimanta dalam arahannya menyampaikan kisah tentang sesorang yang menjadi inspirasi bagi banyak orang yang bernama Kasim Arifin. Kepeloporan Kasim, kata Arif, dimulai saat tugas Pengerahan Tenaga Mahasiswa atau istilahnya saat ini Kuliah Kerja Nyata yang menjadi tugas wajib bagi mahasiswa tingkat akhir sebelum skripsi.
"Waktu itu Kasim ditempatkan disebuah desa di Seram, Maluku yang bernama Desa Waimital. Pengabdian Kasim tidak sebulan atau tiga bulan tetapi selamat 15 tahun. Hal inilah yg membuat sosok Kasim menjadi istimewa. Selama 15 tahun, setiap hari Kasim berjalan sejauh 20 kilometer hanya untuk memberikan ilmunya kepada para petani, " tutur Arif.
Menurut Arif, sosok Kasim menolong masyarakat agar mandiri. Tidak ada imbalan sedikit pun atas pengabdiannya, apalagi perasaan untuk dihargai atau dihormati. Bagi Kasim kesejahteraan petani dan kebahagian keluarga petani adalah tujuannya. "Sosok inilah Wirabangsa sejati, pahlawan dan pejuang sesungguhnya, "katanya.
Kategori:
