Jakarta, 7 Agustus - Pemanasan global telah berlangsung sangat lama sehingga kebanyakan orang bahkan tidak dilahirkan saat suhu Bumi lebih dingin dibandingkan suhu rata-rata pada 1985, kondisi yang mengubah pendapat mengenai iklim "normal", kata beberapa ilmuwan.
Beberapa dasawarsa perubahan iklim membawa resiko bahwa orang akan menerima temperatur yang lebih tinggi, serta gelombang panas lebih kuat, hujan lebih lebat dan kemarau lebih lama, sementara pemerintah yang normal berencana berbuat lebih banyak untuk mengurangi buangan gas rumah kaca.
"Karena tiga dasawarsa belakangan telah menyaksikan kenaikan mencolok dalam temperatur regional dan global, kebanyakan orang yang berusia di bawah 30 tahun tidak hidup di dunia tanpa pemanasan global," kata Michel Jarraud, Sekretaris Jenderal Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) PBB.
"Dalam skala waktu manusia, perubahan pada iklim kita dapat terlihat bertahap, jadi kita akan terus perlu mengingkatkan masyarakat mengenai betapa cepat dan tak pernah terjadi sebelumnya sesungguhnya perubahan ini," kata Jarraud kepada Reuters --yang dipantau Antara di Jakarta, Rabu (6/8/2014) malam.
Februari 1985 adalah bulan terakhir ketika temperatur global berada di bawah temperatur rata-rata Abad 20, kata US National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), satu sumber utama data temperatur global.
Sementara itu, usia menengah yang diperkirakan pada penduduk dunia pada 2014 ialah 29,4 tahun, yang berarti separuh lebih tua dan separuh lebih muda, kata Francois Pelletier dari Divisi Kependudukan PBB kepada Reuters.
Jika digabungkan, tolok ukur NOAA dan PBB berarti 7,2 miliar warga dunia telah bergeser dalam beberapa pekan belakangan untuk pertama kali ke mayoritas orang yang dilahirkan sejak bulan sejuk terakhir.
"Orang harus membiasakan diri dengan perubahan iklim yang terus-menerus," kata Thomas Peterson, ilmuwan utama di National Climatic Data Center di NOAA dan Presiden Komisi bagi Klimatologi di WMO.
Beberapa lagi lembaga cuaca, yang menggunakan dasar dan metode berbeda, memperkirakan tanggal yang belakangan bagi kebanyakan bulan sejuk baru-baru ini dibandingkan yang digunakan NOAA. WMO, yang mengumpulkan data tahunan, mengatakan 1985 adalah tahun terakhir temperatur lebih-dingin-dari-rata-rata.
Kebanyakan temperatur rata-rata global berlalu tanpa perhatian sebab orang mengalami cuaca dan iklim secara lokal --musim dingin terakhir sangat dingin di beberapa bagian Amerika Utara, misalnya. Namun kecenderungan pemanasan secara keseluruh jelas.
Peter Thorne, peneliti cuaca di Nansen Environmental and Remote Sensing Center di Bergen, Norwegia Barat, mengatakan orang lebih mungkin untuk mengingat peristiwa cuaca ekstrem dibandingkan memperhatikan sedikit kenaikan temperatur.
"Gelombang panas, kemarau dan banjir parah lebih mungkin untuk memicu kaitan dengan perubahan iklim," katanya. Dan cuaca yang lebih ekstrem pada gilirannya dapat mendesak pemerintah agar bertindak.
Hampir 200 pemerintah telah sepakat untuk merancang kesepakatan guna memperlambat pemanasan global dalam satu pertemuan puncak di Paris pada penghujung 2015, terutama dengan mengurangi buangan gas rumah kaca dari mobil, instalasi listrik dan pabrik.
El Nino bergeser di Riau
Sementara itu, Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan menyatakan fenomena El Nino di Riau telah bergeser dari perkiraan bulan Agustus dan September, menjadi empat bulan terakhir pada tahun 2014, sehingga provinsi tersebut perlu mewaspadai ancaman kebakaran hutan dan lahan.
"Ini titik api atau hot spot dari mulai 20 Juni, mulai meningkat kemudian 20 Juli. Tapi di titik api tersebut, curah hujan sedikit. BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika) sebutkan, mudah-mudahan dalam pekan ini masih ada curah hujan," katanya di Pekanbaru, Rabu (6/8/2014).
Dia menjelaskan, berdasarkan perkiraan BMKG saat ini untuk wilayah udara Indonesia bagian barat khususnya di Provinsi Riau fenomena alam yang bernama El Nino akan terjadi pada bulan September, Oktober, November dan Desember tahun 2014.
El Nino merupakan fenomena kenaikan suhu perairan permukaan laut khususnya di Samudra Pasifik. Kenaikan suhu air laut itu, dapat memengaruhi terjadinya persebaran dalam pembentukan awan hujan.
Sementara dalam konteks negara kepulaun seperti Indonesia sendiri, El Nino akan semakin menghambat pertumbuhan atau pembetukan awan hujan di wilayah barat dan memicu terjadinya potensi kekeringan.
"Memang sekarang belum. Namun kita akan segera menghadapi puncak-puncak musim kemarau kering akibat dari El Nino atau masih ada waktu bagi kita dalam menghadapinya. Agustus ini ramalan cuacanya masih teduh dan kemungkinan besar ada curah hujan, tapi jangan itu membuat kita lengah," katanya.
Musim kemarau yang terjadi pada awal 2014 telah menyebabkan kebakaran lahan dan hutan di Riau. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana menyebut kebakaran telah menghanguskan sekitar 2.398 ha lahan termasuk yang berada di cagar biosfer 21.914 ha.
Asap dengan sumber dari kebakaran cagar biosfer telah menyelimuti wilayah udara di Kota Pekanbaru, sehingga melumpuhkan aktivitas Bandara Internasional Sultan Syarif Kasim II dan tercatat api membakar kawasan cagar biosfer cukup sulit dipadamkan.
Sebelumnya atas inisiatif perusahaan raksasa Sinar Mas Group, kawasan konservasi alam Giam Siak Kecil-Bukit Batu ditetapkan menjadi cagar biosfer oleh UNESCO pada 2009 dan tecatat Asia Pulp and Paper mendukung penuh reservasi di kawasan seluas 178.000 ha tersebut.
Pada bulan Juni 2014, BMKG Stasiun Pekanbaru memperkirakan dengan mengingatkan bahwa potensi bahaya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Riau akan terjadi pada bulan Agustus sampai September 2014
"Kita prediksi dari kondisi cuaca dan puncak keringnya itu terjadi di bulan Agustus sampai September tahun ini," ujar Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Pekanbaru, Slamet Riyadi.(Reuters/Ant/Gs).